Pemkot Jayapura Sebut MTQ Tameng Remaja dari Jerat Narkoba dan Konflik
Jayapura – Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura, Papua, menegaskan perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) berfungsi sebagai benteng perlindungan bagi generasi muda dari ancaman narkoba dan tawuran....
Jayapura – Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura, Papua, menegaskan perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) berfungsi sebagai benteng perlindungan bagi generasi muda dari ancaman narkoba dan tawuran. Kompetisi keagamaan ini dinyatakan bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan instrumen strategis dalam pembinaan karakter yang menyasar ribuan remaja di wilayah ibu kota provinsi tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Persiapan MTQ ke-27 Tingkat Kota Jayapura yang digelar di Balai Kota, Senin (15/2), dengan melibatkan unsur Kementerian Agama, organisasi kepemudaan Islam, serta tokoh masyarakat setempat.
Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Setda Kota Jayapura, Drs. Markus Warobay, M.Si., mewakili Penjabat Wali Kota, menyatakan bahwa pendekatan melalui MTQ diyakini mampu mentransformasi perilaku remaja secara fundamental. “Kami melihat gejala penyalahgunaan narkoba dan bentrokan antarkelompok pemuda semakin mengkhawatirkan. Dalam dua tahun terakhir, kasus yang melibatkan anak usia sekolah meningkat 17 persen. MTQ menjadi instrumen pencegahan dini yang mengarahkan energi mereka ke kegiatan produktif dan spiritual,” ujarnya.
Peran Strategis MTQ dalam Pembinaan Remaja
Data yang dipaparkan dalam rapat koordinasi tersebut menunjukkan bahwa peserta MTQ di Kota Jayapura pada tahun sebelumnya mencapai 460 orang, didominasi oleh peserta berusia 12 hingga 24 tahun. Angka itu merepresentasikan potensi besar menjadikan MTQ sebagai pusat pembentukan identitas positif. Pemkot menargetkan peningkatan jumlah peserta sebesar 25 persen pada penyelenggaraan tahun ini, seiring dengan perluasan cabang lomba yang mencakup tilawah anak-anak, remaja, dewasa, tahfiz, serta karya tulis ilmiah Al-Quran.
Menurut Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, Hj. Siti Khodijah, S.Ag., M.Pd., animo peserta dari kalangan pesantren, sekolah umum, dan remaja masjid menunjukkan tren konsisten. “Banyak orang tua yang melaporkan perubahan perilaku anak setelah mengikuti pembinaan MTQ. Mereka menjadi lebih disiplin, menjauhi pergaulan bebas, dan fokus menghafal ayat-ayat suci. Ini adalah outcome sosial yang tidak bisa diukur semata dari trofi,” jelasnya. Pihaknya menegaskan bahwa setiap cabang lomba dirancang tidak hanya mengasah kemampuan seni baca Al-Quran, tetapi juga menanamkan pemahaman mendalam tentang akhlak dan hukum Islam.
Antisipasi Kenakalan Remaja Melalui Pendekatan Agama
Kebijakan menempatkan MTQ sebagai sarana preventif kenakalan remaja sejalan dengan Instruksi Wali Kota Nomor 3 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Pembinaan Keagamaan di Kalangan Pelajar. Pemkot bekerja sama dengan Kepolisian Resor Kota Jayapura dan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk menyisipkan materi anti-narkoba dan anti-kekerasan dalam sesi pembinaan pra-kompetisi. Kapolresta Jayapura, Kombes Pol. Drs. Jansen Sitohang, M.H., dalam kesempatan terpisah menyambut baik inisiatif tersebut. “Sinergi antara program keagamaan dan penegakan hukum menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi peredaran gelap narkoba. Remaja yang memiliki ikatan kuat dengan kegiatan masjid cenderung membentuk komunitas sehat yang saling mengawasi,” ungkapnya.
