Thailand Bangun National Biopharmaceutical Facility Demi Perkuat Posisi di ASEAN
Bangkok, Liputan6.com – Thailand mengambil langkah besar dalam memperkuat ketahanan dan daya saing sektor biofarmasi nasional dengan membangun National Bio
Kronologi Pembangunan yang Bertahap
- Kuartal III 2022 — Peresmian Rencana Induk
Pemerintah Thailand melalui Board of Investment (BOI) mengumumkan rencana pembangunan NBF sebagai pusat unggulan biofarmasi setelah mendapat persetujuan kabinet. Rencana induk menetapkan fasilitas akan mengembangkan vaksin, antibodi monoklonal, dan produk cell therapy. - 2023 — Penjajakan Kemitraan Internasional
Beberapa lembaga riset global, termasuk universitas dari Korea Selatan dan Amerika Serikat, melakukan penjajakan transfer teknologi dan joint research untuk pengembangan biosimilar dan terapi inovatif. - Januari 2024 — Peletakan Batu Pertama
Konstruksi fisik tahap pertama resmi dimulai. Tahap awal difokuskan pada pembangunan laboratorium riset canggih, fasilitas produksi sesuai standar Good Manufacturing Practice (GMP), serta gudang penyimpanan rantai dingin dengan kapasitas hingga 20 juta dosis vaksin per tahun. - 2025 — Uji Coba dan Validasi
Fasilitas memasuki fase instalasi peralatan bioproses utama, termasuk bioreaktor kapasitas 2.000 liter untuk produksi protein terapeutik. Uji validasi melibatkan kolaborasi dengan Government Pharmaceutical Organization (GPO) Thailand dan produsen vaksin regional untuk memastikan kualitas produk memenuhi standar internasional. - Pertengahan 2026 — Target Pengoperasian Penuh
NBF ditargetkan beroperasi penuh dan mulai melakukan produksi komersial pada kuartal ketiga 2026. Produk pertama yang akan dihasilkan adalah vaksin influenza dan biosimilar untuk terapi kanker, dengan rencana ekspansi ke cell and gene therapy pada 2028.
Dampak terhadap Ekonomi dan Pasar ASEAN
Dengan beroperasinya NBF, Thailand memproyeksikan pengurangan impor produk biofarmasi senilai 12 miliar baht (setara Rp5,4 triliun) per tahun. Di sisi lain, kapasitas ekspor ke pasar ASEAN—yang saat ini masih didominasi pemain dari India dan Tiongkok—diharapkan dapat tumbuh hingga 30 persen dalam tiga tahun pertama pascaproduksi. Langkah ini sejalan dengan peran Thailand sebagai pusat medis (medical hub) yang telah mapan, kini diperkuat dengan kemandirian pasokan terapi biologis.
Selain menciptakan sekitar 800 lapangan kerja berketerampilan tinggi di sektor riset dan manufaktur, NBF juga akan menjadi fasilitas pelatihan bagi tenaga ahli biofarmasi dari negara-negara CLM (Kamboja, Laos, Myanmar), yang diharapkan mempererat jejaring farmasi di kawasan. Dengan demikian, Thailand bukan hanya mengamankan ketahanan obat nasional, tetapi juga memposisikan diri sebagai pemasok strategis di saat permintaan produk biologi terus meroket pascapandemi.
Proyek ini adalah bukti komitmen Thailand dalam bertransformasi dari negara penerima alih teknologi menjadi inovator dan produsen obat biologi yang diperhitungkan di tingkat global.
Comments (0)