Presiden Prabowo Tetapkan 10 Pahlawan Nasional Baru 2025
Istana Merdeka, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada sepuluh tokoh dari berbagai daerah dalam upacara kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta...
Istana Merdeka, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada sepuluh tokoh dari berbagai daerah dalam upacara kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, pada Minggu (10/11/2025). Penetapan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan dan dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 112/TK/2025 yang ditandatangani langsung oleh Presiden. Sepuluh nama tersebut dinilai memiliki jasa luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan, pembangunan bangsa, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Hari ini, negara memberikan penghormatan tertinggi kepada putra-putri terbaik bangsa yang telah mengorbankan jiwa, raga, dan seluruh hidupnya demi Indonesia merdeka, berdaulat, dan bermartabat," ujar Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraan yang disiarkan langsung oleh TVRI.
Proses Seleksi Ketat dan Transparan
Penetapan pahlawan nasional tahun 2025 merupakan hasil proses panjang yang melibatkan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (DGTJK) bersama Kementerian Sosial, sejarawan, dan pemerintah daerah. Menteri Sosial, Tri Rismaharini, menjelaskan bahwa seluruh usulan telah melalui verifikasi faktual di lapangan, penelaahan akademis oleh tim peneliti dan pengkaji pusat, hingga sidang pleno DGTJK pada 15 Oktober 2025. "Kami memastikan setiap nama memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Ini bukan sekadar pengakuan, tapi pertanggungjawaban sejarah," tegas Risma saat konferensi pers di Kantor Kemensos, sehari sebelum penganugerahan.
Ketua DGTJK, Marsekal TNI (Purn.) Hadi Tjahjanto, menambahkan bahwa dari 76 usulan yang diterima, hanya sepuluh orang yang lolos karena memiliki rekam jejak perjuangan yang terdokumentasi secara historis dan berdampak nasional. "Kami tidak ingin gelar pahlawan nasional menjadi sekadar daftar panjang tanpa makna. Setiap yang ditetapkan hari ini benar-benar mewakili karakter perjuangan yang membentuk Indonesia," tuturnya.
Sepuluh Nama yang Dianugerahi Gelar
Berikut adalah sepuluh tokoh yang resmi menyandang gelar pahlawan nasional pada 10 November 2025 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 112/TK/2025:
1. K.H. Ahmad Sanusi (Jawa Barat) – Ulama kharismatik, pendiri Pondok Pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi. Ia adalah anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang konsisten memperjuangkan dasar negara Islam kebangsaan serta memobilisasi santri dalam perlawanan terhadap penjajah Jepang dan Belanda.
2. Nani Wartabone (Gorontalo) – Tokoh yang memimpin rakyat Gorontalo memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo pada 23 Januari 1942. Aksi patriotik ini menjadi pukulan telak bagi kolonialisme Belanda dan menginspirasi gerakan proklamasi di berbagai daerah. Ia kemudian menjadi pemimpin pemerintahan sipil pertama Gorontalo merdeka.
3. Silas Ayari Donrai Papare (Papua) – Pejuang tanpa lelah yang mengkampanyekan integrasi Papua ke dalam NKRI pada era 1950-an. Mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII), ia mempertaruhkan nyawa menghadapi tekanan pemerintah kolonial Belanda. Dedikasinya menjadi fondasi penting dalam langkah Papua bergabung dengan Indonesia.
4. Teuku Nyak Arif (Aceh) – Residen Aceh pertama setelah kemerdekaan, tokoh sentral dalam Sumpah Pemuda 1928, dan pemimpin organisasi kebangsaan di Aceh. Ia memainkan peran kunci menggalang dukungan rakyat Aceh bagi Republik Indonesia yang baru lahir sekaligus menjaga stabilitas wilayah di masa peralihan.
5. Izaak Huru Doko (Nusa Tenggara Timur) – Pendiri Perserikatan Kebangsaan Timor (PKT) yang menjadi wadah perjuangan rakyat Timor melawan penjajahan. Ia tak henti menyuarakan kemerdekaan Indonesia melalui jalur politik dan pendidikan, meski harus menghadapi pengasingan oleh Belanda. Perannya vital dalam mengkonsolidasikan semangat nasionalisme di kawasan timur.
6. Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir (DI Yogyakarta) – Rektor pertama Universitas Islam Indonesia (UII), anggota BPUPKI yang turut merumuskan dasar negara. Ia dikenal sebagai diplomat ulama yang berjasa dalam perjuangan internasional mendukung kedaulatan Indonesia pasca-kemerdekaan. Pemikirannya tentang harmoni Islam dan kebangsaan masih menjadi rujukan hingga kini.
