Jeunieb, Aceh — Abiya Jeunieb Bagikan Cerita Haru Sepotong Ikan di Balik Bantal

Jeunieb, Bireuen — Ribuan santri dan masyarakat Aceh berkumpul di Pesantren Yatim dan Dhuafa Rauhul Mudi Al Aziziyah, Desa Meunasah Blang, Kecamatan Jeunie

Jul 09, 2026 - 08:38
0 0
Jeunieb, Aceh — Abiya Jeunieb Bagikan Cerita Haru Sepotong Ikan di Balik Bantal

Jeunieb, Bireuen — Ribuan santri dan masyarakat Aceh berkumpul di Pesantren Yatim dan Dhuafa Rauhul Mudi Al Aziziyah, Desa Meunasah Blang, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, Senin (27/10/2025). Dalam haflah akbar yang digelar sejak pagi, ulama kharismatik Aceh, Abiya Jeunieb, menyampaikan tausiah yang langsung menyedot perhatian. Ia mengangkat kisah sederhana namun menusuk hati: sepotong ikan yang disembunyikan seorang anak yatim di balik bantal tidurnya.

Abiya, yang dikenal luas sebagai pengasuh pesantren tersebut, tidak sekadar berkisah. Ia mengurai realitas getir sekaligus keteguhan hati anak-anak yatim dan dhuafa yang menimba ilmu di lembaganya. Di hadapan ribuan hadirin, ia membeberkan bahwa peristiwa ikan di balik bantal itu benar-benar terjadi sekitar tiga pekan lalu, melibatkan seorang santri yatim berusia 12 tahun bernama Muhammad Razi.

Kisah Razi dan Sepotong Ikan Bilis

Menurut Abiya, Razi kedapatan menyimpan sekerat ikan bilis—ikan kecil kering khas Aceh—yang sudah agak berbau di bawah bantal kapuknya. Awalnya, pengurus pondok menduga itu kelalaian kebersihan. Namun setelah ditanya, jawaban Razi justru membuat ruangan hening.

“Saya tanya langsung, ‘Nak, kenapa simpan ikan busuk di balik bantal?’ Dia jawab, ‘Maaf Abi, ini bukan untuk saya. Tadi pagi saya dapat jatah dua potong. Satu saya makan, satu saya simpan buat adik saya di rumah. Nanti hari Jumat saya pulang, saya berikan. Di rumah, adik saya jarang makan ikan’,”
tutur Abiya dengan suara bergetar, menirukan jawaban Razi.

Abiya mengaku momen itu menjadi cambuk baginya. Ia menegaskan, Razi hanyalah satu dari 217 anak yatim dan 143 dhuafa yang diasuh di pesantren itu. Data ini disampaikan Abiya untuk membuka mata jamaah bahwa kemiskinan struktural masih mengintai generasi Aceh pascakonflik dan tsunami.

Simbol Perjuangan dan Harapan

Dalam perspektif Abiya, ikan bilis di balik bantal bukan sekadar pengingat lapar. Ia menginterpretasikannya sebagai surat cinta sunyi dari seorang kakak yatim yang tak berdaya secara ekonomi, namun kaya empati. “Dia mengajarkan kita bahwa berbagi tidak menunggu berkelebihan. Dalam kekurangan sekalipun, ada ruang untuk mengasihi,” ucap Abiya lirih.

Pesantren Rauhul Mudi Al Aziziyah sendiri berdiri sejak 2010 dan kini menampung 360 santri dari berbagai pelosok Aceh. Semua santri yatim dan dhuafa tidak dipungut biaya sepeser pun. Operasional penuh ditopang donasi rutin 4.200 penyantun tetap dan wakaf produktif berupa kebun sawit seluas 7 hektare.

Respons Jamaah dan Pemerintah

Kisah ikan bilis ini sontak memicu gelombang empati. Sejumlah tokoh yang hadir, termasuk perwakilan Bupati Bireuen, menyatakan akan menginisiasi program beasiswa dan ketahanan pangan untuk pesantren-pesantren kecil di pedesaan. Seorang donatur asal Medan yang hadir langsung menyerahkan dana bantuan pendidikan senilai Rp 200 juta di atas panggung.

Di akhir tausiah, Abiya mengajak masyarakat untuk tidak menutup mata. “Anak yatim bukan sekadar penerima zakat, mereka adalah guru keikhlasan. Jangan biarkan mereka menyimpan ikan busuk karena berharap bisa membahagiakan saudaranya,” pesannya. Hadirin pun meneteskan air mata.

Cerita dari balik bantal itu kini menjadi pengingat kolektif bahwa di sudut-sudut sederhana Aceh, masih ada pejuang-pejuang kecil yang diam-diam memikul beban hidup dengan cara mereka sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User