Angka Kematian Ibu Capai 183 per 100.000, Skrining Gratis Diperluas

Jakarta (Apaberita) – Kementerian Kesehatan melaporkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih bertahan di level 183 per 100.000 kelahiran hidup pada 2

Jul 09, 2026 - 08:43
0 0
Angka Kematian Ibu Capai 183 per 100.000, Skrining Gratis Diperluas
Jakarta (Apaberita) – Kementerian Kesehatan melaporkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih bertahan di level 183 per 100.000 kelahiran hidup pada 2023. Capaian ini jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs) sebesar 70 per 100.000 kelahiran hidup pada 2030. Melihat kondisi tersebut, pemerintah melalui program layanan antenatal memperluas cakupan skrining gratis bagi ibu hamil. Upaya ini menyasar 3 juta ibu hamil per tahun dan diharapkan menekan kematian akibat komplikasi yang tidak terdeteksi dini. Kronologi data menunjukkan stagnasi penurunan AKI dalam lima tahun terakhir. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 mencatat AKI di level 177. Namun, data registrasi sampel dari Sistem Registrasi Sampel (SRS) 2023 yang dirilis Kemenkes menunjukkan kenaikan tipis menjadi 183. Menteri Kesehatan menyampaikan bahwa penyebab utamanya adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, dan infeksi, yang sejatinya dapat dicegah melalui pemeriksaan kehamilan rutin. Pelaksana tugas Direktur Kesehatan Keluarga, dr. Lovely Daisy, MKM, menjelaskan bahwa skrining gratis difokuskan pada deteksi faktor risiko di fasilitas kesehatan tingkat pertama. “Skrining mencakup pemeriksaan tekanan darah, kadar hemoglobin, gula darah, dan ultrasonografi minimal satu kali selama kehamilan. Target kami, setiap ibu hamil menerima minimal enam kali kunjungan antenatal,” ujarnya di Jakarta, Jumat (19/7). Program ini dibiayai melalui skema JKN dengan perluasan paket manfaat yang berlaku efektif sejak triwulan II 2024.

Analisis Kesenjangan Layanan Antenatal dan Dampaknya

Keberhasilan menurunkan AKI sangat bergantung pada distribusi layanan yang merata. Data sementara Dinas Kesehatan Provinsi menunjukkan kesenjangan tajam antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Provinsi Papua masih mencatat AKI di atas 300 per 100.000 kelahiran, sementara DKI Jakarta berada di kisaran 80. Kesenjangan ini diperparah oleh rasio bidan terhadap ibu hamil yang timpang. Di daerah terpencil, satu bidan desa harus melayani lebih dari 120 ibu hamil dalam setahun, jauh melebihi standar ideal 50–60 ibu per bidan. Kondisi geografis turut menghambat rujukan cepat saat terjadi komplikasi. Laporan Maternal Death Surveillance and Response (MDSR) 2022 menunjukkan bahwa 63% kematian ibu terjadi di rumah sakit rujukan, tetapi lebih dari separuh di antaranya datang dalam kondisi kritis karena keterlambatan mengenali tanda bahaya. Karenanya, penguatan kapasitas deteksi di tingkat primer menjadi strategi utama, bukan sekadar pembangunan rumah sakit.
Perbandingan Angka Kematian Ibu Indonesia dan Negara ASEAN (per 100.000 Kelahiran Hidup, 2023)
Negara AKI 2023
Singapura 8
Malaysia 27
Thailand 37
Filipina 114
Indonesia 183
Myanmar 250
Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Prof. dr. Pandu, MGizi, PhD, menilai bahwa stagnasi AKI merupakan sinyal kegagalan sistem layanan esensial. “Investasi pada antenatal care saja tidak cukup jika tidak diikuti perbaikan mutu rujukan dan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap protokol. Skrining gratis harus digawangi dengan sistem audit maternal yang transparan,” tandasnya. Ia mengingatkan pentingnya data real-time untuk memicu respons cepat di lapangan. Dengan tenggat SDGs yang semakin sempit, keberhasilan penurunan AKI akan menjadi tolok ukur serius komitmen pemerintah terhadap kesehatan ibu. Perluasan skrining ini menjadi langkah awal yang harus diawasi ketat oleh publik dan DPR.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User