7. Letjen TNI (Purn.) Tahi Bonar Simatupang (Sumatera Utara) – Kepala Staf Angkatan Perang merangkap Wakil Panglima Besar TNI pada masa awal kemerdekaan. Ia arsitek strategi militer dalam berbagai pertempuran mempertahankan kemerdekaan, termasuk masa Agresi Militer Belanda. Kipranya di dunia militer dan pemikiran kebangsaan memberi sumbangsih besar bagi profesionalisasi TNI.
8. Pangeran Mohammad Noor (Kalimantan Selatan) – Gubernur Kalimantan pertama yang diangkat langsung oleh Presiden Soekarno pada 1945. Ia anggota BPUPKI dan pencetus proyek strategis PLTA Riam Kanan yang menjadi fondasi elektrifikasi Kalimantan. Perjuangannya membawa visi pembangunan dan nasionalisme di pulau yang baru merdeka.
9. Andi Mappanyukki (Sulawesi Selatan) – Raja Bone ke-32 yang memimpin perlawanan fisik melawan Belanda dengan memobilisasi kekuatan tradisional Kerajaan Bone. Ia menolak segala bentuk perjanjian yang merugikan kedaulatan rakyat Bone dan menjadi simbol perlawanan aristokrasi Nusantara terhadap kolonialisme. Putranya, Andi Abdullah Bau Massepe, telah lebih dulu ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
10. Tengku Fakinah (Aceh) – Ulama perempuan dan panglima perang yang memimpin pasukan rakyat Aceh melawan agresi Belanda pada akhir abad ke-19. Ia mengorganisir jaringan perempuan pejuang dan mendirikan pusat pendidikan Islam sebagai basis gerakan. Keteladannya mematahkan stereotip gender dalam perlawanan bersenjata sekaligus memperkuat spiritualitas perjuangan rakyat Aceh.
Penghargaan Tertinggi untuk Keluarga dan Bangsa
Upacara penganugerahan turut dihadiri oleh para ahli waris sepuluh pahlawan nasional. Presiden Prabowo secara bergantian menyerahkan medali, piagam, dan tanda kehormatan kepada perwakilan keluarga. Suasana haru tampak jelas ketika cucu Tengku Fakinah menerima penghargaan atas neneknya. "Kami bersyukur dan terharu. Negara tidak melupakan perjuangan nenek kami yang sering kali tak tercatat dalam buku sejarah," ujar Cut Nyak Rahmawati, cicit Tengku Fakinah, dengan suara bergetar.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mendampingi Presiden dalam upacara itu menyatakan bahwa penetapan sepuluh pahlawan nasional baru ini merupakan bukti komitmen pemerintah dalam meneguhkan ingatan kolektif bangsa. "Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal gelar tanpa cerita. Pahlawan-pahlawan ini mengajarkan bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan tanpa pamrih dari seluruh penjuru tanah air," katanya saat ditemui usai acara.
Penetapan ini juga diharapkan dapat memperkuat integrasi nasional dengan mengakui kontribusi tokoh dari daerah yang selama ini minim representasi di tingkat nasional. Sejarawan LIPI, Dr. Asvi Warman Adam, menilai langkah ini "penting untuk memenuhi keadilan sejarah yang kerap terpusat di Jawa." Ia menambahkan bahwa sepuluh nama tersebut merepresentasikan mozaik perjuangan dari ujung barat hingga timur Indonesia.
Harapan Pemajuan Semangat Kepahlawanan
Dalam pidato penutupnya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa gelar pahlawan nasional bukan sekadar seremoni kenegaraan. "Kita harus menghidupkan kembali api perjuangan mereka dalam menghadapi tantangan zaman: ketimpangan, kebodohan, dan ketidakadilan. Pahlawan bukan hanya untuk dikenang, tapi dijiwai dalam setiap langkah pembangunan," tegasnya. Pemerintah mendorong kementerian terkait untuk memasukkan biografi dan nilai-nilai perjuangan kesepuluh pahlawan ini ke dalam kurikulum pendidikan serta mendirikan museum mini atau monumen di daerah asal.
Kementerian Sosial mengumumkan akan menerbitkan buku saku digital berisi profil lengkap yang dapat diakses publik secara gratis. Sementara itu, Bank Indonesia akan mengabadikan wajah dua di antaranya pada uang rupiah edisi khusus peringatan 80 tahun kemerdekaan pada 2025.
Dengan penetapan ini, total pahlawan nasional Indonesia bertambah menjadi 210 orang sejak pertama kali gelar diberikan kepada para pahlawan pada 1959. Momen Hari Pahlawan 2025 pun menjadi tonggak sejarah baru dalam penghormatan atas jasa para pendiri dan pembela bangsa.
Baca juga:
Comments (0)