SPEKIX 2026 Dibuka di Jakarta, Dorong Kebijakan Ramah Neurodiversitas
Pameran Neurodiversity Expo (SPEKIX) 2026 resmi dibuka di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, pada Sabtu (10/10/2026). Ajang yang mengangkat isu neurodiversitas ini tidak...
Pameran Neurodiversity Expo (SPEKIX) 2026 resmi dibuka di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, pada Sabtu (10/10/2026). Ajang yang mengangkat isu neurodiversitas ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan bagi individu berkebutuhan khusus (IBK) beserta keluarga, tetapi juga mendorong terwujudnya kebijakan yang mendukung kehidupan mereka di Indonesia.
Pembukaan SPEKIX 2026 dihadiri sejumlah pejabat negara, di antaranya Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi. Kehadiran keduanya menegaskan perhatian pemerintah terhadap isu inklusi sosial bagi kelompok neurodiversitas.
Ketua Yayasan SPEKIX Asa Indonesia, Zarrabida Ibnusirad, menyatakan bahwa penyelenggaraan SPEKIX berangkat dari keinginan memberikan ruang bagi keluarga agar tidak merasa sendirian dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus.
"Sejak 2019, SPEKIX mulai dari pameran kecil yang bertujuan membuat keluarga merasa tidak sendirian. Hari ini, kami berdiri di sini bukan hanya untuk merayakan perjalanan itu, tapi menegaskan bahwa perjalanan ini belum selesai," ujar Zarrabida.
Menurutnya, SPEKIX bukan sekadar kegiatan yang berlangsung selama dua hari. Penyelenggaraan ini diarahkan untuk mendorong perubahan kebijakan agar berpihak pada individu berkebutuhan khusus di seluruh Indonesia.
Perjalanan dari Pameran Komunitas Menuju Platform Nasional
SPEKIX pertama kali digelar pada 2019 dengan nama Special Kids Expo. Kegiatan ini berawal dari inisiatif komunitas, kemudian berkembang menjadi platform inklusif berskala nasional.
Pada 2025, SPEKIX mengusung tema One Community in Harmony dengan semangat kolaborasi. Penyelenggaraan tersebut berhasil menarik 5.585 pengunjung, melampaui target awal sebanyak 3.500 pengunjung.
Capaian itu menunjukkan respons positif masyarakat terhadap agenda inklusi. Peningkatan jumlah pengunjung menjadi indikator bahwa kebutuhan akan ruang dialog dan edukasi mengenai neurodiversitas semakin besar.
Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan Kementerian
Sejalan dengan tujuan tersebut, SPEKIX secara rutin menjalin komunikasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta. Forum ini juga melakukan audiensi dengan kementerian terkait guna menindaklanjuti aspirasi keluarga dan komunitas.
Langkah itu ditempuh agar kebijakan yang dihasilkan tidak berhenti pada tataran normatif. Pendekatan yang digunakan menekankan pentingnya keterlibatan langsung penerima manfaat dalam perumusan kebijakan.
Dalam konteks ini, kehadiran kepala daerah dan menteri pada pembukaan SPEKIX 2026 dipandang sebagai sinyal dukungan politik terhadap agenda inklusi. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar kebijakan ramah neurodiversitas dapat diterapkan secara konsisten.
Menuju Kebijakan Ramah Neurodiversitas
Penyelenggara menegaskan bahwa SPEKIX ingin terus mendorong perubahan agar kebijakan yang berpihak pada individu berkebutuhan khusus dapat terwujud di seluruh Indonesia. Hal ini mencakup aspek pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, hingga akses layanan publik.
Berdasarkan UU yang berlaku, negara memiliki kewajiban memenuhi hak penyandang disabilitas, termasuk individu dengan kondisi neurodiversitas. SPEKIX berupaya memastikan komitmen tersebut diterjemahkan ke dalam program dan anggaran yang nyata.
Melalui rangkaian diskusi dan audiensi, yayasan penyelenggara berharap pemerintah daerah maupun kementerian dapat menetapkan kebijakan yang lebih aplikatif. Harapan itu disampaikan dalam forum resmi yang melibatkan keluarga, komunitas, dan pemangku kepentingan.
Dengan pembukaan SPEKIX 2026, agenda inklusi kembali menjadi sorotan di ruang publik. Penyelenggaraan ini diharapkan menghasilkan keputusan dan tindak lanjut yang konkret bagi kehidupan individu berkebutuhan khusus di Indonesia.
Comments (0)