Jakarta — Lima Kebiasaan Ini Terbukti Merusak Kesehatan Hubungan Asmara

Jakarta, Apaberita — Sejumlah riset psikologi hubungan mengonfirmasi bahwa dinamika relasi asmara tidak hanya diuji oleh faktor eksternal, melainkan juga o

Jul 09, 2026 - 09:25
0 0
Jakarta — Lima Kebiasaan Ini Terbukti Merusak Kesehatan Hubungan Asmara

Jakarta, Apaberita — Sejumlah riset psikologi hubungan mengonfirmasi bahwa dinamika relasi asmara tidak hanya diuji oleh faktor eksternal, melainkan juga oleh pola perilaku internal yang sering kali tidak disadari. Data dari Indonesian Relationship Wellness Survey 2024 mencatat bahwa 68% dari 1.200 responden pasangan usia produktif mengaku setidaknya satu kebiasaan negatif menggerogoti kualitas relasi mereka tanpa terdeteksi sejak awal. Konselor pernikahan dan keluarga, Dr. Ratna Dewi, M.Psi., mengidentifikasi lima kebiasaan destruktif yang perlu dihindari.

Kebiasaan pertama adalah stonewalling atau penolakan komunikasi, di mana satu pihak secara sengaja menarik diri dari percakapan sulit. Perilaku ini berbeda dari mengambil jeda yang sehat; stonewalling menciptakan dinding tak kasat mata yang mengirim sinyal penolakan absolut. Kedua, kebiasaan menyimpan skor (keeping score), yaitu menghitung kesalahan pasangan secara mental sebagai amunisi untuk pertengkaran mendatang. Ketiga, pasif-agresif yang mengekspresikan kemarahan melalui sindiran, silent treatment, atau sabotase halus alih-alih konfrontasi langsung. Keempat, pelanggaran batas privasi digital seperti memeriksa ponsel pasangan tanpa izin, yang mencerminkan defisit kepercayaan akut. Kelima, membandingkan pasangan secara eksplisit dengan mantan atau figur ideal, yang mengerosi harga diri mitra secara sistematis.

Survei tersebut mengungkap bahwa 42% responden mengaku menerapkan keeping score, menjadikannya kebiasaan destruktif paling umum. Sementara itu, 29% responden melaporkan pengalaman stonewalling dalam enam bulan terakhir. “Masing-masing kebiasaan ini adalah kriptonit bagi keintiman emosional. Skala kerusakan tidak terlihat dalam semalam, tetapi efek akumulatif dalam periode enam hingga dua belas bulan mampu menggerus fondasi kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun,” ujar Dr. Ratna.

Intervensi dini menjadi kunci pemulihan hubungan. Dr. Ratna menekankan tiga langkah esensial: pengakuan bilateral bahwa kebiasaan tersebut ada dan destruktif, komitmen untuk mengganti pola komunikasi, serta keterlibatan pihak ketiga profesional ketika eskalasi konflik melewati ambang batas yang bisa dikelola mandiri.

Analisis Dampak Relasional

Lima kebiasaan ini bukanlah fenomena terisolasi; mereka membentuk sistem toksik yang saling memperkuat. Stonewalling membuka pintu bagi pasif-agresif, sementara keeping score menjadi justifikasi kognitif untuk pelanggaran privasi. Dari perspektif teori keterikatan, pola ini umumnya berakar pada insecure attachment, di mana rasa takut akan ditinggalkan atau ketidakmampuan meregulasi emosi memicu mekanisme pertahanan diri yang kontraproduktif.

Data longitudinal dari American Psychological Association menunjukkan bahwa pasangan yang menunjukkan pola stonewalling secara konsisten memiliki probabilitas perceraian 2,7 kali lebih tinggi dalam periode sepuluh tahun. Angka ini menegaskan urgensi intervensi tidak hanya pada level individu, tetapi juga sistemik dalam kerangka konseling pasangan.

Perbandingan Hubungan Sehat vs. Tidak Sehat

Aspek Hubungan Sehat Hubungan Tidak Sehat
Manajemen Konflik Menyelesaikan masalah saat itu juga dengan komunikasi asertif Menyimpan skor gangguan untuk digunakan sebagai senjata di masa depan
Respons terhadap Stres Mengambil jeda terstruktur dengan kesepakatan waktu kembali berdiskusi Stonewalling: penarikan diri total tanpa penjelasan atau batas waktu
Ekspresi Emosi Menyatakan kemarahan secara langsung, verbal, dan spesifik Pasif-agresif: sindiran, silent treatment, atau sabotase implisit
Batasan Privasi Menghormati ruang digital masing-masing; akses diberikan sukarela Memeriksa ponsel dan akun media sosial secara diam-diam tanpa izin
Persepsi terhadap Pasangan Melihat keunikan pasangan sebagai nilai positif Membandingkan secara eksplisit dengan mantan atau figur ideal lain

Lima kebiasaan ini tidak mengonfirmasi akhir sebuah hubungan, melainkan sinyal bahaya yang memerlukan respons aktif. Deteksi dini dan kemauan kedua belah pihak untuk melakukan koreksi adalah fondasi perubahan menuju dinamika yang lebih sehat. Dr. Ratna menyimpulkan: “Kebiasaan dibangun, bukan diturunkan. Artinya, setiap pola destruktif dapat diurai dan diganti — selama kedua pasangan memilih untuk tinggal dan berproses.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User