Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan selisih imbal hasil atau spread antara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dan obligasi pemerintah Amerika Serikat (UST) tenor 10 tahun terus menyempit. Berdasarkan data per 7 Oktober 2026, spread tersebut ditetapkan berada di level 188 basis poin (bps), turun signifikan dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Suahasil dalam forum Investor Daily Summit di Jakarta, Kamis (8/10/2026). Menurutnya, penyempitan spread menjadi indikator menguatnya kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia serta kualitas pengelolaan makroekonomi yang dijalankan pemerintah.
"Spread yang semakin kecil menunjukkan pasar menilai risiko Indonesia relatif terkendali. Ini buah dari konsistensi kebijakan fiskal dan moneter yang terjaga," ujar Suahasil di hadapan peserta forum.
Imbal Hasil UST Cetak Rekor 23 Tahun
Dalam paparannya, Suahasil mengungkapkan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun saat ini berada di level 5,28 persen. Angka tersebut disebut sebagai yang tertinggi dalam hampir 23 tahun terakhir, sehingga memicu arus modal kembali mengalir ke Negeri Paman Sam.
"Amerika Serikat menawarkan suku bunga 5,28 persen. Akibatnya, banyak modal kembali ke Amerika karena suku bunganya relatif tinggi, bahkan tertinggi dalam hampir 23 tahun terakhir," kata Suahasil.
Kondisi itu, lanjutnya, menciptakan tantangan tersendiri bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang harus tetap kompetitif dalam menarik dana asing. Negara berkembang pada umumnya perlu menawarkan premi imbal hasil tambahan atau extra premium agar investor bersedia menempatkan dananya.
Perbandingan dengan Kondisi 2003 dan 2009
Suahasil memberikan perbandingan historis untuk menggambarkan besarnya perbaikan yang telah dicapai Indonesia. Pada 2003, Indonesia harus menawarkan spread hingga 1.000 basis poin di atas imbal hasil obligasi Amerika Serikat agar surat utangnya diminati investor.
"Ketika itu, jika bunga Amerika Serikat berada di sekitar 4 persen, Indonesia harus memberikan imbal hasil hampir 12 persen agar ada yang membeli dan bersedia masuk ke Indonesia," tuturnya.
Kebutuhan memberikan premi besar juga terjadi saat Indonesia terdampak krisis keuangan global pada 2009. Situasi tersebut berdampak langsung pada peningkatan biaya bunga yang harus ditanggung perekonomian nasional.
Menurut Suahasil, penurunan spread dari 1.000 basis poin pada 2003 menjadi 188 basis poin saat ini mencerminkan lompatan besar dalam kredibilitas fiskal Indonesia di mata investor internasional. Pemerintah menilai capaian tersebut merupakan hasil dari disiplin anggaran, stabilitas inflasi, serta pengelolaan utang yang prudent.
Pemerintah Jaga Momentum Kepercayaan Pasar
Suahasil menegaskan bahwa pemerintah akan terus menindaklanjuti perbaikan iklim investasi dengan menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat koordinasi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, serta otoritas terkait lainnya. Rapat koordinasi lintas lembaga dinilai menjadi kunci dalam merespons dinamika pasar global yang cepat berubah.
Ia juga menyatakan bahwa penyempitan spread memberikan ruang fiskal lebih luas bagi pemerintah untuk membiayai program-program pembangunan tanpa menanggung beban bunga yang berlebihan. Dengan biaya utang yang lebih murah, alokasi anggaran dapat difokuskan pada belanja produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan perlindungan sosial.
"Setiap basis poin penurunan spread berarti penghematan bagi negara. Dana yang sebelumnya tersedot untuk membayar bunga dapat dialihkan untuk kepentingan rakyat," tegas Suahasil.
Meski demikian, pemerintah tetap mencermati risiko eksternal, terutama arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik global. Menurut Suahasil, ketahanan pasar SBN Indonesia akan terus diuji sepanjang tingginya imbal hasil UST masih berlanjut.
Pemerintah menetapkan strategi pembiayaan yang fleksibel dengan memanfaatkan berbagai instrumen, termasuk penerbitan SBN ritel dan obligasi valuta asing, guna menjaga likuiditas pasar dan mempertahankan minat investor domestik maupun asing. Keputusan tersebut diambil berdasarkan evaluasi berkala atas kondisi pasar keuangan global.
Dengan spread 188 basis poin, Indonesia dinilai berada pada posisi yang relatif kokoh dibandingkan sejumlah negara berkembang lain yang menghadapi tekanan serupa. Pemerintah berkomitmen mempertahankan tren positif ini sebagai fondasi stabilitas ekonomi nasional dalam jangka menengah dan panjang.
Comments (0)