Oct 16, 2026
Politik

BNPB Tegaskan Penanganan Darurat Bencana Sesuai Standar Operasional

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa seluruh rangkaian penanganan darurat bencana di Indonesia dilaksanakan berdasarkan standar operasional prosedur yang ditetapkan dalam pera...

BNPB Tegaskan Penanganan Darurat Bencana Sesuai Standar Operasional

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa seluruh rangkaian penanganan darurat bencana di Indonesia dilaksanakan berdasarkan standar operasional prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Penegasan tersebut disampaikan menyusul dinamika penanganan sejumlah kejadian bencana yang memerlukan koordinasi lintas lembaga, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa pihaknya terus mengoptimalkan fungsi pengelolaan data serta penyebaran informasi kebencanaan kepada masyarakat. Menurutnya, akurasi data menjadi fondasi utama dalam setiap pengambilan keputusan, khususnya pada fase tanggap darurat ketika waktu menjadi faktor yang sangat menentukan.

"Setiap laporan yang kami terima diverifikasi melalui koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah di wilayah terdampak, sehingga informasi yang disampaikan kepada publik dapat dipertanggungjawabkan," tegas Berton dalam keterangan resminya.

Sinkronisasi Data Antar Lembaga

Berton menjelaskan bahwa BNPB menerapkan mekanisme verifikasi berlapis dalam pengelolaan data kebencanaan. Proses tersebut melibatkan pemerintah daerah, instansi teknis terkait, serta perangkat kewilayahan di tingkat desa dan kelurahan. Tujuannya tidak lain agar angka korban, jumlah pengungsi, serta luasan wilayah terdampak dapat disajikan secara konsisten dan mutakhir.

Ia menambahkan, sinkronisasi data antar lembaga menjadi prasyarat penting dalam menyusun laporan harian yang menjadi rujukan Presiden dan jajaran kabinet. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, laporan tersebut harus disampaikan secara berkala dengan tingkat ketelitian yang tinggi, terutama pada periode kritis pasca terjadinya bencana.

Dalam Rapat Koordinasi yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga, BNPB menekankan pentingnya satu pintu informasi kebencanaan. Kebijakan tersebut diambil agar tidak terjadi simpang siur data yang berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Dengan demikian, publik memperoleh gambaran yang utuh mengenai situasi di lapangan sekaligus langkah penanganan yang sedang dijalankan.

Peran Media dan Kanal Informasi Resmi

Berton juga menyoroti peran media massa serta kanal informasi resmi dalam menyebarluaskan perkembangan penanganan bencana. Menurutnya, penyebaran informasi yang cepat namun tetap terverifikasi mampu meredam beredarnya kabar keliru yang kerap muncul bersamaan dengan peristiwa bencana. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk merujuk pada sumber-sumber resmi yang dikelola pemerintah.

Selain itu, BNPB mendorong pemerintah daerah memperkuat kapasitas pusat pengendalian operasi di masing-masing wilayah. Penguatan tersebut mencakup penyediaan sumber daya manusia terlatih, perangkat komunikasi, serta sistem pencatatan data yang terintegrasi. Langkah ini dinilai sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

"Kesiapan daerah menentukan kecepatan respons. Karena itu, pembinaan kapasitas tidak boleh berhenti hanya pada tataran seremonial, melainkan harus diuji melalui simulasi dan gladi lapangan secara berkala," ujar Berton.

Ia menambahkan bahwa transparansi informasi merupakan bagian tak terpisahkan dari akuntabilitas penanganan bencana. Data yang disajikan kepada publik, lanjutnya, harus dapat ditelusuri asal-usulnya serta diperbarui sesuai perkembangan terkini di lokasi kejadian.

Komitmen Layanan Informasi Kebencanaan

Pada bagian lain, Berton menegaskan komitmen BNPB dalam memberikan layanan informasi kebencanaan selama dua puluh empat jam penuh, khususnya ketika status darurat ditetapkan. Layanan tersebut mencakup penyampaian peringatan dini, imbauan evakuasi, hingga pemutakhiran jumlah pengungsi dan kebutuhan logistik di titik-titik penampungan.

BNPB mencatat bahwa efektivitas komunikasi risiko sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat terhadap sumber informasi. Oleh sebab itu, pengelolaan kanal resmi terus dievaluasi, termasuk pemanfaatan media digital yang jangkauannya dinilai semakin luas di berbagai lapisan masyarakat.

Di akhir keterangannya, Berton mengimbau seluruh elemen, baik pemerintah daerah, lembaga swasta, organisasi masyarakat, maupun warga, untuk memperkuat kolaborasi dalam setiap tahapan penanggulangan bencana. Menurutnya, penanganan bencana merupakan tanggung jawab bersama yang pelaksanaannya diatur secara jelas dalam kerangka regulasi nasional.

"Sinergi lintas sektor adalah kunci. Kami mengajak semua pihak mengedepankan kepentingan masyarakat terdampak di atas kepentingan lainnya," pungkas Berton.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User