[Ahli Parenting: Komunikasi Terbuka Efektif Awasi Ponsel Anak]
Jakarta — Psikolog anak dan keluarga, Dr. Ratna Dewi, M.Psi., menegaskan bahwa pendekatan komunikasi terbuka jauh lebih ampuh dibandingkan kontrol ketat da
Jakarta — Psikolog anak dan keluarga, Dr. Ratna Dewi, M.Psi., menegaskan bahwa pendekatan komunikasi terbuka jauh lebih ampuh dibandingkan kontrol ketat dalam mengawasi penggunaan telepon genggam pada anak. Pernyataan ini disampaikan dalam seminar "Digital Parenting 2025" di Jakarta, Senin (1/6), merespons meningkatnya kekhawatiran orang tua terhadap paparan konten negatif di internet.
"Orang tua seringkali tergoda memasang aplikasi pemantau total atau menyita ponsel, tetapi pendekatan itu justru kontraproduktif. Kuncinya adalah menjaga saluran dialog yang hangat dan menghindari menjadi pribadi yang terlalu mengontrol," ujar Dr. Ratna. Ia merujuk pada data survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) yang melibatkan 2.400 keluarga di 10 kota besar. Survei tersebut menunjukkan bahwa 71% anak usia 12–17 tahun yang merasa orang tuanya terlalu mengekang cenderung menyembunyikan aktivitas digital mereka, sedangkan pada keluarga dengan pola komunikasi terbuka, angkanya hanya 18%.
Selain itu, anak yang dibesarkan dengan dialog dua arah juga lebih cepat melaporkan insiden perundungan siber atau konten tidak pantas. "Mereka melihat orang tua sebagai tempat aman, bukan pengawas yang siap menghukum," tambah Dr. Ratna.
Kontrol Ketat vs Komunikasi Terbuka: Mana Lebih Efektif?
Banyak orang tua beranggapan bahwa pemasangan aplikasi parental control 24 jam adalah solusi terbaik. Namun, studi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2024) menemukan fakta sebaliknya. Dibandingkan dengan anak yang hanya mendapat aturan tanpa penjelasan, anak yang dilibatkan dalam pembuatan kesepakatan penggunaan ponsel menunjukkan tingkat kepatuhan 2,3 kali lebih tinggi.
"Kontrol tanpa dialog menciptakan ilusi aman. Anak mahir mencari celah, seperti membuat akun kedua atau menggunakan ponsel teman. Sementara itu, komunikasi yang jujur membentuk kesadaran internal sehingga anak bisa mengatur dirinya sendiri," jelas Dr. Ratna.
Untuk memperjelas perbedaan dampak kedua pendekatan, berikut perbandingan ringkas berdasarkan data gabungan KPPPA dan survei Lembaga Perlindungan Anak:
| Aspek | Pendekatan Kontrol Ketat | Pendekatan Komunikasi Terbuka |
|---|---|---|
| Tingkat kepercayaan anak | 32% anak merasa dipercaya | 84% anak merasa dipercaya |
| Kecenderungan menyembunyikan aktivitas | 71% anak menyembunyikan | 18% anak menyembunyikan |
| Pelaporan insiden siber oleh anak | 19% berani melaporkan | 67% berani melaporkan |
| Risiko stres dan kecemasan | Tinggi (skor rata-rata 7,2/10) | Rendah (skor rata-rata 3,1/10) |
Sumber: Survei KPPPA (2025) dan LPAI (2024), diolah.
Dr. Ratna merekomendasikan agar orang tua menjadwalkan "waktu ngobrol digital" setidaknya seminggu sekali, di mana anak bebas bercerita tentang apa yang mereka lihat, mainkan, atau tonton tanpa takut dihakimi. "Dengarkan dulu, jangan langsung larang. Setelah itu, beri perspektif dan bantu anak memilah mana yang baik," katanya.
Meski demikian, pendekatan komunikasi bukan berarti menghilangkan semua bentuk kontrol. Pembatasan waktu layar, misalnya, tetap penting. Data Asosiasi Dokter Anak Indonesia merekomendasikan maksimal 2 jam per hari untuk anak usia 6–18 tahun. Namun, alih-alih memaksa, orang tua diajak menegosiasikan aturan tersebut bersama anak, misalnya dengan membuat "kontrak digital" sederhana yang disetujui kedua pihak.
Pendidikan digital di rumah juga perlu diimbangi dengan literasi di sekolah. Kementerian Pendidikan menargetkan modul keamanan siber masuk ke kurikulum wajib SMP pada tahun ajaran 2026. Inisiatif ini diharapkan melengkapi peran orang tua di rumah.
Secara umum, para ahli sepakat bahwa pengawasan penggunaan ponsel pada anak bukanlah tentang teknologi, melainkan tentang hubungan. Dengan menjaga komunikasi yang terbuka, orang tua tidak hanya melindungi anak dari bahaya digital, tetapi juga membangun fondasi kepercayaan yang akan terbawa hingga dewasa.
Comments (0)