AHY Minta Taruna Pelajari Seni Perang Sun Tzu dan Clausewitz

Magelang, 14 Juli 2025 – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Jenderal TNI (Purn) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memberikan kuliah umum kepada 400 Taruna Akademi ...

Jul 12, 2026 - 20:00
0 0

Magelang, 14 Juli 2025 – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Jenderal TNI (Purn) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memberikan kuliah umum kepada 400 Taruna Akademi Militer (Akmil) di Gedung Sudirman, Magelang, Senin (14/7). Dalam paparannya selama dua jam, AHY secara khusus menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap teori strategi perang klasik karya Sun Tzu dan Carl von Clausewitz sebagai bekal bagi calon perwira menghadapi lingkungan strategis abad ke-21.

“Kepemimpinan militer modern tidak bisa lagi hanya bertumpu pada keunggulan alutsista atau taktik tempur konvensional. Diperlukan fondasi pemikiran strategis yang lahir dari karya dua filsuf perang besar ini. Sun Tzu mengajarkan kita tentang pentingnya pengenalan medan dan diri sendiri, sementara Clausewitz menawarkan kerangka memahami perang sebagai instrumen politik,” ujar AHY di hadapan taruna tingkat IV yang akan segera dilantik sebagai perwira remaja.

Relevansi Teori Klasik di Era Perang Hibrida

AHY menguraikan, di tengah maraknya perang hibrida yang menggabungkan operasi militer, serangan siber, perang informasi, dan tekanan ekonomi, prinsip-prinsip dalam The Art of War dan On War justru menemukan relevansi baru. Ia mencontohkan, ajaran Sun Tzu bahwa “kemenangan sejati adalah menaklukkan musuh tanpa bertempur” sejalan dengan strategi penangkalan (deterrence) dan penggunaan kekuatan lunak (soft power) yang kini menjadi pilar pertahanan negara-negara maju. Sementara itu, pemikiran Clausewitz tentang “pusat gravitasi” (center of gravity) musuh menjadi dasar dalam mengidentifikasi titik lemah musuh pada level strategis, bukan sekadar operasional.

“Kita tidak sedang menyiapkan taruna untuk perang masa lalu. Lingkungan strategis global berubah sangat cepat — dari konflik Laut Cina Selatan, ketegangan di Semenanjung Korea, hingga perang siber di Eropa. Semua itu membutuhkan perwira yang tidak hanya mahir menembak atau memimpin peleton, tapi juga mampu membaca peta geopolitik dan merumuskan strategi pada tataran kebijakan,” tegas Menko Polhukam yang juga lulusan terbaik Akmil 2000 itu.

AHY juga mengingatkan bahwa TNI harus siap menghadapi spektrum ancaman yang semakin luas, termasuk ancaman non-tradisional seperti terorisme lintas batas, bencana alam, dan pandemi yang memerlukan operasi militer selain perang (OMSP). “Semua itu membutuhkan perencanaan strategis yang matang, tidak reaktif. Di sinilah letak pentingnya belajar dari para pemikir strategis klasik,” lanjutnya.

Perubahan Lingkungan Strategis Global

Dalam paparannya, AHY memaparkan data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang menunjukkan bahwa belanja militer global pada 2024 mencapai 2,44 triliun dolar AS, tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan itu didorong oleh meningkatnya rivalitas kekuatan besar, revolusi teknologi pertahanan, dan perang berkepanjangan di Ukraina serta Timur Tengah. “Fakta ini menunjukkan bahwa dunia semakin tidak stabil. Para taruna harus dibekali cara berpikir yang mampu mengantisipasi disrupsi strategis, bukan hanya merespons secara taktis,” ujarnya.

AHY mendorong Akmil untuk memasukkan studi perbandingan teori strategi perang klasik dan kontemporer ke dalam kurikulum tetap, bukan sekadar kuliah tamu sporadis. Ia mengusulkan agar setiap taruna wajib mengikuti seminar dan menulis esai analisis strategis berdasarkan studi kasus konflik aktual dengan menggunakan kerangka Sun Tzu dan Clausewitz. “Saya ingin ke depan, setiap perwira lulusan Akmil memiliki kebiasaan membaca lanskap strategis, tidak hanya peta topografi,” katanya.

Dukungan Akmil dan Antusiasme Taruna

Gubernur Akmil, Mayor Jenderal TNI Andi Prasetyo, yang hadir mendampingi, menyatakan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti arahan Menko Polhukam. “Kami akan mengintegrasikan analisis strategis berbasis teori klasik ke dalam mata kuliah Kepemimpinan dan Strategi Militer. Ini sejalan dengan visi membentuk perwira yang intelektual dan adaptif,” ujar Andi Prasetyo. Ia menambahkan, sejak tahun lalu Akmil telah merintis program “Strategic Thinkers Club” yang mewadahi diskusi taruna tentang geopolitik dan strategi perang, dan akan diperkuat dengan literatur wajib dari karya-karya Sun Tzu, Clausewitz, Jomini, hingga Liddell Hart.

Antusiasme taruna terlihat dari sesi tanya jawab yang berlangsung hampir satu jam. Seorang taruna bertanya tentang penerapan prinsip Sun Tzu dalam konteks konflik di Laut Natuna Utara. AHY menjawab dengan merujuk pada pentingnya strategi pencegahan tanpa eskalasi militer terbuka, sesuai doktrin pertahanan nusantara. “Di situlah seni perang yang sesungguhnya: memenangkan konflik tanpa harus menghancurkan, seperti kata Sun Tzu,” jawabnya.

Kuliah umum ini merupakan bagian dari rangkaian pembekalan menjelang pelantikan Taruna Tingkat IV menjadi Perwira Remaja pada 18 Juli 2025. AHY berpesan agar para perwira baru tidak hanya menjadi pemimpin di lapangan, tetapi juga pemikir strategis yang dapat membantu negara merumuskan kebijakan pertahanan jangka panjang. “Masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas para pemimpin militernya. Pelajari sejarah perang, kuasai teori strategi, dan pahami perubahan dunia, karena di pundak kalianlah pertahanan bangsa ini bertumpu,” tutup AHY, disambut tepuk tangan seluruh hadirin.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User