Rugaiya Usman, Pendamping Setia Wiranto Sepanjang Hayat

Jakarta — Kabar duka menyelimuti kediaman mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Wiranto. Sang istri, Hj. Rugaiya Usman, menghembuskan napas terakhir pada Selasa pagi di Rumah Sakit Pusat Pertamina...

Jul 12, 2026 - 19:03
0 0
Rugaiya Usman, Pendamping Setia Wiranto Sepanjang Hayat

Jakarta — Kabar duka menyelimuti kediaman mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Wiranto. Sang istri, Hj. Rugaiya Usman, menghembuskan napas terakhir pada Selasa pagi di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, setelah menjalani perawatan intensif. Perempuan yang selama lebih dari empat dekade menjadi penopang utama salah satu tokoh paling berpengaruh di Indonesia itu wafat dalam usia 70 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan segenap kolega yang mengenal keteguhan dan kesetiaannya.

Kabar wafatnya Rugaiya Usman dikonfirmasi oleh juru bicara keluarga, yang menyatakan bahwa almarhumah meninggal dalam keadaan tenang didampingi suami dan anak-anaknya. "Beliau adalah sosok ibu, istri, dan sahabat yang tak tergantikan. Kami memohon doa agar almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT," ujar perwakilan keluarga dalam pernyataan resmi yang diterima Apaberita.

Jenazah akan disemayamkan di kediaman pribadi di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada sore harinya. Sejumlah tokoh nasional dan purnawirawan TNI telah menyatakan rencana kehadiran mereka untuk memberikan penghormatan terakhir.

Ikatan yang Terjalin Sejak Masa Remaja

Rugaiya Usman lahir di Jakarta pada 5 Februari 1954 sebagai putri dari keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan pendidikan. Pertemuan pertamanya dengan Wiranto terjadi di bangku sekolah menengah atas, ketika keduanya sama-sama menempuh pendidikan di wilayah yang sama di Jakarta. Hubungan persahabatan yang tumbuh di antara mereka berangsur berubah menjadi ikatan asmara, dan pada 20 Mei 1976—beberapa tahun setelah Wiranto memulai karier militernya—pasangan ini resmi menikah dalam sebuah upacara yang dihadiri keluarga besar dan rekan seangkatan.

Ketika Wiranto terus melesat di tangga karier kemiliteran, dari perwira pertama hingga mencapai puncak sebagai Panglima ABRI (sekarang Panglima TNI), Rugaiya berdiri di sisi sang suami sebagai penyeimbang. Ia tak hanya menjalankan peran ibu rumah tangga yang mengurus ketiga anak mereka—Yudha, Ines, dan Raka—tetapi juga menjadi tiang emosional bagi Wiranto di tengah kerasnya dunia militer dan politik. "Ibu saya tidak pernah banyak bicara, tetapi kehadirannya selalu menenangkan," kenang salah satu putranya dalam sebuah wawancara setelah ibunya berpulang.

Peran dalam Pusaran Kekuasaan

Nama Rugaiya Usman jarang mengisi kolom berita, tetapi keberadaannya begitu terasa di balik layar setiap keputusan besar yang diambil Wiranto. Ketika suaminya menjabat sebagai Menteri Pertahanan (1998–1999), Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (2016–2019), hingga Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (2019–2024), Rugaiya selalu hadir sebagai pendamping dalam acara kenegaraan maupun saat menghadapi krisis politik. Ia dikenal sebagai figur yang tidak terlibat dalam urusan kekuasaan, tetapi justru kerap mengingatkan Wiranto untuk tetap rendah hati dan berpijak pada kepentingan rakyat.

Di kalangan keluarga besar TNI, Rugaiya dikenang sebagai "ibu asrama" yang hangat. Ia sering menyempatkan diri mengunjungi istri-istri prajurit di berbagai kesatuan, mendengarkan keluh kesah mereka, dan memberikan dukungan moral tanpa publikasi. "Beliau hadir bukan untuk menjadi pusat perhatian, melainkan untuk memastikan bahwa di balik setiap seragam ada keluarga yang tak boleh dilupakan," kata seorang purnawirawan yang pernah bertugas di bawah Wiranto.

Ketika Wiranto mengalami percobaan penusukan oleh terduga teroris di Pandeglang, Banten, pada Oktober 2019, Rugaiya menunjukkan ketabahan luar biasa. Dalam kondisi suaminya dirawat intensif di RSPAD Gatot Subroto, ia mengatur keluarga, menerima kunjungan tokoh, dan terus berdoa tanpa henti, tanpa sekalipun menunjukkan kepanikan di depan publik. Peristiwa itu turut memperkuat citranya sebagai pendamping yang tidak mudah goyah.

Pewaris Keteladanan dalam Diam

Rugaiya Usman mewariskan nilai-nilai kesederhanaan dan keteguhan iman kepada ketiga anaknya. Putri sulungnya, Ines, mengikuti jejak sosial dengan aktif di berbagai lembaga filantropi, sementara kedua putranya, Yudha dan Raka, memilih berkarier di dunia profesional dan tetap menjaga hubungan erat dengan keluarga besar TNI. Menurut kerabat dekat, yang paling diingat dari almarhumah adalah teladan untuk tidak pernah meninggikan diri meski berada di lingkungan elite.

"Ibu adalah orang yang paling ikhlas. Beliau tidak pernah mengeluh, tidak pernah merasa kurang, dan selalu mensyukuri apa pun peran yang Tuhan berikan," ungkap seorang anggota keluarga saat ditemui di rumah duka. Kehilangan ini, tuturnya, akan sangat terasa karena Rugaiya adalah perekat yang menyatukan banyak generasi di keluarga besar Wiranto.

Rugaiya juga dikenal sebagai pencinta literatur Islam dan sejarah. Di waktu senggang, ia kerap membaca buku-buku tentang tokoh-tokoh sejarah Muslim dan berdiskusi ringan dengan para cendekiawan yang datang berkunjung ke kediamannya. Aktivitas tersebut, meski jarang terekspos, menjadi salah satu penguat spiritual di tengah dinamika politik yang kadang melelahkan.

Pada sore nanti, prosesi pemakaman akan dilaksanakan dengan penghormatan militer sesuai dengan kedudukan sang suami yang merupakan purnawirawan jenderal. Ribuan pelayat diperkirakan akan mengantarkan perempuan yang dalam senyap menjadi fondasi bagi salah satu perjalanan panjang kepemimpinan nasional itu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Selamat jalan, Hj. Rugaiya Usman.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User