JAKARTA — Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) menilai sosialisasi program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) belum berjalan efektif sehingga banyak masyarakat belum memahami substansi kebijakan tersebut. Penilaian itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Fraksi di Jakarta, menyusul bergulirnya polemik nasional mengenai pemotongan gaji pekerja untuk pembiayaan perumahan.
Juru bicara FPAN menegaskan bahwa persoalan utama Tapera bukan semata pada besaran iuran, melainkan pada ketidakjelasan informasi yang diterima publik. "Banyak masyarakat belum memahami program ini dan menerima informasi yang tidak utuh. Sosialisasi harus ditingkatkan secara masif, terukur, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan," ujarnya dalam keterangan resmi fraksi.
Menurut FPAN, pemerintah perlu membuka ruang dialog dengan serikat pekerja, pengusaha, dan kalangan perumahan sebelum aturan pelaksanaan Tapera diberlakukan secara menyeluruh. Fraksi menilai kebijakan ini menyangkut hak ekonomi warga negara sehingga tidak dapat dijalankan tanpa pemahaman yang memadai dari peserta.
Kebijakan Harus Adil bagi Seluruh Peserta
FPAN menyatakan bahwa prinsip keadilan menjadi syarat mutlak dalam pelaksanaan Tapera. Fraksi meminta pemerintah memastikan tidak ada kelompok pekerja yang dirugikan, termasuk pekerja informal, pekerja dengan penghasilan rendah, serta pekerja yang telah memiliki rumah.
"Kebijakan ini harus adil. Jangan sampai mereka yang telah memiliki hunian tetap dipotong iurannya tanpa manfaat yang jelas. Demikian pula pekerja berpenghasilan rendah, jangan dibebani tambahan pengeluaran yang memberatkan," tegasnya.
Fraksi juga mendorong adanya mekanisme pengembalian dana yang transparan apabila peserta tidak lagi memenuhi kriteria kepesertaan. Hal itu dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pengelolaan dana Tapera yang bersumber dari potongan penghasilan bulanan.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, iuran Tapera ditetapkan sebesar 3 persen dari penghasilan peserta, dengan rincian 2,5 persen ditanggung pekerja dan 0,5 persen ditanggung pemberi kerja. FPAN menilai besaran tersebut perlu dikaji ulang agar tidak menambah beban daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
Dorong Pengawasan dan Evaluasi Berkala
Dalam rapat tersebut, FPAN juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap badan pengelola Tapera. Fraksi meminta agar laporan pengelolaan dana disampaikan secara berkala kepada publik dan diawasi oleh lembaga yang berwenang.
"Kami mendorong evaluasi berkala. Jangan sampai program ini hanya menjadi kewajiban administratif tanpa menghasilkan akses perumahan yang nyata bagi rakyat," ujar juru bicara FPAN.
Fraksi PAN menegaskan akan menindaklanjuti persoalan ini melalui fungsi pengawasan di parlemen, termasuk meminta penjelasan resmi dari kementerian terkait. FPAN menyatakan siap menyampaikan aspirasi konstituen, terutama dari kalangan pekerja dan pelaku usaha kecil yang terdampak.
Sebelumnya, kebijakan Tapera menuai respons beragam dari berbagai organisasi pekerja yang menuntut penundaan pemberlakuan aturan serta pembahasan ulang yang melibatkan partisipasi publik. FPAN menilai tuntutan tersebut wajar selama disampaikan melalui mekanisme yang konstitusional.
Harapan pada Keputusan yang Berpihak pada Rakyat
FPAN berharap pemerintah mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Fraksi menekankan bahwa tujuan mulia penyediaan rumah layak bagi masyarakat harus dicapai tanpa mengorbankan kesejahteraan pekerja dan keberlanjutan dunia usaha.
"Program perumahan rakyat ini tujuannya baik. Namun cara dan timing pelaksanaannya harus tepat, adil, dan dipahami masyarakat. Itu yang kami perjuangkan," tuturnya.
Fraksi PAN menyatakan komitmennya untuk mengawal kebijakan ini secara konsisten, baik melalui rapat kerja dengan pemerintah maupun melalui pembahasan di komisi terkait. FPAN menegaskan akan menolak setiap pelaksanaan kebijakan yang dilakukan secara tergesa-gesa tanpa sosialisasi dan kajian yang memadai.
Dengan posisi tersebut, FPAN menempatkan sosialisasi yang memadai dan keadilan sebagai dua syarat utama keberterimaan Tapera di tengah masyarakat. Fraksi menegaskan bahwa keputusan akhir harus mencerminkan keseimbangan antara kepentingan pembangunan perumahan nasional dan perlindungan terhadap daya beli rakyat.
Comments (0)