Hajat Bumi Situ Rawabinong: Wujud Syukur dan Gotong Royong Masyarakat Bekasi
CIKARANG PUSAT – Ribuan warga Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, kembali menggelar tradisi Hajat Bumi di kawasan Situ Rawabinong pada Sabtu (15/3/2025). Prosesi adat yang t...
CIKARANG PUSAT – Ribuan warga Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, kembali menggelar tradisi Hajat Bumi di kawasan Situ Rawabinong pada Sabtu (15/3/2025). Prosesi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun ini bukan sekadar ritual budaya, melainkan juga cermin kuatnya semangat gotong royong masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian lingkungan dan identitas lokal.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan kirab budaya yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, perangkat desa, pemuda karang taruna, hingga anak-anak sekolah. Mereka membawa gunungan hasil bumi serta aneka sesaji sebagai simbol rasa syukur atas limpahan air danau Situ Rawabinong yang menjadi sumber pengairan utama bagi lahan pertanian di lima kampung sekitar.
Pemerintah Daerah Berikan Dukungan Penuh
Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pelestarian tradisi Hajat Bumi. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bekasi, Drs. Iman Santoso, M.Si., yang hadir langsung dalam acara tersebut, menyatakan bahwa Hajat Bumi Situ Rawabinong telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Bekasi sejak tahun 2023. “Pemerintah daerah tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga alokasi anggaran melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik untuk pemajuan kebudayaan desa, termasuk revitalisasi infrastruktur di sekitar Situ Rawabinong,” ujarnya di sela-sela acara.
Iman menambahkan, penetapan status Warisan Budaya Takbenda tersebut merupakan tindak lanjut dari amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. “Kami telah melakukan inventarisasi, pencatatan, dan penetapan melalui sidang tim ahli cagar budaya tingkat kabupaten pada akhir Desember 2022. Ini adalah langkah konkret perlindungan hukum agar tradisi ini tidak tergerus zaman,” tegasnya.
Ritual dan Prosesi: Dari Larung hingga Doa Bersama
Rangkaian inti Hajat Bumi diawali dengan prosesi ngaruat atau ruwatan di tepian danau. Sesepuh adat setempat, Ki Hanafi (72), memimpin doa dengan bahasa Sunda kuno yang diyakini telah digunakan sejak abad ke-19. Selanjutnya, gunungan hasil bumi yang terdiri dari padi, jagung, sayur-mayur, dan buah-buahan dilarung ke tengah Situ Rawabinong menggunakan jukung atau perahu tradisional. “Larung ini melambangkan pengembalian sebagian rezeki kepada alam sekaligus permohonan agar debit air danau tetap stabil sepanjang tahun,” jelas Ki Hanafi.
Puncak acara ditandai dengan doa bersama yang dipimpin oleh ulama setempat, KH. Ahmad Muzakki, dan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Kepala Desa Hegarmukti, H. Edi Suharno. Tumpeng berukuran tiga kali lipat dari tumpeng biasa itu kemudian dibagikan kepada warga dan pengunjung sebagai simbol keberkahan. Tahun ini, panitia mencatat lebih dari 2.500 warga terlibat langsung, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar 1.800 orang.
Gotong Royong Jadi Kekuatan Utama
Kepala Desa Hegarmukti, H. Edi Suharno, mengatakan bahwa seluruh persiapan dan pelaksanaan Hajat Bumi sepenuhnya digerakkan oleh swadaya masyarakat. “Tidak ada iuran wajib. Warga secara sukarela menyumbang tenaga, bahan pangan, dan peralatan. Bahkan, kelompok tani ‘Mekar Tani’ menyediakan seluruh hasil bumi gunungan, sementara karang taruna dan PKK mengurus konsumsi ribuan orang. Ini bukti gotong royong masih menjadi roh kehidupan kami,” paparnya.
Hal senada diungkapkan oleh Ketua Panitia Hajat Bumi 2025, Rudi Hartono. Ia memaparkan bahwa sejak tiga bulan sebelum acara, warga sudah bergotong royong membersihkan eceng gondok dan endapan sampah di danau seluas 11 hektare tersebut. “Kami melibatkan sekitar 200 relawan setiap minggunya. Ini sekaligus menjadi agenda rutin normalisasi danau, karena sedimentasi menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan Situ Rawabinong,” katanya.
Pelestarian Budaya dan Daya Tarik Wisata
Selain aspek spiritual dan sosial, Hajat Bumi Situ Rawabinong kini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya unggulan Kabupaten Bekasi. Menurut data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, kunjungan wisatawan ke kawasan Situ Rawabinong selama triwulan pertama 2025 melonjak 35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan puncak kunjungan terjadi saat pekan Hajat Bumi. “Kami sedang mengembangkan desa wisata berbasis komunitas di Hegarmukti, di mana Hajat Bumi menjadi event puncak. Ini sejalan dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional melalui sektor pariwisata,” ungkap Iman Santoso.
Pada kesempatan yang sama, Anggota DPRD Kabupaten Bekasi dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, H. Wahyu Nugraha, S.H., yang juga hadir, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga warisan budaya. “Kami di Komisi IV sedang menggodok Peraturan Daerah tentang Pelestarian Cagar Budaya dan Tradisi. Harapannya, setiap tradisi seperti Hajat Bumi ini mendapatkan payung hukum yang kuat dan dukungan anggaran berkelanjutan dari APBD,” katanya.
Tokoh milenial Desa Hegarmukti, Febriyani Putri (24), mengaku bangga bisa menjadi bagian dari dokumentasi acara melalui platform media sosial. “Saya bersama tim GenPI Bekasi membuat konten video prosesi adat dan mengunggahnya ke YouTube serta Instagram. Banyak komentar positif dari anak muda bahwa tradisi ini keren dan layak dipromosikan. Kami ingin membuktikan bahwa budaya bukanlah sesuatu yang kuno,” ujarnya.
Harapan untuk Generasi Mendatang
Di akhir acara, Ki Hanafi menyampaikan pesan penting kepada generasi muda. “Tradisi ini adalah titipan leluhur. Jika bukan kita yang merawat, siapa lagi? Air Situ Rawabinong bukan sekadar air, melainkan aliran sejarah yang menghidupi leluhur kami saat membuka lahan Hegarmukti tahun 1878. Saya berharap anak cucu tetap meneruskan Hajat Bumi meskipun zaman terus berubah,” tuturnya.
Rangkaian acara ditutup dengan penampilan pagelaran wayang golek semalam suntuk yang menceritakan kisah Dewi Sri, simbol dewi padi dan kesuburan. Seluruh warga dan tamu undangan menyaksikan dengan khidmat, menandakan bahwa akar budaya Sunda di Bekasi bagian selatan tetap tertanam kuat di tengah pesatnya industrialisasi. Pemerintah Kabupaten Bekasi berencana menggelar Festival Hajat Bumi se-Kabupaten pada Agustus mendatang sebagai upaya lebih luas mempromosikan tradisi serupa dari 12 desa lainnya.
Baca juga:
Comments (0)