QRIS NTT Melesat, Hampir 10 Ribu Transaksi di Kupang Digital Fest 2026

Antusiasme masyarakat Nusa Tenggara Timur terhadap transaksi non-tunai menunjukkan lonjakan signifikan dalam gelaran Kupang Digital Fest 2026. Sebanyak 9.870 kali transaksi tercatat hanya dari segmen ...

Jul 13, 2026 - 21:15
0 0

Antusiasme masyarakat Nusa Tenggara Timur terhadap transaksi non-tunai menunjukkan lonjakan signifikan dalam gelaran Kupang Digital Fest 2026. Sebanyak 9.870 kali transaksi tercatat hanya dari segmen wahana interaktif selama dua hari penyelenggaraan pada 10–11 Juli 2026. Sementara itu, nilai perputaran uang di area bazar UMKM mencapai Rp157 juta. Angka ini menjadi indikator kuat bahwa penetrasi sistem pembayaran digital berbasis kode QR semakin diterima di daerah kepulauan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Adrianus Neonbeni, menyebut pencapaian itu melampaui target awal. "Kami awalnya memproyeksikan 7.000 transaksi QRIS di wahana permainan. Ternyata respons publik jauh lebih besar, menunjukkan kesadaran dan kepercayaan terhadap pembayaran digital sudah mencapai titik yang membanggakan," ujarnya saat ditemui di sela penutupan acara.

Ragam Wahana dan Edukasi

Kupang Digital Fest 2026 dirancang tidak sekadar sebagai ajang hiburan, melainkan sebagai sarana edukasi masif keuangan digital. Panitia menyediakan 15 jenis permainan berbasis virtual reality dan augmented reality yang seluruhnya mewajibkan pembayaran menggunakan QRIS. Setiap pengunjung yang hendak mencoba wahana seperti simulator balap, jelajah ruang angkasa, hingga permainan edukasi anak, harus melakukan pemindaian kode QR dari dompet digital mereka.

Konsep tersebut dinilai efektif mengenalkan transaksi nirsentuh kepada berbagai kalangan, termasuk pelajar dan lansia. "Kami menempatkan petugas di setiap sudut untuk membantu pengunjung yang belum familiar mengunduh aplikasi dan memindai kode. Jadi, festival ini sekaligus menjadi kelas praktik pembayaran digital gratis," jelas Ketua Panitia, Yohana Dethan.

UMKM Merasakan Dampak Langsung

Di luar wahana, bazar UMKM yang menampung 120 pelaku usaha dari 22 kabupaten/kota di NTT mencatatkan penjualan tertinggi selama festival sejenis di wilayah timur Indonesia. Nilai transaksi Rp157 juta itu mayoritas berasal dari penjualan produk kerajinan, kuliner, dan fesyen. Sebanyak 92 persen dari nilai tersebut diproyeksikan merupakan pembayaran digital, baik melalui QRIS maupun dompet elektronik.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT, Maria Goreti Bria, menegaskan bahwa angka itu menjadi bukti UMKM lokal siap bersaing di era digital. "Ketika transaksi tunai mulai ditinggalkan, justru pendapatan UMKM kita meningkat karena konsumen lebih leluasa membayar tanpa khawatir membawa uang pas. Ini momentum yang harus dijaga," katanya.

Infrastruktur dan Jangkauan

Bank Indonesia mencatat, hingga Juni 2026 jumlah merchant QRIS di NTT telah menembus 280 ribu titik, naik 17 persen dibandingkan akhir 2025. Ekspansi itu menyentuh pasar tradisional, tempat ibadah, hingga destinasi wisata. Ketersediaan jaringan internet 4G di 92 persen kecamatan ikut mendorong akselerasi adopsi. Meski demikian, tantangan berupa literasi digital di daerah pelosok masih menjadi pekerjaan rumah.

"Kami terus memacu perluasan dengan menggandeng pemerintah daerah dan penyedia jasa keuangan. Target kami akhir 2026 seluruh ibu kota kabupaten sudah memiliki ekosistem QRIS yang lengkap untuk transaksi publik," ujar Adrianus.

Menuju Masyarakat Nontunai

Keberhasilan Kupang Digital Fest 2026 diharapkan menjadi model bagi provinsi lain, khususnya di kawasan timur. Pemerintah Kota Kupang berkomitmen menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan dengan skala lebih besar. "Kami sedang mengkaji pelibatan investor teknologi agar edisi selanjutnya dapat menghadirkan wahana yang lebih inovatif dan menjangkau lebih banyak pengunjung," ungkap Wakil Wali Kota Kupang, Yance Kase.

Dengan hampir 10 ribu transaksi di satu lokasi dan dalam waktu singkat, QRIS di NTT tidak lagi sekadar instrumen pendukung, melainkan telah menjadi gaya hidup baru yang menopang perputaran ekonomi. Momentum ini, menurut para pemangku kepentingan, harus diikuti dengan penguatan keamanan siber dan perlindungan konsumen agar kepercayaan publik terus terjaga.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User