Kemenag Rejang Lebong Gelar Bimtek Rashdul Kiblat untuk Akurasi Arah Kiblat
REJANG LEBONG – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Rashdul Kiblat pada Senin (8/4) di aula kantor setempat. Keg...
REJANG LEBONG – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Rashdul Kiblat pada Senin (8/4) di aula kantor setempat. Kegiatan ini dihadiri oleh 75 peserta yang terdiri dari pengurus masjid, takmir musala, penyuluh agama, dan perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) dari 15 kecamatan se-Kabupaten Rejang Lebong. Bimtek digelar sebagai respons terhadap temuan sejumlah tempat ibadah yang arah kiblatnya belum sepenuhnya mengacu pada standar ilmu falak.
Kepala Kemenag Rejang Lebong, Lukman Hakim S.Ag., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa akurasi arah kiblat adalah bagian dari kesempurnaan ibadah umat Islam.
“Kiblat bukan sekadar simbol, melainkan syarat sah salat. Melalui bimtek ini kami ingin memastikan setiap masjid dan musala di Rejang Lebong menghadap ke Kakbah dengan tepat berdasarkan perhitungan falakiah, bukan perkiraan semata,”ujarnya. Lukman menambahkan, bimtek ini akan ditindaklanjuti dengan verifikasi lapangan secara bertahap hingga akhir tahun.
Rashdul Kiblat sebagai Metode Akurat
Peserta bimtek mendapat pemahaman mendalam tentang Rashdul Kiblat, yaitu fenomena posisi matahari tepat berada di atas Kakbah yang terjadi dua kali dalam setahun. Pada momen tersebut, setiap benda yang berdiri tegak akan membentuk bayangan yang menunjuk langsung ke arah kiblat. Pemateri dari Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Bengkulu, Drs. H. Ahmad Fauzi, menjelaskan bahwa peristiwa ini berlangsung pada 27–28 Mei pukul 16.18 WIB dan 15–16 Juli pukul 16.27 WIB.
“Masyarakat dapat menggunakan tongkat atau tiang tegak pada jam tersebut. Bayangan yang jatuh akan menunjukkan arah kiblat sejati. Metode ini sangat sederhana namun memiliki tingkat akurasi tinggi asalkan dilakukan di tempat yang terkena sinar matahari langsung,”papar Fauzi.
Kombinasi Ilmu Falak dan Teknologi Digital
Selain metode manual, bimtek juga membekali peserta dengan pemanfaatan teknologi digital untuk mempermudah penentuan arah kiblat. Para peserta diperkenalkan pada aplikasi penentu kiblat berbasis satelit, seperti Qibla Finder dan Google Earth Pro, yang dapat memberikan koordinat lintang dan bujur serta sudut kiblat secara presisi. Sejumlah peserta bahkan berlatih langsung menggunakan kompas kiblat dan teodolit yang disiapkan oleh panitia.
“Kami ajarkan cara menghitung azimuth kiblat dengan data astronomi terkini, lalu membandingkan hasilnya dengan aplikasi digital. Tujuannya agar takmir masjid memiliki kemampuan ganda, baik konvensional maupun digital, sehingga bisa mengecek ulang arah kiblat secara mandiri,”tambah Fauzi.
Respon Peserta dan Rencana Tindak Lanjut
Salah seorang peserta, Junaidi, pengurus Masjid Al-Muttaqin Kecamatan Curup, mengaku mendapatkan tambahan wawasan penting.
“Selama ini kami mengandalkan penunjukkan tokoh masyarakat saat pertama kali mendirikan masjid. Setelah mengikuti bimtek, saya paham bahwa arah kiblat bisa menyimpang hingga beberapa derajat jika tidak diperiksa dengan benar. Saya akan segera mengukur ulang masjid kami bersama pengurus lain,”ucapnya.
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Rejang Lebong, Hj. Rosmawati, S.Ag., M.H., menyebutkan bahwa bimtek ini adalah bagian dari program prioritas Kantor Kemenag tahun 2025.
“Kami menargetkan seluruh tempat ibadah di Rejang Lebong—tercatat 341 masjid dan 287 musala—sudah terverifikasi arah kiblatnya pada akhir Desember nanti. Tim gabungan KUA dan penyuluh agama akan turun ke lapangan menggunakan peralatan ukur yang telah distandardisasi,”tegas Rosmawati.
Sebagai langkah awal, Kemenag Rejang Lebong telah mendistribusikan buku panduan praktis “Metode Praktis Penentuan Arah Kiblat” kepada seluruh peserta. Buku tersebut berisi jadwal Rashdul Kiblat 2025, tabel azimuth kiblat tiap kecamatan, serta panduan langkah demi langkah penggunaan alat manual dan digital. Lukman berharap, dengan adanya panduan tersebut, kesadaran masyarakat untuk mengecek arah kiblat secara berkala akan meningkat.
Rangkaian bimtek ditutup dengan simulasi pengukuran arah kiblat di halaman kantor Kemenag menggunakan fenomena Rashdul Kiblat yang kebetulan terjadi pada hari yang sama. Sinar matahari sore menciptakan bayangan tegas yang langsung ditandai peserta sebagai garis kiblat. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan perhitungan aplikasi digital, dan menunjukkan selisih yang sangat kecil, memperkuat keyakinan peserta akan akurasi metode yang diajarkan.
Baca juga:
Comments (0)