Perluasan Tiga KEK Dinilai Krusial bagi Penguatan Hilirisasi Industri

JAKARTA — Perluasan kawasan di tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis industri, yakni Gresik di Jawa Timur, Kendal di Jawa Tengah, dan Galang Batang di Kepulauan Riau, dinilai menjadi langkah st...

Jul 12, 2026 - 14:19
0 0

JAKARTA — Perluasan kawasan di tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis industri, yakni Gresik di Jawa Timur, Kendal di Jawa Tengah, dan Galang Batang di Kepulauan Riau, dinilai menjadi langkah strategis yang bakal memperkokoh kebijakan hilirisasi nasional serta menggenjot aliran investasi manufaktur. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyampaikan bahwa penambahan area dan fasilitas di ketiga zona tersebut merupakan instrumen penting untuk mempercepat transformasi ekonomi dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi pusat produksi barang bernilai tambah.

"Ketiga KEK ini secara langsung akan menjadi fondasi yang menopang implementasi larangan ekspor mineral mentah dan program industri turunan. Jika kawasan diperluas dengan infrastruktur yang matang, kami perkirakan kapasitas serapan investasi manufaktur bisa naik signifikan, terutama di sektor pengolahan logam, kimia dasar, dan komponen otomotif," kata Faisal dalam wawancara di Jakarta, Kamis.

Fokus pada Hilirisasi dan Penciptaan Nilai Tambah

Perluasan ketiga KEK tidak lepas dari agenda besar pemerintah yang tertuang dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional dan peta jalan hilirisasi mineral. KEK Galang Batang, misalnya, berlokasi di Pulau Bintan yang menjadi simpul pengolahan bauksit menjadi alumina. Di tempat yang sama, smelter berkapasitas 2 juta ton alumina per tahun telah beroperasi, dan perluasan kawasan akan memungkinkan pembangunan pabrik pemurnian lanjutan hingga produksi aluminium ingot. Sementara itu, KEK Kendal yang telah menarik investasi lebih dari Rp50 triliun didominasi oleh industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur, akan terus dikembangkan ke sektor manufaktur berteknologi menengah seperti komponen elektronik dan suku cadang mesin.

Untuk KEK Gresik, yang lokasinya terintegrasi dengan salah satu kawasan industri petrokimia terbesar nasional, perluasan area seluas 200 hektare pada tahun ini ditargetkan mampu menampung sedikitnya 15 tenant baru dari sektor kimia hilir dan farmasi. "Sinergi lokasi dengan pelabuhan internasional dan akses Tol Trans Jawa memberikan keunggulan logistik yang sulit ditandingi. Pemerintah harus memastikan kemudahan perizinan dan insentif pajak yang sudah ditetapkan benar-benar berjalan efektif di lapangan," ujar Faisal.

Peningkatan Investasi Manufaktur yang Signifikan

Menurut catatan Dewan Nasional KEK, realisasi investasi di 20 KEK yang telah beroperasi hingga akhir tahun 2025 tercatat mencapai Rp242,6 triliun, dengan kontribusi terbesar dari KEK Gresik, Kendal, dan Galang Batang. Faisal memperkirakan, dengan adanya tambahan lahan dan peningkatan status infrastruktur di tiga KEK tersebut, akumulasi investasi manufaktur bisa bertambah rata-rata 12–15 persen per tahun hingga 2030. "Jika ketiga KEK ini dimaksimalkan, kami memproyeksikan penciptaan lapangan kerja baru di sektor formal mencapai 90.000 hingga 110.000 orang dalam lima tahun ke depan, belum termasuk efek pengganda pada sektor logistik, perhotelan, dan jasa penunjang," jelasnya.

Data Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal menunjukkan, sektor manufaktur menyumbang 41,3 persen dari total investasi sepanjang Januari–September 2025. Dominasi ini, menurut Faisal, akan semakin solid apabila kebijakan hilirisasi yang selama ini bertumpu pada larangan ekspor bijih nikel diperluas ke komoditas lain seperti bauksit, tembaga, dan pasir silika, di mana ketiga KEK yang diperluas memiliki ekosistem yang siap menampung industri pengolahannya.

Tantangan Infrastruktur dan Kesiapan Tenaga Kerja

Meski perluasan kawasan dipandang sebagai langkah maju, Faisal mengingatkan bahwa pemerintah pusat dan daerah harus menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumah. Ketersediaan pasokan listrik yang stabil dan harga gas bumi yang kompetitif menjadi syarat mutlak agar industri manufaktur padat energi mampu bersaing dengan produk impor. Di Kendal dan Galang Batang, misalnya, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga gas dan instalasi pengolahan air bersih masih bergantung pada penyelesaian pembebasan lahan yang sering terkendala.

"Perluasan fisik harus dibarengi dengan perluasan akses pelatihan vokasi. Saya mendorong agar setiap KEK wajib memiliki pusat pelatihan kerja yang terintegrasi dengan kebutuhan spesifik tenant. Tanpa SDM yang cakap, kita hanya akan menjadi penonton di tengah banjir investasi," tegasnya.

Lebih jauh, Faisal menyarankan agar revisi Peraturan Pemerintah tentang KEK mengakomodasi insentif baru berupa percepatan depresiasi aset dan pengurangan Pajak Penghasilan Badan hingga 0 persen untuk investasi pionir di bidang riset dan inovasi material maju. Langkah itu, katanya, akan membedakan KEK Indonesia dari zona serupa di negara tetangga yang sama-sama gencar menawarkan paket insentif.

Dengan berlakunya Undang-Undang Cipta Kerja dan berbagai aturan turunannya yang menyederhanakan perizinan, momentum perluasan tiga KEK ini, menurut Faisal, harus dikawal ketat agar tidak sekadar menjadi seremoni penambahan lahan, melainkan benar-benar menjelma sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berdaya saing global.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User