JAKARTA — Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Australia meresmikan program pelatihan tenaga perawat lansia berskala nasional di Jakarta, Senin (15/5). Program bertajuk Indonesia-Australia Aged Care Workforce Development Initiative itu menargetkan
500 perawat lansia dalam
dua tahun dan didanai hibah senilai
A$5 juta (sekitar Rp52 miliar). Peluncuran dihadiri Menteri Sosial Adi Sujatmiko dan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Michael Latham, yang menandatangani nota kesepakatan teknis.
“Ini adalah fondasi baru bagi layanan perawatan lansia Indonesia. Kami menyiapkan tenaga dengan standar internasional agar populasi lansia kita—yang diproyeksikan mencapai
74 juta jiwa pada 2050—bisa mendapatkan pendampingan bermartabat,” ujar Adi. Sementara Latham menyebut program itu sebagai “investasi jangka panjang yang akan memperkuat hubungan bilateral, sekaligus merespons krisis tenaga perawat lansia di kawasan.”
Program ini menyasar lulusan D3 Keperawatan dan akan berlangsung secara blended learning. Tiga modul utama—perawatan demensia, manajemen obat-obatan, dan fisioterapi lansia—dikembangkan bersama Monash University dan Deakin University. Peserta bakal menjalani praktik klinis di panti werdha rujukan di Jawa dan Bali, lalu magang di residential aged care facility di Sydney dan Melbourne selama empat bulan. Mereka juga wajib mengikuti kursus bahasa Inggris keperawatan sebelum magang. “Ini bukan sekadar pelatihan teknis, tapi juga membangun komunikasi lintas budaya,” ujar Dr. Sri Hartati, pakar gerontologi Universitas Indonesia, yang menilai standar Australia akan menjadi lompatan kapasitas.
“Dengan pengalaman magang di sana, peserta akan membawa pulang tata kelola perawatan yang selama ini masih langka di Indonesia.”
Analisis Program
Program ini merupakan kerja sama paling ambisius antara Indonesia dan Australia di bidang perawatan lansia. Untuk memahaminya lebih dalam, perbandingan dengan skema pelatihan serupa ke Jepang—yang telah berjalan sejak 2017—dapat memberikan gambaran.
| Aspek |
Program Indonesia-Jepang (EPA) |
Program Indonesia-Australia |
| Target jumlah peserta |
200 per tahun (total 800 sejak 2017) |
500 dalam dua tahun |
| Durasi pelatihan |
6 bulan di Indonesia + 3–5 tahun di Jepang |
12 bulan intensif (termasuk 4 bulan magang di Australia) |
| Fokus pelatihan |
Perawatan umum lansia + bahasa/budaya Jepang |
Demensia, manajemen obat, fisioterapi, etika, dan bahasa Inggris keperawatan |
| Sertifikasi |
Sertifikat careworker Jepang |
Sertifikat ganda: Indonesia (BNSP) dan Certificate III in Individual Support (Ageing) Australia |
| Kendala utama |
Ujian lisensi Jepang yang berat; biaya hidup tinggi |
Seleksi ketat dan biaya hidup selama magang; belum ada skema penempatan kerja otomatis pasca-program |
Perbedaan fundamental terletak pada pendekatan sertifikasi. Program Australia memberikan bekal sertifikat yang diakui di sektor aged care Australia—membuka peluang bagi lulusan untuk bekerja di sana jika memenuhi syarat visa. Di sisi lain, tantangan logistik dan biaya hidup selama magang perlu diantisipasi. Kementerian Sosial menyatakan akan memberikan tunjangan hidup sebesar
A$300 per bulan bagi peserta magang, sementara pemerintah Australia menanggung akomodasi dan transportasi lokal.
Sejumlah pengamat menyebut skema ini sebagai terobosan, namun tetap mensyaratkan kesiapan infrastruktur di dalam negeri. “Kita perlu panti percontohan yang menerapkan standar setelah peserta kembali. Jangan sampai pelatihan maju, tapi lapangan kerja di Indonesia belum siap,” kata Anggara, peneliti Lembaga Demografi UI. Kementerian Sosial menargetkan
30 panti werdha terakreditasi sebagai tempat praktik dan penyerapan lulusan hingga akhir 2026.
Program ini akan membuka pendaftaran pada Juli 2026 dengan seleksi administratif, tes kesehatan, dan wawancara. Informasi lengkap bisa diakses melalui situs resmi Kemensos. Keberhasilan program akan diukur dari tingkat penyerapan kerja lulusan dalam dua tahun pasca-pelatihan.
Comments (0)