AHY Ajak Taruna Akmil Dalami Teori Sun Tzu dan Clausewitz
Magelang, Jawa Tengah — Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan arahan kepada para taruna Akademi Militer (Akmil) agar mendalami pemikiran strategis klasik Sun Tzu dan Carl ...
Magelang, Jawa Tengah — Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan arahan kepada para taruna Akademi Militer (Akmil) agar mendalami pemikiran strategis klasik Sun Tzu dan Carl von Clausewitz sebagai bekal kepemimpinan perwira modern, dalam kunjungan kerja ke Kampus Akmil, Magelang, Jawa Tengah, Senin (12/6/2026). AHY, yang juga mantan perwira aktif TNI Angkatan Darat, menegaskan bahwa kemampuan berpikir strategis dan pemahaman terhadap perubahan lingkungan strategis global kini menjadi kebutuhan mutlak bagi setiap calon pemimpin militer.
Pentingnya Pemikiran Strategis bagi Perwira Modern
Dalam paparannya, AHY menyatakan bahwa medan perang kontemporer tidak lagi terbatas pada konfrontasi konvensional antar negara, melainkan telah meluas ke ranah siber, informasi, ekonomi, dan diplomasi. Perubahan tersebut, menurutnya, menuntut taruna untuk tidak hanya menguasai taktik lapangan, tetapi juga mampu menganalisis dinamika geopolitik, teknologi pertahanan, serta dampak sosial politik dari setiap operasi militer.
AHY menambahkan bahwa kepemimpinan militer modern harus mampu membaca tren global, memahami kepentingan nasional, dan mengantisipasi ancaman hibrida yang semakin kompleks. Oleh karena itu, pendidikan di Akmil perlu menempatkan studi teori perang dan strategi sebagai bagian integral dari kurikulum kepemimpinan, bukan sekadar materi tambahan.
"Taruna harus memahami bahwa perang modern bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga soal kekuatan ide, strategi, dan pemahaman mendalam terhadap lingkungan strategis. Sun Tzu dan Clausewitz menawarkan fondasi berpikir yang tetap relevan hingga kini," ujar AHY dalam sambutannya.
Sun Tzu dan Clausewitz sebagai Rujukan Teori Perang
AHY mengajak para taruna untuk mengkaji karya Sun Tzu, The Art of War, yang menekankan pentingnya pengetahuan diri dan musuh, penggunaan tipu daya, serta pencapaian kemenangan tanpa pertempuran. Di sisi lain, pemikiran Carl von Clausewitz dalam On War memberikan pemahaman tentang sifat politik perang, konsep fog of war, dan hubungan antara tujuan politik dengan kekuatan militer.
Menurut AHY, kedua pemikiran tersebut tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Sun Tzu memberikan kerangka berpikir ofensif dan adaptif, sementara Clausewitz menekankan dimensi politik dan moral dalam konflik bersenjata. Kedua teori itu, jika dipadukan dengan doktrin TNI dan pemahaman kontekstual Indonesia, akan membentuk perwira yang mampu mengambil keputusan tepat di bawah tekanan.
Dalam rapat koordinasi yang digelar usai kuliah umum, Komandan Akmil Mayor Jenderal TNI Dwi Prasetyo menyatakan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti arahan tersebut melalui penyusunan modul pembelajaran baru. Modul tersebut akan memperkuat muatan studi strategi klasik dan kontemporer sesuai dengan keputusan yang ditetapkan dalam pleno akademik semester genap tahun 2026 dan disahkan dalam rapat koordinasi internal Akmil.
Penegasan Komitmen Pembinaan Kepemimpinan
Komandan Akmil menegaskan bahwa pembinaan taruna tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter kepemimpinan yang berpikir strategis. Pihaknya menambahkan bahwa berdasarkan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, tugas utama TNI adalah mempertahankan kedaulatan negara, dan tugas tersebut menuntut perwira yang mampu memahami kompleksitas ancaman modern.
AHY juga menyampaikan apresiasinya atas program pendidikan di Akmil yang terus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Ia berharap para taruna dapat menjadi pemimpin militer yang tidak hanya tangguh secara fisik dan taktis, tetapi juga cerdas strategis serta memiliki wawasan kebangsaan yang kuat.
Di sisi politik, Fraksi Partai Demokrat di DPR RI menyambut baik arahan Ketua Umumnya. Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Ahmad Syauqi, menyatakan bahwa penguatan pemikiran strategis di kalangan militer merupakan investasi penting bagi ketahanan nasional. Ia menambahkan bahwa pihaknya akan terus mendukung anggaran pendidikan pertahanan yang berorientasi pada pembentukan sumber daya manusia unggul.
"Kami mendukung setiap upaya yang memperkuat kapasitas kepemimpinan perwira TNI. Dalam konteks geopolitik yang semakin dinamis, Indonesia membutuhkan pemimpin militer yang berpikir strategis dan berwawasan luas," ujar Ahmad Syauqi.
Kunjungan AHY ke Akmil diakhiri dengan penyerahan cenderamata dan sesi tanya jawab dengan para taruna. Acara tersebut dihadiri oleh pejabat utama Akmil, perwakilan dari Komando Pembinaan Doktrin TNI, serta sejumlah taruna dari berbagai angkatan. Dengan pendalaman teori Sun Tzu dan Clausewitz, diharapkan para calon perwira dapat menghadapi tantangan keamanan nasional dengan lebih matang dan responsif.
Baca juga:
Comments (0)