Tren Blind Box Tak Terkendali Picu Adiksi dan Gangguan Mental
Fenomena blind box yang menjangkiti berbagai kalangan usia di Indonesia kini memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Akademisi dari IPB University, dr. Samuel Stemi, secara resmi menyampaikan pering...
Fenomena blind box yang menjangkiti berbagai kalangan usia di Indonesia kini memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Akademisi dari IPB University, dr. Samuel Stemi, secara resmi menyampaikan peringatan keras bahwa konsumsi blind box yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan perilaku adiktif dan mempercepat proses penuaan dini. Peringatan ini disampaikan dalam forum diskusi kesehatan masyarakat yang berlangsung di Bogor, Senin lalu, menanggapi maraknya konten pembukaan blind box di media sosial yang mendorong perilaku konsumtif berlebihan.
Mekanisme Adiksi yang Terbentuk
Menurut dr. Samuel Stemi, mekanisme psikologis di balik blind box sangat mirip dengan sistem variable ratio reinforcement yang ditemukan dalam perilaku judi. Ketidakpastian terhadap isi kotak menjadi pemicu utama pelepasan dopamin dalam otak. "Sistem imbalan acak ini menciptakan siklus antisipasi dan kepuasan yang membuat individu terus membeli, meskipun secara rasional mereka menyadari nilai barang yang diperoleh tidak sebanding dengan pengeluaran," tegasnya. Data awal yang dikumpulkan tim riset IPB University menunjukkan peningkatan frekuensi pembelian blind box hingga 300 persen pada kelompok usia 18–25 tahun selama periode 2024–2025.
Lebih lanjut, dr. Samuel menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap sensasi kejutan ini menimbulkan toleransi neurologis. Konsumen memerlukan stimulus yang semakin kuat dan frekuensi pembelian yang semakin tinggi untuk memperoleh tingkat kepuasan yang sama. Kondisi ini memperkuat jerat adiksi yang sulit diputus tanpa intervensi profesional. Dalam praktik klinis yang ia tangani, gejala putus zat psikologis mulai terlihat ketika individu dipaksa berhenti membeli blind box dalam jangka waktu tertentu.
Dampak Fisiologis dan Penuaan Dini
Selain konsekuensi psikologis, dr. Samuel menyoroti temuan mengejutkan terkait dampak fisiologis jangka panjang. Stres kronis yang timbul dari tekanan finansial dan obsesi mengoleksi secara ilmiah terbukti memicu peningkatan kadar kortisol secara signifikan. "Kadar kortisol yang tinggi dalam periode berkepanjangan menyebabkan degradasi kolagen, melemahnya elastisitas kulit, gangguan siklus tidur, dan penurunan fungsi kognitif. Ini adalah jalur langsung menuju penuaan dini pada tingkat sel," ujarnya. Penelitian pendahuluan yang dilakukan bersama tim Dermatologi dan Psikiatri Klinis IPB University menunjukkan bahwa individu yang tergolong adiksi blind box memiliki usia biologis rata-rata lima hingga tujuh tahun lebih tua dibandingkan usia kronologis mereka.
Gangguan tidur menjadi salah satu indikator paling kentara. Rangkaian sesi wawancara mendalam dengan responden mengungkapkan bahwa dorongan untuk memantau perilisan seri terbaru dan mengikuti sesi live streaming pembukaan blind box mengakibatkan penurunan durasi tidur rata-rata 2,3 jam per malam. Dalam jangka panjang, defisit tidur ini berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe dua, dan gangguan metabolisme.
Implikasi Sosial dan Ekonomi
Survei terbatas yang dilakukan di wilayah Jabodetabek mencatat bahwa pengeluaran bulanan untuk blind box pada kelompok pengguna berat mencapai Rp 4,5 juta hingga Rp 7,8 juta per bulan. Angka ini sangat timpang jika dibandingkan dengan pendapatan rata-rata responden yang berada pada rentang Rp 6 juta hingga Rp 10 juta. "Ini adalah bom waktu finansial bagi generasi muda. Mekanisme pembayaran digital dan pinjaman online memperparah situasi karena menciptakan ilusi kemampuan beli yang tidak dimiliki," papar dr. Samuel.
Secara sosial, fenomena ini menciptakan hierarki baru berbasis kepemilikan seri langka yang memicu tekanan kelompok sebaya. Individu yang tidak mampu mengikuti tren berisiko mengalami isolasi dan penurunan harga diri. Di beberapa komunitas daring yang dipantau tim riset, istilah gacha anxiety mulai digunakan untuk menggambarkan tekanan psikologis akibat ketertinggalan dari siklus koleksi. "Yang paling rentan adalah remaja dan dewasa muda yang masih dalam tahap pembentukan identitas diri. Validasi sosial yang mereka peroleh dari kelengkapan koleksi menjadi sangat berbahaya ketika sumber validasi tersebut bersifat eksternal dan tidak stabil," tambahnya.
Rekomendasi dan Langkah Intervensi
Menindaklanjuti temuan ini, dr. Samuel merekomendasikan pembentukan satuan tugas lintas disiplin yang melibatkan psikolog, psikiater, dokter umum, dan pekerja sosial. Edukasi publik melalui institusi pendidikan formal dinilai penting untuk membangun literasi konsumen sejak dini. "Kami mendorong Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk mulai menyusun regulasi yang mewajibkan pencantuman peringatan risiko adiksi pada produk blind box, sebagaimana yang diterapkan pada produk tembakau," usulnya.
Rekomendasi lainnya mencakup penerapan batasan usia minimum pembelian dan larangan penjualan blind box di area yang mudah diakses anak-anak. Di tingkat klinis, dr. Samuel dan tim tengah mengembangkan protokol terapi kognitif-perilaku yang disesuaikan dengan karakteristik adiksi belanja berbasis kejutan. "Ini bukan semata tanggung jawab individu. Ada ekosistem bisnis yang sengaja merekayasa kerentanan psikologis konsumen demi keuntungan. Sudah saatnya kita membicarakan perlindungan kesehatan masyarakat secara serius," pungkasnya. Rapat koordinasi lanjutan dengan pemangku kepentingan dijadwalkan berlangsung pada triwulan ketiga tahun ini untuk membahas rancangan kebijakan yang lebih konkret.
Baca juga:
Comments (0)