Pertamina Pride Berhasil Lintasi Selat Hormuz Setelah Tertahan Empat Bulan
Jakarta – Kapal tanker milik PT Pertamina (Persero), Pertamina Pride, akhirnya berhasil menyeberangi Selat Hormuz pada Rabu (2/7) setelah tertahan di kawasan Teluk Persia selama hampir empat bulan. ...
Jakarta – Kapal tanker milik PT Pertamina (Persero), Pertamina Pride, akhirnya berhasil menyeberangi Selat Hormuz pada Rabu (2/7) setelah tertahan di kawasan Teluk Persia selama hampir empat bulan. Konfirmasi ini disampaikan langsung oleh manajemen perseroan melalui keterangan resmi di Jakarta, menandai akhir dari periode ketidakpastian yang bermula sejak awal Maret 2025.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyatakan rasa syukur atas keberhasilan kapal berbendera Indonesia itu melintasi salah satu jalur pelayaran paling strategis sekaligus rawan di dunia. “Alhamdulillah, seluruh awak kapal dalam kondisi selamat dan kapal telah melewati Selat Hormuz dengan pengawalan ketat. Ini hasil dari kerja sama banyak pihak,” ujarnya.
Kronologi Penundaan di Perairan Timur Tengah
Penundaan keberangkatan Pertamina Pride bermula pada awal Maret 2025, ketika eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia meningkat tajam. Serangkaian insiden keamanan, termasuk serangan terhadap kapal komersial oleh kelompok bersenjata non-negara, memaksa otoritas pelayaran internasional memberlakukan protokol bahaya level tinggi. Kapal yang saat itu baru saja menyelesaikan pemuatan minyak mentah dari pelabuhan di Timur Tengah terpaksa menunda pelayaran dan berlindung di perairan lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab.
Berdasarkan data sistem identifikasi otomatis (AIS), kapal dengan kapasitas angkut lebih dari 300.000 deadweight ton (DWT) tersebut sempat berlabuh selama beberapa pekan sembari menunggu situasi kondusif. Selama masa penantian, Pertamina terus berkoordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri, perwakilan diplomatik Indonesia di Teheran dan Abu Dhabi, serta International Maritime Organization (IMO) untuk mencari jalur aman.
Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, dalam keterangan terpisah menegaskan bahwa keselamatan 25 awak kapal yang seluruhnya warga negara Indonesia menjadi prioritas absolut. “Kami tidak akan pernah mengorbankan keselamatan personel dan aset negara demi kecepatan. Keputusan menunggu diambil setelah melalui kalkulasi risiko yang matang,” tegasnya.
Diplomasi Multi-Jalur dan Jaminan Keamanan
Proses yang memakan waktu hampir empat bulan itu melibatkan diplomasi multi-jalur. Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, melakukan komunikasi tingkat tinggi dengan negara-negara pantai Selat Hormuz serta kekuatan besar yang memiliki pengaruh di kawasan. Pertamina juga menjalin koordinasi dengan koalisi keamanan maritim internasional yang beroperasi di Teluk Persia guna memastikan koridor aman bagi kapal berbendera Merah Putih.
Pada akhir Juni 2025, setelah tercapai kesepakatan informal tentang jeda serangan di jalur pelayaran utama, Pertamina Pride memperoleh jaminan keamanan yang memadai. Kapal kemudian bergerak dari lokasi penantian menuju mulut Selat Hormuz dengan dikawal oleh kapal patroli koalisi. Tepat pada 2 Juli pukul 06.00 waktu setempat, kapal tanker raksasa itu berhasil melewati selat yang lebarnya hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya.
Fadjar Djoko Santoso menambahkan bahwa seluruh proses berlangsung sesuai dengan prosedur keselamatan standar internasional. “Tidak ada insiden selama pelayaran. Awak kapal dalam kondisi sehat dan komunikasi terus terjaga dengan pusat kendali kami di Jakarta,” katanya.
Dampak pada Stok BBM dan Respons Pasar
Tertahannya Pertamina Pride yang mengangkut sekitar 1 juta barel minyak mentah untuk diolah di kilang Cilacap menimbulkan pertanyaan tentang ketahanan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional. Namun, manajemen Pertamina memastikan bahwa selama periode penundaan, distribusi BBM ke seluruh Indonesia tidak terganggu. “Kami memiliki cadangan strategis dan diversifikasi sumber pasokan dari berbagai negara. Kebijakan antisipatif ini terbukti efektif menjamin ketersediaan BBM,” jelas Fadjar.
Pengamat energi dari Universitas Indonesia, Iwa Garniwa, menilai bahwa insiden ini menyoroti kerentanan Indonesia terhadap gangguan di chokepoint energi dunia. “Selat Hormuz dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak global. Indonesia harus mempercepat pembangunan kilang domestik dan memperluas sumber impor ke kawasan yang lebih stabil seperti Afrika dan Amerika Latin,” sarannya saat dihubungi secara terpisah.
Di pasar modal, saham PT Pertamina (Persero) tetap stabil setelah pengumuman keberhasilan penyeberangan. Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir melalui akun media sosialnya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. “Kerja sama diplomasi dan korporasi membuahkan hasil. Ini bukti bahwa Indonesia mampu melindungi kepentingan strategisnya di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian,” tulisnya.
Antisipasi Jangka Panjang dan Pelayaran Berikutnya
Belajar dari kejadian ini, Pertamina mulai menerapkan langkah antisipatif yang lebih komprehensif. Nicke Widyawati mengungkapkan bahwa perusahaan tengah merevisi prosedur operasi standar untuk pengiriman minyak melalui rute berisiko tinggi, termasuk peninjauan ulang klausul asuransi perang dan opsi rute alternatif melalui Tanjung Harapan. “Kami juga akan memperkuat armada dengan kapal berbendera nasional yang lebih modern dan bekerja sama dengan mitra pelayaran global untuk meningkatkan fleksibilitas,” ujarnya.
Saat ini, Pertamina Pride sedang melanjutkan pelayaran menuju perairan Indonesia dan diperkirakan tiba di Kilang Cilacap, Jawa Tengah, dalam waktu sekitar 10 hari. Kedatangan kargo ini akan segera menambah stok minyak mentah yang siap diolah untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional, khususnya menjelang kuartal ketiga yang biasanya mengalami peningkatan konsumsi. Keberhasilan ini menjadi catatan penting dalam sejarah diplomasi energi Indonesia sekaligus pengingat akan pentingnya kemandirian dan ketahanan energi di masa depan.
Baca juga:
Comments (0)