Presiden Iran Desak Pencairan Aset Rp 107 Triliun di Qatar
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa dana milik Teheran senilai US$ 6 miliar atau sekitar Rp 107,4 triliun yang saat ini masih tertahan di Qatar harus segera dicairkan dan dikembalikan ke
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa dana milik Teheran senilai US$ 6 miliar atau sekitar Rp 107,4 triliun yang saat ini masih tertahan di Qatar harus segera dicairkan dan dikembalikan ke negaranya. Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian pada Selasa (30/6/2026) dan menjadi pernyataan publik pertama dari pejabat setingkat presiden yang secara langsung menyinggung nasib aset tersebut.
Menurut laporan yang dihimpun Apaberita.com dari berbagai media Timur Tengah, Pezeshkian merujuk pada kesepakatan yang telah dicapai antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Ia menekankan bahwa sesuai dengan kesepakatan itu, pencairan dana seharusnya sudah dilakukan tanpa penundaan lebih lanjut. Qatar, yang selama ini menjadi mediator utama dalam perundingan antara Teheran dan Washington, diketahui menyimpan aset Iran tersebut di bawah pengawasan ketat.
Kesepakatan yang Belum Terealisasi
Dana yang dimaksud merupakan bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan antara Iran dan AS pada tahun 2023. Saat itu, Washington mengizinkan transfer dana Iran yang sebelumnya dibekukan di bank-bank Korea Selatan ke rekening yang dikelola oleh Qatar. Tujuan pengalihan tersebut adalah agar dana itu hanya dapat digunakan untuk pembelian kebutuhan kemanusiaan, seperti obat-obatan dan pangan, di tengah rezim sanksi yang masih membelit Teheran.
Kendati demikian, hingga pertengahan 2026, realisasi pencairan dana tersebut masih menjadi tanda tanya. Presiden Pezeshkian dalam pernyataannya kali ini menggarisbawahi bahwa aset sebesar itu merupakan hak rakyat Iran dan harus segera dikembalikan tanpa syarat yang menghambat. Ia menilai bahwa ketidakpastian pencairan dapat memperburuk tekanan ekonomi domestik yang sudah berlangsung lama.
Sikap Amerika Serikat
Pezeshkian menekankan bahwa sesuai dengan kesepakatan itu, pencairan dana seharusnya sudah dilakukan tanpa penundaan lebih lanjut.
Sementara itu, para pejabat AS hingga saat ini masih menyatakan bahwa belum ada dana Iran yang benar-benar dicairkan dari rekening di Qatar. Pihak Washington sebelumnya menegaskan bahwa mekanisme pengawasan sangat ketat diberlakukan untuk memastikan dana itu tidak digunakan di luar kepentingan kemanusiaan. Sikap ini menjadi ganjalan utama yang membuat pencairan terus tertunda, meski Qatar telah berulang kali mendorong agar kesepakatan dapat diimplementasikan sepenuhnya.
Situasi ini menambah babak baru dalam hubungan Iran-AS yang masih diwarnai ketidakpercayaan mendalam. Pernyataan tegas Pezeshkian diharapkan dapat mempercepat langkah diplomatik yang melibatkan Doha sebagai penengah. Apaberita.com akan terus memantau perkembangan lanjutan dari upaya Iran untuk mendapatkan kembali aset strategisnya tersebut.
Comments (0)