KULON PROGO — Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menetapkan atraksi penyalaan 7.500 obor sebagai simbol utama pengobar semangat pembangunan dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-75 daerah tersebut. Penetapan itu ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Panitia Peringatan Hari Jadi yang digelar di kompleks pemerintah kabupaten setempat, dengan melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah, instansi vertikal, serta unsur forum komunikasi pimpinan daerah.
Menurut keterangan resmi yang disampaikan kepada pers, jumlah obor yang dinyalakan secara serentak itu bukan sekadar angka seremonial, melainkan representasi dari 12 kapanewon yang tersebar di wilayah Kulon Progo. Setiap kapanewon disebutkan mengirimkan perwakilan peserta, sehingga total keseluruhan mencapai 7.500 obor yang akan dinyalakan pada puncak acara.
"Atraksi menyalakan 7.500 obor ini kami tetapkan sebagai simbol utama untuk mengobarkan semangat pembangunan. Ini bukan hanya seremonial, tetapi pesan bahwa seluruh elemen masyarakat bergerak bersama," demikian pernyataan yang disampaikan dalam forum koordinasi tersebut.
Berdasarkan keputusan panitia, puncak peringatan Hari Jadi ke-75 dijadwalkan berlangsung dengan rangkaian kegiatan yang telah disahkan dalam rapat pleno. Selain penyalaan obor, agenda meliputi kirab budaya, pameran produk unggulan daerah, serta penyerahan penghargaan kepada sejumlah pihak yang dinilai berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
Makna Simbolis dan Pesan Pembangunan
Pemerintah kabupaten menyatakan bahwa pemilihan obor sebagai ikon peringatan kali ini mengandung makna simbolis yang kuat. Obor dipandang merepresentasikan cahaya, energi, dan arah yang terus menyala dalam upaya menuntaskan berbagai program pembangunan yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah.
Dalam forum tersebut, ditegaskan bahwa semangat yang diusung tidak berhenti pada tahap perayaan. Seluruh organisasi perangkat daerah diminta menindaklanjuti momentum peringatan dengan percepatan realisasi program, khususnya pada sektor infrastruktur, penguatan ekonomi kerakyatan, serta peningkatan kualitas pelayanan publik.
"Kami berharap semangat peringatan ini menindaklanjuti capaian yang sudah diraih dan mendorong percepatan program yang masih berjalan," ujar pejabat dalam rapat koordinasi itu.
Selain itu, panitia melaporkan bahwa persiapan teknis penyalaan obor dijadwalkan melibatkan koordinasi lintas sektor, termasuk pengaturan lalu lintas, pengamanan, dan kesiapan personel gabungan. Koordinasi tersebut, menurut panitia, diperlukan agar rangkaian acara berjalan tertib dan aman bagi seluruh peserta maupun masyarakat yang hadir.
Keterlibatan Kapanewon dan Unsur Masyarakat
Dalam keputusan yang ditetapkan pada rapat tersebut, setiap kapanewon ditugaskan menyiapkan kontingen peserta beserta atribut pendukung. Pemerintah kabupaten menegaskan bahwa pelibatan unsur masyarakat menjadi bagian penting dari penyelenggaraan, sejalan dengan prinsip bahwa peringatan hari jadi merupakan momentum bersama, bukan hanya milik pemerintah daerah.
Sejumlah tokoh masyarakat yang dihubungi menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut. Mereka menilai penyalaan obor secara massal dapat menjadi sarana memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Dukungan itu disampaikan melalui Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon yang secara berjenjang melaporkan kesiapan masing-masing wilayah.
Rangkaian Agenda dan Penutup
Panitia memastikan seluruh rangkaian kegiatan telah disahkan dan akan dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Pemerintah kabupaten juga menginstruksikan agar setiap agenda diselenggarakan dengan memperhatikan aspek ketertiban, keamanan, dan kelestarian lingkungan, termasuk pengelolaan sampah selama acara berlangsung.
Dengan penetapan 7.500 obor sebagai simbol utama, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menyatakan komitmennya menjadikan peringatan Hari Jadi ke-75 sebagai titik tolak penguatan semangat pembangunan. Seluruh organisasi perangkat daerah diminta menyusun laporan pelaksanaan kegiatan sebagai bahan evaluasi dalam rapat koordinasi berikutnya.
Puncak peringatan diharapkan menjadi momen refleksi atas perjalanan 75 tahun daerah tersebut sekaligus penegasan arah kebijakan pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat di 12 kapanewon.
Comments (0)