AS Kembali Gempur Iran, Ledakan Guncang Wilayah Selatan
Washington, DC – Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan militer tambahan ke wilayah selatan Iran pada Kamis dini hari (13/3/2025), menyusul eskalasi tajam yang dipicu oleh baku tembak a...
Washington, DC – Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan militer tambahan ke wilayah selatan Iran pada Kamis dini hari (13/3/2025), menyusul eskalasi tajam yang dipicu oleh baku tembak antara kedua negara sehari sebelumnya. Operasi yang melibatkan pesawat tempur siluman dan pengebom strategis ini menargetkan fasilitas pertahanan udara serta pusat komando militer Iran. Ledakan dahsyat dilaporkan mengguncang kota-kota di Provinsi Bushehr dan Hormozgan, memicu kepanikan di kalangan warga sipil dan memaksa otoritas setempat memberlakukan jam malam darurat.
Presiden Donald Trump, dalam sebuah pernyataan melalui platform Truth Social tepat sebelum serangan, kembali menegaskan sikap keras Washington. “Mereka akan merasakan kemarahan yang belum pernah mereka lihat. Malam ini, kami akan menghantam mereka lebih keras,” tulis Trump, yang dikutip oleh staf Gedung Putih. Pernyataan tersebut mengonfirmasi bahwa serangan susulan ini merupakan bagian dari strategi eskalasi terukur yang dirancang Pentagon untuk menekan Teheran agar menghentikan program nuklir dan aktivitas proksinya di Timur Tengah.
Serangan Lanjutan Pasca Baku Tembak Selasa
Gelombang serangan baru ini terjadi hanya berselang sekitar 36 jam setelah insiden saling serang pada Selasa (11/3) yang menewaskan sedikitnya 12 personel militer Iran dan seorang kontraktor AS di Irak. Menurut sumber intelijen yang enggan disebutkan namanya, pada Selasa malam, unit Garda Revolusi Iran meluncurkan rentetan rudal balistik ke Pangkalan Udara Al-Asad dan Erbil di Irak, yang menampung pasukan AS. Sebagai balasan, militer AS dengan cepat melancarkan serangan presisi terhadap fasilitas penyimpanan rudal dan pusat logistik Korps Garda Revolusi Iran di wilayah barat Iran.
Namun, pada Rabu siang, Gedung Putih mengindikasikan bahwa serangan balasan tahap pertama tersebut dianggap belum cukup untuk memulihkan deterensi. “Presiden telah memberikan otorisasi untuk operasi lanjutan guna memastikan Iran memahami konsekuensi serius jika mereka melanjutkan agresi,” kata juru bicara Pentagon, Jenderal Patrick Ryder, dalam konferensi pers di Arlington, Virginia.
“Serangan malam ini menargetkan node komando dan kontrol yang tersisa, serta elemen kunci dari program rudal Iran yang digunakan untuk mengancam pasukan kami dan sekutu kami.”
Saksi mata di kota pesisir Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir aktif Iran, melaporkan mendengar sedikitnya tujuh ledakan bertubi-tubi sekitar pukul 02.00 dini hari. Rekaman video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan kilatan cahaya oranye dan kepulan asap tebal membubung dari arah pangkalan militer di selatan kota. Belum ada konfirmasi resmi mengenai kerusakan pada fasilitas nuklir Bushehr, namun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan pihaknya “sangat prihatin” dan tengah memantau situasi melalui kamera pengawas di lokasi.
Teheran Berikrar Akan Membalas dengan Proporsional
Pemerintah Iran melalui Kementerian Luar Negeri langsung mengutuk serangan terbaru ini sebagai “pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan dan hukum internasional.” Juru bicara Kemlu Iran, Nasser Kanaani, dalam pernyataan tertulis menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan tinggal diam.
“Agresi yang dilakukan Amerika Serikat terhadap tanah air kami tidak akan dibalas diam. Iran berhak penuh untuk mempertahankan diri dan akan mengambil langkah proporsional pada waktu dan tempat yang kami pilih sendiri,” ujar Kanaani.
Sementara itu, Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, memerintahkan seluruh unit pertahanan udara dan pasukan rudal untuk meningkatkan kesiapsiagaan ke level tertinggi. “Musuh telah melampaui garis merah. Mulai malam ini, setiap pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya adalah target sah kami,” tegas Bagheri, yang disambut sorakan dari hadirin di aula komando pusat. Analis militer menilai ancaman ini mengisyaratkan potensi serangan Iran terhadap pangkalan AS di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, atau bahkan kapal induk yang berpatroli di Laut Oman.
Kecaman Global dan Dampak Terhadap Stabilitas Kawasan
Eskalasi militer AS-Iran ini segera menuai kecaman luas dari komunitas internasional. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, dalam keterangan darurat di New York, mendesak kedua belah pihak untuk “menahan diri secara maksimal” dan memperingatkan bahwa kawasan Timur Tengah kini berada di “ambang perang besar yang akan menimbulkan penderitaan luar biasa.”
“Saya menyerukan diakhirinya segera semua aksi militer. Setiap kesalahan perhitungan bisa memicu konflik regional yang tidak terkendali,” kata Guterres.
Rusia dan Tiongkok secara terpisah mengecam serangan AS sebagai tindakan unilateral yang memperburuk ketidakstabilan. Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut operasi militer AS sebagai “provokasi berbahaya yang mengabaikan norma-norma Piagam PBB.” Sementara itu, harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 8 persen dalam perdagangan elektronik semalam, mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui seperlima volume minyak global.
Di dalam negeri AS, serangan ini juga memicu perdebatan sengit di Kongres. Sejumlah senator dari Partai Demokrat mempertanyakan landasan hukum operasi militer tanpa persetujuan kongres. Senator Tim Kaine dari Virginia, dalam wawancara dengan CNN, menyatakan, “Presiden tidak bisa seenaknya menjerumuskan negara ke dalam perang terbuka tanpa otorisasi. Ini adalah pengkhianatan terhadap Konstitusi.” Di sisi lain, kubu Republik justru memberikan dukungan penuh, dengan Ketua DPR Mike Johnson menegaskan bahwa “Iran adalah rezim teroris yang harus dihentikan dengan kekuatan, bukan peredaan.”
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa akibat serangan lanjutan AS. Palang Merah Iran mengerahkan tim penyelamat ke daerah terdampak, namun akses terbatas karena kerusakan infrastruktur dan potensi serangan susulan. Pemerintah sementara Irak, yang terjepit di tengah, meminta semua aset asing untuk segera meninggalkan wilayahnya guna menghindari dampak ikutan. Ketegangan dipastikan akan terus membara seiring kedua negara sama-sama menunjukkan sikap tidak akan mundur dari ambang perang terbuka.
Baca juga:
Comments (0)