Anak Krakatau Erupsi 18 Kali, PVMBG Perpanjang Status Waspada
JAKARTA — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengalami lonjakan signifikan dalam tiga hari terakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat sedi...
JAKARTA — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengalami lonjakan signifikan dalam tiga hari terakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat sedikitnya 18 kali letusan terjadi sejak 2 Juli 2026. Letusan-letusan itu memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 500 hingga 1.500 meter dari puncak kawah. Menanggapi dinamika tersebut, PVMBG menetapkan status Waspada (Level II) dan mengeluarkan sejumlah rekomendasi teknis bagi masyarakat serta pemangku kepentingan.
Rentetan Letusan dan Data Seismik
Berdasarkan data instrumental yang dihimpun dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di wilayah Hargopanggung, Kalianda, Lampung, eskalasi aktivitas mulai terdeteksi pada dini hari 2 Juli 2026 pukul 03.17 WIB. Dalam periode 24 jam pertama, pos pengamat merekam lima kali letusan dengan amplitudo maksimum 45 mm dan durasi gempa letusan berkisar antara 30 hingga 75 detik. Tinggi kolom abu pada hari itu teramati mencapai 800 meter, condong ke arah timur laut.
Pada 3 Juli 2026, intensitas meningkat dengan tujuh kejadian letusan. Dua di antaranya menghasilkan kolom abu setinggi 1.200 meter berwarna kelabu hingga hitam. Kegempaan vulkanik juga didominasi oleh tremor menerus dengan amplitudo 2–4 mm, yang mengindikasikan masih berlangsungnya proses suplai magma dari kedalaman. Kondisi ini berlanjut pada 4 Juli 2026 dengan enam letusan tambahan, salah satunya menyemburkan abu setinggi 1.500 meter—yang tertinggi dalam rentetan aktivitas kali ini.
Kepala Pos Pengamatan, Andi Mustofa, dalam laporannya menyatakan bahwa visual gunung sering tertutup kabut tipis, namun saat cuaca cerah, asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. “Kami terus memantau perkembangan gempa vulkanik dangkal dan dalam. Hingga saat ini, tercatat pula tiga kali gempa low-frequency yang menandakan pergerakan fluida di kedalaman,” ujarnya. Total energi seismik kumulatif menunjukkan tren menaik, meskipun belum mencapai level yang mengarah pada erupsi magmatik eksplosif besar.
Status Waspada dan Rekomendasi Resmi PVMBG
Menindaklanjuti peningkatan aktivitas, PVMBG melalui Kepala Balai, Hendra Gunawan, menegaskan bahwa status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level II (Waspada). Keputusan ini diambil setelah melalui evaluasi menyeluruh dalam Rapat Koordinasi Teknis pada 5 Juli 2026 yang melibatkan tim pemantau, ahli vulkanologi, serta perwakilan pemerintah daerah. “Kami meminta masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak mendekati kawah dalam radius dua kilometer. Zona ini wajib steril dari segala aktivitas,” ujar Hendra dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.
Rekomendasi serupa juga berlaku untuk aktivitas pendakian. Seluruh jalur pendakian menuju puncak Gunung Anak Krakatau resmi ditutup sementara. Kapal wisata, perahu nelayan, dan transportasi laut lainnya dilarang mendekat dalam radius dua kilometer dari pulau gunung tersebut. PVMBG juga meminta maskapai penerbangan di sekitar Selat Sunda untuk mencermati informasi sebaran abu vulkanik melalui Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) dan memperbarui Notice to Airmen (NOTAM) secara berkala.
Selain itu, masyarakat di pesisir Lampung dan Banten diimbau untuk menyiapkan masker dan kacamata pelindung guna mengantisipasi potensi hujan abu. “Abu vulkanik mengandung silika yang berbahaya bagi saluran pernapasan. Gunakan masker jika terjadi hujan abu dan hindari mengonsumsi air yang terpapar abu,” tegas Hendra. PVMBG juga meminta warga tidak terpancing informasi tidak resmi dan hanya merujuk pada kanal komunikasi resmi PVMBG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Koordinasi Lintas Sektor dan Kesiapsiagaan Daerah
Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau langsung direspons oleh pemerintah daerah di dua provinsi. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung, Budi Hartono, menyatakan telah mengaktifkan posko siaga bencana di Kalianda dan memperkuat koordinasi dengan TNI Angkatan Laut serta Basarnas. “Kami sudah menyiagakan personel dan peralatan evakuasi. Masyarakat di pesisir, khususnya di Kecamatan Rajabasa dan Kalianda, kami minta tetap tenang namun terus memantau informasi resmi,” katanya.
Di sisi Banten, BPBD Kabupaten Pandeglang dan Kota Cilegon juga mulai menyusun skenario evakuasi apabila status dinaikkan menjadi Siaga. Kepala BPBD Pandeglang, Asep Rahmat, menjelaskan bahwa jalur evakuasi dan titik kumpul warga di Kecamatan Sumur dan Panimbang telah diverifikasi ulang. “Kami tidak ingin lengah. Pelajaran dari tsunami Selat Sunda tahun 2018 membuat kami lebih antisipatif,” ujarnya.
PVMBG sendiri menekankan bahwa hingga saat ini belum ada indikasi longsoran besar pada tubuh gunung yang berpotensi memicu tsunami. Kendati demikian, pemasangan sensor seismik dan deformasi di sekitar pulau tetap diperkuat untuk mendeteksi setiap perubahan morfologi secara dini.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api muda yang muncul dari kaldera purba Krakatau. Sejak kemunculannya pada 1927, gunung ini mengalami siklus erupsi dengan interval beberapa tahun. Letusan pada Desember 2018 yang memicu longsoran bawah laut dan tsunami menjadi pengingat bahwa potensi ancaman sekunder dari gunung ini harus selalu diperhitungkan. PVMBG berkomitmen untuk terus memberi informasi terkini setiap enam jam atau lebih cepat apabila terjadi perubahan signifikan pada tingkat aktivitas vulkanik.
Baca juga:
Comments (0)