Singgung Penyebab Rupiah Melemah, Prabowo: Kekayaan Kita ke Luar Negeri!
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan salah satu akar masalah yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam sebuah forum tertutup, Prabowo meny
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan salah satu akar masalah yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam sebuah forum tertutup, Prabowo menyoroti fenomena mengalirnya kekayaan Indonesia ke luar negeri secara masif yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Menurut laporan yang dihimpun Apaberita.com, Presiden menekankan bahwa surplus perdagangan yang selama ini dicatatkan Indonesia tidak sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.
Surplus Dagang Senyap, Kekayaan Mengalir Keluar
Di hadapan para ulama dan peserta Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU), Prabowo memaparkan data yang diolah oleh Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Data yang bersumber dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menunjukkan fakta yang paradoks. Dalam kurun waktu 22 tahun terakhir, Indonesia menikmati keuntungan dalam neraca perdagangan selama 17 tahun.
"Dari 22 tahun, 17 tahun kita untung dan keuntungan kita adalah US$436 miliar selama 22 tahun. Kalau dikali Rp17.000, berapa triliun itu? Kemudian kalau kita lihat selama 42 tahun, kekayaan kita sebenarnya adalah US$683 miliar," ujar Prabowo dalam pidato yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (23/6/2026).
Jika dikonversi ke dalam Rupiah dengan kurs rata-rata Rp17.000 per dolar AS, surplus perdagangan yang dicatatkan dalam 22 tahun tersebut mencapai lebih dari Rp7.400 triliun. Namun, angka tersebut tidak lantas membuat fundamental Rupiah menjadi kokoh. Kepala Negara menduga, ada kebocoran besar berupa penempatan dana hasil keuntungan tersebut di luar sistem keuangan domestik.
Analisis Data 42 Tahun
Prabowo mengupas lebih dalam dengan merujuk pada akumulasi data selama 42 tahun. Ia menyebut total kekayaan Indonesia yang terekam mencapai US$683 miliar atau setara dengan lebih dari Rp11.600 triliun. Ironisnya, aliran dana keluar yang tidak tercatat dengan baik di dalam negeri diyakini menjadi biang keladi yang membuat Rupiah kerap limbung saat ditekan sentimen global. Apaberita.com mencatat, pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah akan fokus pada upaya menarik kembali dana-dana tersebut melalui regulasi repatriasi atau kebijakan fiskal yang lebih agresif.
Dengan adanya pengakuan ini, Prabowo seakan ingin menegaskan bahwa surplus neraca perdagangan bukanlah jaminan stabilitas moneter. Selama hasil keuntungan itu tidak diputar di dalam negeri untuk memperkuat cadangan devisa dan investasi, Rupiah akan terus rentan terhadap guncangan eksternal.
Comments (0)