Ancaman Bom di SDN Jakarta Selatan, Guru Tenangkan Siswa Baru

Jakarta, Apaberita – Sebuah ancaman bom yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp mengguncang SDN Srengseng Sawah 15 Pagi di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Senin (13/7/2026). Di tengah kepa...

Jul 13, 2026 - 16:22
0 0
Ancaman Bom di SDN Jakarta Selatan, Guru Tenangkan Siswa Baru

Jakarta, Apaberita – Sebuah ancaman bom yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp mengguncang SDN Srengseng Sawah 15 Pagi di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Senin (13/7/2026). Di tengah kepanikan yang muncul, para guru justru berfokus menenangkan puluhan siswa baru yang tengah menjalani hari pertama tahun ajaran 2026/2027.

Kronologi Ancaman

Ancaman tersebut diterima oleh nomor telepon resmi sekolah pada pukul 07.45 WIB, hanya beberapa saat sebelum jam pelajaran dimulai. Pesan singkat itu menyebutkan bahwa sebuah bom telah diletakkan di dalam lingkungan sekolah. Pihak sekolah yang menerima pesan segera melapor kepada Kepala Sekolah dan meneruskan informasi tersebut ke Kepolisian Sektor Jagakarsa.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, ancaman itu tidak menyebutkan lokasi spesifik bom dan tidak disertai tuntutan. Meski demikian, protokol keamanan langsung diaktifkan. Seluruh siswa dan guru diinstruksikan untuk meninggalkan ruang kelas menuju lapangan terbuka yang berada di depan gerbang sekolah.

Respons Cepat Kepolisian

Tim dari Polsek Jagakarsa yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Kompol Arif Budiman tiba di lokasi pada pukul 08.10 WIB. Tidak lama setelah itu, satu unit tim penjinak bom (Jibom) Gegana Satuan Brimob Polda Metro Jaya juga dikerahkan untuk melakukan penyisiran secara menyeluruh. Area sekolah seluas kurang lebih 2.000 meter persegi itu ditutup sementara dan garis polisi dipasang di sekeliling pagar.

Kompol Arif Budiman menyatakan bahwa pihaknya tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun. “Setiap ancaman bom, meskipun diduga palsu, harus disikapi dengan sangat serius. Kami melakukan sterilisasi hingga ke sudut-sudut kelas, gudang, dan toilet sekolah,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Peran Guru Tenangkan Siswa Baru

Sementara petugas sibuk menyisir gedung, para guru mengumpulkan siswa di lapangan. Yang menjadi perhatian khusus adalah sekitar 40 siswa baru kelas satu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sekolah tersebut. Mereka yang semula ceria mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) mendadak cemas ketika melihat kehadiran polisi bersenjata lengkap dan anjing pelacak.

Sri Wahyuni, salah satu guru kelas satu, menuturkan bahwa tim pengajar langsung membentuk lingkaran kecil untuk mengalihkan perhatian anak-anak. “Kami mengajak mereka bernyanyi dan bermain tepuk tangan. Beberapa siswa menangis, tapi kami peluk dan kami katakan bahwa polisi datang untuk melindungi kami. Kami tidak ingin rasa takut ini menjadi memori buruk pertama mereka di sekolah,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kepala SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Dra. Endang Purwaningsih, M.Pd., menambahkan bahwa keselamatan psikologis siswa menjadi prioritas yang tidak kalah penting. “Hari pertama sekolah seharusnya menyenangkan. Ketika situasi darurat seperti ini terjadi, kami bersyukur para guru begitu sigap menjaga suasana hati anak-anak, terutama siswa baru yang masih dalam masa transisi,” katanya.

Hasil Pemeriksaan dan Tindak Lanjut

Setelah melakukan penyisiran selama hampir dua jam, tim Gegana memastikan bahwa tidak ditemukan benda mencurigakan apa pun di area sekolah. Kapolsek Jagakarsa secara resmi menyatakan bahwa ancaman tersebut adalah hoaks. “Kami nyatakan situasi aman dan terkendali. Tidak ada bom. Ancaman ini patut diduga sebagai bentuk teror psikologis,” tegas Kompol Arif.

Kegiatan belajar mengajar akhirnya dapat dilanjutkan pada pukul 10.30 WIB setelah polisi membuka kembali akses ke sekolah. Namun, sejumlah orang tua yang mendengar kabar ancaman itu memilih untuk menjemput anak mereka lebih awal. Pihak sekolah memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa kondisi sudah sepenuhnya aman.

Polisi kini tengah mendalami nomor pengirim pesan WhatsApp yang diduga menggunakan kartu prabayar tidak teregistrasi. Penyidik Unit Reskrim Polsek Jagakarsa telah meminta keterangan dari tiga orang saksi, termasuk staf tata usaha yang pertama kali membaca pesan tersebut. Ancaman ini juga dilaporkan ke Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk menjadi catatan pengamanan di satuan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Drs. Budi Hartono, M.Si., mengapresiasi respons cepat sekolah dan kepolisian. “Kami akan mengevaluasi prosedur darurat di seluruh sekolah, khususnya terkait komunikasi krisis dan penanganan siswa di lapangan. Insiden ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah kunci,” ujar Budi melalui sambungan telepon.

Fenomena Ancaman Bom di Sekolah

Kejadian di Jagakarsa bukanlah yang pertama. Sepanjang tahun 2025–2026, Polda Metro Jaya mencatat sedikitnya tujuh laporan ancaman bom serupa yang menyasar institusi pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kebanyakan dari ancaman tersebut terbukti palsu dan dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan motif mencari perhatian atau sekadar iseng.

Pengamat keamanan siber, Didik Prasetyo, mengatakan bahwa era digital memudahkan siapapun untuk mengirimkan pesan ancaman secara anonim. “Regulasi registrasi kartu SIM sudah ketat, tetapi masih ada celah. Penegakan hukum harus tegas agar menimbulkan efek jera. Ancaman bom bukan lelucon, ini serangan terhadap rasa aman publik,” jelasnya.

Sementara itu, bagi warga SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, peristiwa Senin pagi itu menjadi bukti bahwa ketenangan dan solidaritas guru mampu meredakan situasi genting. Para siswa baru yang sempat ketakutan akhirnya bisa tersenyum kembali ketika polisi memberikan tepuk tangan setelah menyelesaikan tugasnya. Momen itu pun menjadi penutup hari pertama sekolah yang tidak akan mereka lupakan—bukan karena ancaman, melainkan karena kehangatan yang mereka rasakan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User