Bandung — Merpati Berkeliaran di RSUD, Pakar Ingatkan Risiko Jamur dan Bakteri
Suara kepak sayap memecah keheningan koridor lantai tiga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandung pada Selasa (25/2) siang. Seekor merpati liar melesat masuk
Suara kepak sayap memecah keheningan koridor lantai tiga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandung pada Selasa (25/2) siang. Seekor merpati liar melesat masuk melalui jendela ventilasi yang terbuka dan hinggap di atas tirai pemisah tempat tidur pasien ruang rawat inap kelas tiga. Burung itu bertahan hampir lima menit sebelum diusir oleh perawat yang panik. Insiden singkat ini sontak menimbulkan kecemasan di kalangan pasien dan keluarga yang tengah menunggu. “Saya kaget melihat burung sebesar itu ada di dekat tempat tidur adik saya yang baru operasi,” ujar Rina, pengunjung yang merekam kejadian tersebut dengan ponselnya.
Kronologi dan Temuan di Lapangan
Berdasarkan keterangan petugas keamanan, merpati masuk melalui ventilasi di area toilet yang baru direnovasi dan belum dipasangi kawat kasa. Pantauan Apaberita pada pukul 11.30 WIB, burung itu terlihat berkeliaran di lorong utama selama kurang lebih delapan menit, sempat melintasi ruang perawatan bedah dan poli umum. Tidak ada pasien yang kontak langsung dengan burung, tetapi kotoran merpati ditemukan di dekat pintu masuk ruang radiologi. Petugas kebersihan segera membersihkan area tersebut dengan disinfektan standar rumah sakit.
Pakar Ungkap Spektrum Bahaya Mikroba
Dr. Aditya Nugraha, ahli mikrobiologi klinis dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, mengingatkan bahwa merpati liar merupakan reservoir bagi berbagai patogen oportunistik. Dalam wawancara eksklusif, ia menjelaskan temuan dari survei kecil yang dilakukan timnya pada 2025 terhadap 47 sampel kotoran merpati di area publik Kota Bandung.
“Hasil kultur menunjukkan 68 persen sampel positif mengandung bakteri Salmonella enterica, 42 persen mengandung Escherichia coli resisten antibiotik, dan 34 persen terdeteksi jamur Cryptococcus neoformans. Pada pasien dengan imunitas rendah — seperti pascaoperasi, kemoterapi, atau HIV — paparan jamur ini bisa menyebabkan meningitis kriptokokus dengan tingkat fatalitas hingga 30 persen jika tidak ditangani.”
Data dari Kementerian Kesehatan tahun 2023 mencatat 16 laporan infeksi nosokomial yang ditelusuri berasal dari vektor burung liar di fasilitas kesehatan. Angka tersebut tergolong kecil, tetapi menjadi peringatan keras mengingat risiko penularan di ruang tertutup seperti rumah sakit dapat meningkat secara eksponensial.
Manajemen Rumah Sakit Langsung Bertindak
Direktur RSUD Bandung, dr. Lastri Simanjuntak, menyatakan pihaknya telah melakukan sweeping seluruh jalur ventilasi dan menutup sementara jendela di lantai tiga. Tim pemeliharaan sarana dan prasarana (PPS) akan memasang kawat kasa baja antikarat pada 14 titik bukaan udara yang dinilai rawan. Selain itu, jadwal pembersihan kotoran burung di area taman dan selasar akan ditingkatkan dari dua kali seminggu menjadi harian. “Kami berkomitmen menjaga lingkungan rumah sakit tetap steril dan bebas vektor,” tegasnya.
Meski langkah korektif berjalan cepat, beberapa pasien dan keluarga mengaku masih waspada. “Anak saya dirawat karena leukimia, dok. Kalau ada burung masuk lagi, saya takut infeksinya bertambah,” ujar Hendra, ayah dari pasien anak di lantai yang sama. Kekhawatiran ini memperlihatkan bahwa kehadiran burung liar di fasilitas kesehatan berdampak langsung pada ketenangan psikologis pasien dan keluarga, selain risiko fisik aktual.
Standar dan Data Tambahan
Rumah sakit wajib mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, yang mensyaratkan skrining berkala terhadap potensi vektor biologis. Merpati liar dapat membawa lebih dari 60 jenis patogen zoonosis, termasuk bakteri Chlamydia psittaci penyebab psittacosis dan jamur Histoplasma capsulatum penyebab histoplasmosis. Risiko tertinggi adalah pada pasien imunokompromais dan lansia. Untuk itu, rumah sakit disarankan tidak hanya mengandalkan penutupan fisik, tetapi juga menerapkan sistem deterensi burung ultrasonik dan pemantauan rutin oleh epidemiolog.
Peristiwa di RSUD Bandung menjadi pengingat bahwa pengelolaan fasilitas kesehatan tidak bisa menafikan faktor lingkungan yang sering kali tampak sepele. Keamanan pasien harus menjadi prioritas utama, bahkan dari ancaman yang datang melalui kepakan sayap liar.
Comments (0)