Berdasarkan catatan Satresnarkoba Polresta Jayapura, terdapat penurunan 9 persen kasus penyalahgunaan narkoba pada kelompok usia produktif di distrik-distrik yang gencar menggelar kegiatan keagamaan terpadu, termasuk MTQ tingkat distrik. Temuan ini memperkuat argumentasi Pemkot bahwa intervensi berbasis agama tidak dapat diabaikan dalam perencanaan pembangunan sumber daya manusia. Bahkan, musabaqah dijadwalkan menghadirkan sesi diskusi interaktif dengan mantan pecandu yang telah direhabilitasi melalui pendekatan keagamaan, sebagai bentuk pendidikan kesadaran langsung bagi peserta.
Target Peserta dan Agenda Kompetisi
Sekretaris Panitia MTQ ke-27, Drs. H. Zainal Arifin, M.Si., memaparkan bahwa penyelenggaraan akan berlangsung di Kompleks Masjid Raya Baiturrahim selama empat hari, mulai 24 hingga 27 Maret 2024. Total peserta yang ditargetkan mencapai 575 orang dari lima distrik di Kota Jayapura. Selain lomba inti, panitia menyelenggarakan pawai ta'aruf, bazar produk halal, serta bakti sosial yang melibatkan peserta dan masyarakat sekitar. “Kami ingin MTQ menjadi ruang publik yang inklusif, di mana semangat kompetisi berjalan seirama dengan penanaman nilai anti-kekerasan. Setiap peserta wajib menandatangani pakta integritas bebas narkoba dan bebas tawuran sebelum terdaftar resmi,” urainya.
Pemkot mengalokasikan anggaran sebesar Rp2,1 miliar yang bersumber dari APBD Kota Jayapura Tahun Anggaran 2024 untuk pelaksanaan MTQ dan program pembinaan lanjutan bagi juara di setiap kategori. Pemenang akan dikirim ke MTQ Tingkat Provinsi Papua sebagai representasi resmi Kota Jayapura. Penjabat Wali Kota Jayapura, Drs. Christian Sohilait, M.Si., dalam keterangan tertulisnya menekankan bahwa dukungan pendanaan ini merupakan bukti komitmen pemerintah dalam menempatkan remaja sebagai aset strategis pembangunan. “Kami tidak hanya berbicara tentang prestasi tilawah, tetapi juga bagaimana generasi muda Jayapura tumbuh menjadi individu yang tangguh, religius, dan berkontribusi positif bagi kota ini. Narkoba dan tawuran adalah musuh bersama yang harus dihadapi dengan membentengi mental dan spiritual anak-anak kita sejak dini,” tuturnya.
Para peserta angkatan sebelumnya yang diwawancarai secara terpisah mengakui dampak positif keikutsertaan dalam MTQ. Rahmat Hidayat (19), juara tahfiz tingkat kota tahun lalu, mengatakan bahwa persiapan lomba menghapalkannya dari pergaulan yang berpotensi merusak. “Hampir setiap hari saya menghabiskan waktu di masjid untuk murajaah. Secara tidak langsung, saya terhindar dari ajakan balapan liar dan mengonsumsi miras yang marak di lingkungan tempat tinggal saya,” tuturnya. Kisah serupa disampaikan Nurul Aini (16), finalis cabang tilawah remaja, yang merasa lingkungan pertemanannya berubah menjadi lebih terarah setelah bergabung dengan grup pembinaan MTQ.
Dengan pendekatan terintegrasi antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, dan keluarga, Pemkot Jayapura optimistis MTQ akan terus menjadi benteng yang kokoh. Pleno finalisasi persiapan yang dipimpin langsung oleh Staf Ahli Warobay menghasilkan sejumlah rekomendasi, termasuk penambahan posko kesehatan mental untuk mendeteksi dini kerentanan remaja terhadap pengaruh buruk. “Kami ingin setiap mushaf yang dibaca menjadi tameng, setiap ayat yang dihafal menjadi perisai. Itulah filosofi di balik MTQ yang sesungguhnya,” pungkas Warobay.
Baca juga:
Comments (0)