Respons Tubuh Individu Tentukan Keberhasilan Terapi Obesitas
Jakarta – Keberhasilan terapi penurunan berat badan pada pasien obesitas ternyata tidak semata bergantung pada jenis intervensi medis atau kedisiplinan diet. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan...
Jakarta – Keberhasilan terapi penurunan berat badan pada pasien obesitas ternyata tidak semata bergantung pada jenis intervensi medis atau kedisiplinan diet. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal endokrinologi internasional menegaskan bahwa respons biologis dan metabolik setiap individu menjadi faktor penentu utama efektivitas pengobatan. Temuan ini mengubah paradigma penanganan obesitas yang selama ini cenderung menggunakan pendekatan seragam.
Studi observasional yang melibatkan 2.300 pasien obesitas di lima pusat kesehatan primer menunjukkan variasi hasil terapi yang sangat lebar, meskipun seluruh partisipan menjalani protokol standar berupa defisit kalori 500–750 kkal per hari dan aktivitas fisik terstruktur. Dalam periode 12 bulan, hanya 38 persen peserta mencapai penurunan berat badan lebih dari 5 persen dari berat awal, sementara sisanya stagnan atau bahkan mengalami kenaikan kembali setelah bulan keenam. “Data ini mengonfirmasi bahwa variabel internal seperti laju metabolisme basal dan profil hormon pengatur nafsu makan jauh lebih dominan daripada sekadar asupan dan pengeluaran energi,” jelas Prof. dr. Budiman Santoso, Sp.PD-KEMD, PhD, Ketua Divisi Metabolik Endokrin RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (15/4).
Kompleksitas Biologis di Balik Kenaikan Berat Badan
Penelitian tersebut mengidentifikasi tiga komponen biologis utama yang memengaruhi respons terapi. Pertama, resistensi leptin dan ghrelin, yaitu ketidakseimbangan hormon yang mengatur rasa kenyang dan lapar. Pasien dengan kadar leptin tinggi namun reseptor tidak sensitif terus merasa lapar meskipun simpanan lemak sudah berlebih. Kedua, variasi genetik pada gen FTO dan MC4R yang mengatur penyimpanan energi dan preferensi makanan. Ketiga, kondisi mikrobiota usus yang berbeda antarindividu dan memengaruhi efisiensi penyerapan nutrisi serta produksi asam lemak rantai pendek yang berperan dalam metabolisme glukosa.
“Kami menemukan bahwa pasien dengan skor resistensi leptin tinggi memerlukan pendekatan farmakologis lebih awal. Tidak bisa hanya mengandalkan modifikasi gaya hidup karena otak mereka secara biologis ‘diprogram’ untuk mempertahankan berat badan,” ungkap dr. Anita Permata, M.Gizi, Sp.GK, anggota tim peneliti yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Temuan ini didukung oleh data metabolomik yang menunjukkan perbedaan signifikan pada profil asam amino rantai cabang dan asilkarnitin antara kelompok yang berhasil dan gagal menurunkan berat badan.
Penyakit Penyerta dan Efek Umpan Balik
Kondisi komorbiditas seperti diabetes melitus tipe 2, hipotiroidisme, dan sleep apnea turut menciptakan lingkaran setan yang menghambat penurunan berat badan. Studi ini mencatat pasien dengan diabetes yang menggunakan insulin sensitizer seperti metformin menunjukkan penurunan berat badan lebih baik dibandingkan mereka yang mendapat insulin eksogen, karena perbaikan resistensi insulin memutus siklus lipogenesis. Sebaliknya, pada pasien dengan hipotiroidisme yang tidak terkontrol, laju metabolisme istirahat turun hingga 25 persen dari nilai normal, sehingga defisit kalori yang dihitung secara teoretis menjadi tidak akurat.
“Pendekatan terapi harus dimulai dengan evaluasi menyeluruh terhadap status hormonal dan metabolik. Tanpa itu, dokter dan pasien sama-sama bekerja dalam kegelapan,” tegas Prof. Budiman yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni). Ia mendorong agar setiap fasilitas kesehatan primer memiliki akses minimal terhadap pemeriksaan leptin, insulin puasa, dan thyroid stimulating hormone (TSH) sebelum merancang program obesitas.
Kepatuhan dan Dukungan Berbasis Bukti
Meskipun faktor biologis sangat dominan, studi ini tidak menafikan peran kepatuhan dan perubahan perilaku. Analisis regresi logistik menunjukkan interaksi antara tingkat kepatuhan mencatat asupan dan penurunan berat badan hanya signifikan pada kelompok dengan profil metabolik ‘normal’. Pada kelompok dengan resistensi leptin tinggi, kepatuhan sempurna sekalipun tidak berkorelasi dengan outcome klinis yang memadai. Namun, kepatuhan tetap krusial untuk mempertahankan massa otot dan mencegah malnutrisi selama proses penurunan berat badan.
Para peneliti mengusulkan model stratifikasi terapi berbasis fenotipe obesitas, di mana pasien dibagi menjadi empat kelompok: obesitas dengan kelainan hormonal, obesitas genetik monogenik, obesitas dengan gangguan perilaku makan, dan obesitas metabolik sederhana. Masing-masing memerlukan pendekatan berbeda, mulai dari agonis GLP-1, inhibitor SGLT-2, hingga terapi kognitif-perilaku intensif. “Protokol ini akan kami uji dalam uji klinis fase III di 10 rumah sakit pendidikan tahun depan,” tambah dr. Anita.
Data Riset Kesehatan Dasar 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk dewasa Indonesia mencapai 23,4 persen, meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Dengan biaya langsung yang ditanggung BPJS Kesehatan mencapai Rp11,3 triliun per tahun untuk komplikasi terkait obesitas, temuan ini memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. “Personalisasi terapi obesitas bukan lagi opsi, melainkan keharusan sistemik demi efisiensi anggaran dan kualitas hidup pasien,” tutup Prof. Budiman.
Baca juga:
Comments (0)