Wahyuni Indawati Jelaskan Penggunaan Terapi Inhalasi dengan Nebulizer pada Anak

Jakarta, Apaberita – Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, Wahyuni Indawati, memberikan pemaparan komprehensif mengenai terapi inhalasi menggunak

Jul 09, 2026 - 09:30
0 0
Wahyuni Indawati Jelaskan Penggunaan Terapi Inhalasi dengan Nebulizer pada Anak

Jakarta, Apaberita – Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, Wahyuni Indawati, memberikan pemaparan komprehensif mengenai terapi inhalasi menggunakan nebulizer bagi anak-anak dengan gangguan pernapasan. Dalam diskusi yang digelar di Jakarta, ia menekankan bahwa pemahaman yang tepat soal indikasi, teknik, dan perawatan alat menjadi kunci keberhasilan terapi sekaligus mencegah komplikasi.

Kapan Terapi Nebulizer Diperlukan?

Wahyuni menjelaskan, nebuli­zer bukan untuk semua batuk-pilek biasa. Alat ini diindikasikan terutama pada serangan asma akut, bronkiolitis, pneumonia dengan komponen obstruksi, dan penyakit paru kronik pada anak. Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia mencatat bahwa 1 dari 5 anak di Indonesia memiliki riwayat mengi berulang yang sering kali memerlukan terapi inhalasi cepat. Nebulizer mengubah obat cair menjadi aerosol halus yang langsung masuk ke saluran napas, sehingga onset kerjanya relatif cepat—biasanya dalam 3–5 menit—dibandingkan obat oral yang butuh waktu lebih dari 30 menit.

“Kecepatan aksi inilah yang krusial pada kondisi gawat napas. Namun, orang tua jangan asal membeli nebulizer tanpa konsultasi dokter. Kami sering menemukan nebulizer dipakai untuk cairan NaCl saja saat anak hanya pilek, padahal itu tidak efektif dan bisa menimbulkan risiko infeksi jika alat tidak steril,” ujar Wahyuni.

Teknik Penggunaan yang Tepat

Dalam sesi tersebut, Wahyuni memerinci langkah-langkah penggunaan nebulizer yang benar:

  • Cuci tangan sebelum menyiapkan alat dan obat.
  • Tuangkan obat sesuai dosis yang diresepkan ke dalam kompartemen nebulizer—biasanya 2–3 ml larutan.
  • Pasang masker atau corong, pastikan menutupi hidung dan mulut anak dengan rapat.
  • Hidupkan kompresor, biarkan anak bernapas normal selama 10–15 menit atau hingga cairan habis.
  • Setelah selesai, bilas masker dan kompartemen dengan air hangat, lalu keringkan.

Satu kesalahan yang sering terjadi adalah posisi anak yang berbaring total. Posisi duduk tegak atau setidaknya setengah duduk akan membuat aerosol terdistribusi lebih merata ke seluruh lobus paru. Selain itu, mengetuk-ngetuk kompartemen saat cairan mulai habis justru menurunkan output aerosol hingga 30 persen, sehingga sebaiknya alat dimatikan begitu cairan tersisa sedikit.

Efek Samping dan Peringatan

Efek samping yang umum dijumpai adalah tremor ringan, jantung berdebar, dan iritasi tenggorokan—terutama jika obat bronkodilator jenis beta-agonis digunakan pada dosis tinggi. Pada kasus yang jarang, penggunaan nebulizer yang tidak dibersihkan dengan baik dapat menjadi sumber infeksi nosokomial karena pertumbuhan biofilm bakteri di dalam selang dan masker. Wahyuni mengingatkan bahwa alat harus dibersihkan setiap kali pakai, didesinfeksi minimal seminggu sekali, dan selang diganti setiap 3 bulan.

“Jangan berbagi masker dengan anggota keluarga lain, meskipun sama-sama sakit. Itu sama dengan berbagi kuman. Kami juga merekomendasikan penggunaan spacer dengan masker untuk anak di bawah 3 tahun sebagai alternatif yang lebih higienis,” tambahnya.

Dengan semakin mudahnya akses masyarakat terhadap perangkat nebulizer portabel, edukasi penggunaan yang tepat menjadi semakin krusial. Penggunaan nebulizer yang tepat di rumah mampu menurunkan angka kunjungan ke instalasi gawat darurat hingga 40 persen pada pasien asma anak, berdasarkan studi multisenter di Asia Tenggara tahun 2025. Namun, dokter tetap harus menjadi pintu pertama dalam penentuan terapi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User