HISOBI Ungkap Penyebab Seseorang Tetap Gemuk Meski Makan Sedikit
JAKARTA — Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., memaparkan temuan mengejutkan bahwa jumla
JAKARTA — Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., memaparkan temuan mengejutkan bahwa jumlah asupan makanan bukan satu-satunya penentu berat badan. Dalam sebuah webinar bertajuk “Mitos Porsi Kecil: Mengapa Obesitas Tak Selalu Soal Banyak Makan” yang digelar secara daring pada Kamis (12/6/2025), profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan mekanisme kompleks yang membuat seseorang tetap mengalami kelebihan berat badan walau porsi makannya tergolong minim.
Kronologi Pemaparan Data dan Penjelasan Ilmiah
- Pukul 09.00 WIB — Sesi pembuka dan data awal. Prof. Dante mengawali presentasi dengan menampilkan data survei nasional terbaru yang menunjukkan 22% responden dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas 25 mengaku mengonsumsi kurang dari 1.500 kalori per hari. “Ini paradoks yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan hitung kalori sederhana,” ujarnya.
- Pukul 09.20 WIB — Pemaparan resistensi leptin. Ia menjelaskan bahwa pada orang dengan obesitas, terjadi resistensi leptin, hormon yang bertugas memberi sinyal kenyang ke otak. Kadar leptin justru tinggi, namun otak tidak merespons sehingga rasa lapar tetap muncul meski simpanan lemak mencukupi.
- Pukul 09.40 WIB — Faktor mikrobiota usus. Diperlihatkan hasil riset kolaborasi HISOBI dengan dua universitas di Jepang dan Belanda, yang menemukan bahwa komposisi bakteri usus pada individu obesitas didominasi Firmicutes dibanding Bacteroidetes. Rasio Firmicutes/Bacteroidetes yang tinggi membuat ekstraksi kalori dari makanan menjadi lebih efisien, sehingga meski porsi kecil, penyerapan energi tetap besar.
- Pukul 10.00 WIB — Gangguan sumbu hormon dan inflamasi. Prof. Dante menyoroti peran insulin tinggi akibat diet tinggi gula yang memicu penyimpanan lemak. Selain itu, peradangan kronis tingkat rendah (low-grade inflammation) akibat jaringan adiposa yang membesar memperburuk metabolisme.
- Pukul 10.15 WIB — Genetik dan epigenetik. Disebutkan bahwa variasi gen seperti FTO dan MC4R dapat meningkatkan risiko obesitas hingga 30-40%, terutama jika ada riwayat keluarga. Studi longitudinal HISOBI terhadap 1.200 keluarga di Jakarta dan Surabaya menunjukkan 65% anak dari orang tua obesitas mengalami masalah serupa walau aktivitas dan pola makan relatif terkontrol.
- Pukul 10.30 WIB — Sesi tanya jawab dan rekomendasi. Ia menekankan perlunya pendekatan multidisiplin: tidak hanya membatasi kalori, tetapi juga memperbaiki kualitas makanan, tidur cukup, dan manajemen stres. “Diet ketat saja tidak cukup karena kita harus memperbaiki sinyal hormon dan ekosistem usus,” tutupnya.
Kesimpulan dan Angka Penting
Prof. Dante menegaskan bahwa obesitas adalah penyakit kronis multifaktorial. Data HISOBI mencatat prevalensi obesitas di Indonesia mencapai 21,8% pada 2025, naik dari 15,4% satu dekade lalu. Studi menunjukkan bahwa 40% penderita obesitas memiliki pola makan yang secara kalori normal, tetapi kualitas nutrisinya buruk. “Bukan hanya berapa banyak, tapi apa yang kita makan dan bagaimana tubuh kita meresponsnya,” pungkasnya.
Comments (0)