Menhaj: Ikan Baubau Potensial Penuhi Konsumsi Jemaah Haji

Baubau, Apaberita – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, menilai produk perikanan asal Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, memiliki potensi besar untuk memenuhi kebu...

Jul 12, 2026 - 20:21
0 0
Menhaj: Ikan Baubau Potensial Penuhi Konsumsi Jemaah Haji

Baubau, Apaberita – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, menilai produk perikanan asal Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia selama berada di Arab Saudi. Penilaian ini disampaikan usai meninjau langsung sejumlah fasilitas pengolahan ikan di kawasan sentra industri perikanan Baubau pada Senin (22/7).

Peninjauan Langsung Fasilitas Pengolahan

Dalam kunjungan kerja tersebut, Irfan Yusuf didampingi oleh Wali Kota Baubau dan jajaran Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. Rombongan menyambangi unit pengolahan ikan (UPI) yang telah mengantongi sertifikasi internasional, termasuk Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan standar halal dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Menhaj menyaksikan tahapan sortir, pembekuan, hingga pengemasan ikan tuna sirip kuning dan cakalang yang menjadi komoditas unggulan daerah itu.

“Kami sangat mengapresiasi kesiapan industri perikanan di Baubau. Proses pengolahan yang kami lihat telah menerapkan cold chain dan sanitasi yang ketat. Ini modal dasar untuk menembus pasar katering haji yang memerlukan jaminan mutu dan keamanan pangan tingkat tinggi,” tegas Irfan.

Standar Ketat untuk Pasokan Jemaah Haji

Lebih lanjut, Irfan menjelaskan bahwa konsumsi jemaah haji merupakan segmen yang sangat spesifik karena menyangkut aspek kesehatan, kehalalan, dan kemudahan distribusi di Tanah Suci. Oleh karena itu, produk perikanan yang akan masuk dalam rantai pasok katering haji harus mampu memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan oleh Kementerian Haji dan Umrah serta otoritas Arab Saudi. Produk tersebut harus bersertifikat Good Manufacturing Practices (GMP), terbebas dari residu kimia, serta memiliki umur simpan yang memadai untuk perjalanan antarbenua.

“Kita tidak bisa main-main. Jemaah kita butuh asupan gizi yang optimal saat menjalankan ibadah. Ikan dari Baubau ini punya potensi, tinggal bagaimana kita mengintegrasikan dengan sistem katering di Arab Saudi. Jika lolos uji, produk ini bisa menjadi menu rutin selama musim haji,” ujarnya.

Dukungan Penuh Pemerintah Daerah

Wali Kota Baubau, yang turut mendampingi, menyatakan komitmennya untuk mendorong pelaku usaha perikanan lokal agar semakin memenuhi standar ekspor. Pihaknya akan memfasilitasi program pendampingan, perluasan gudang beku, serta percepatan sertifikasi bagi UPI skala kecil dan menengah. Saat ini, kata dia, produksi perikanan tangkap di Baubau mencapai 40.230 ton per tahun (data 2023), dengan 60 persen di antaranya diekspor ke Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

“Dengan peluang baru ini, kami optimistis volume ekspor akan bertambah dan menggerakkan perekonomian daerah. Apalagi jika berhasil masuk ke dalam rantai pasok haji, dampaknya akan sangat terasa bagi nelayan dan pekerja pengolahan,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Ketua Himpunan Pengusaha Pengolahan Ikan (HPPI) Baubau menambahkan bahwa pihaknya telah menjajaki kerja sama dengan beberapa perusahaan katering di Madinah dan Makkah. Dua uji sampel telah dikirim dan mendapat respons positif dari calon mitra. “Mereka tertarik karena kualitas tuna kita setara dengan yang selama ini mereka impor dari Thailand atau Vietnam, namun dengan harga yang lebih kompetitif karena rantai pasok lebih pendek,” ungkapnya.

Sinergi Antarkementerian

Menteri Haji dan Umrah menekankan bahwa skema pengadaan pangan untuk jemaah haji tidak bisa berjalan sendiri. Pihaknya akan menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perdagangan, serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk menyusun peta jalan (roadmap). Langkah ini mencakup penetapan kuota, mekanisme logistik, hingga penjadwalan pengiriman agar sesuai dengan tahapan operasional haji.

“Kami sudah merancang rapat koordinasi tingkat kementerian pada awal Agustus mendatang. Intinya, kita ingin mengurangi ketergantungan pada impor ikan untuk katering haji. Mengapa harus beli dari negara lain kalau kita punya sumber daya yang tak kalah baik? Baubau adalah contoh nyata,” tegas Irfan.

Ia menambahkan, sinergi ini sejalan dengan arahan Presiden untuk memperkuat kemandirian pangan nasional sekaligus memberdayakan daerah penghasil. Jika pilot project di Baubau berhasil, maka model serupa dapat direplikasi di sentra perikanan lain seperti Bitung, Ambon, atau Sumbawa.

Tantangan dan Langkah Antisipasi

Meskipun optimistis, Irfan tidak menutup mata terhadap sejumlah tantangan, di antaranya konsistensi volume pasokan, fluktuasi harga bahan bakar, dan persaingan dengan pemasok lama. Untuk itu, pemerintah akan menyiapkan skema kontrak jangka panjang antara koperasi nelayan dengan perusahaan katering agar kepastian usaha terjamin. Selain itu, BUMN di sektor pangan akan dilibatkan sebagai offtaker yang menjamin penyerapan produksi pada harga wajar.

“Kita tidak mau semangat awal saja. Harus ada kelembagaan yang kuat, termasuk dari sisi permodalan. Saya sudah berdiskusi dengan Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) untuk menjajaki investasi di sektor perikanan Baubau. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ada titik terang,” pungkasnya.

Dengan dukungan kebijakan yang terintegrasi, produk perikanan Baubau diproyeksikan akan memenuhi setidaknya 15 persen dari total kebutuhan ikan dalam katering jemaah haji reguler dan haji khusus pada musim haji 1446 H/2025 M. Angka tersebut setara dengan sekitar 350 ton ikan olahan per musim, yang akan memberi nilai tambah signifikan bagi perekonomian Sulawesi Tenggara.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User