Jakarta — IHSG Tutup Akhir 2019 Melemah 0,47 Persen

JAKARTA, Apaberita — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan terakhir tahun 2019 dengan pelemahan signifikan. Pad

Jul 09, 2026 - 00:30
0 0
Jakarta — IHSG Tutup Akhir 2019 Melemah 0,47 Persen

JAKARTA, Apaberita — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan terakhir tahun 2019 dengan pelemahan signifikan. Pada sesi penutupan, Senin (30/12/2019), IHSG turun 29,78 poin atau setara 0,47 persen ke level 6.194,50.

Pelemahan ini menjadi sentimen negatif yang menutup tahun perdagangan 2019, sekaligus mengakhiri tren fluktuatif yang mewarnai pasar modal Indonesia sepanjang tahun. Hingga akhir Desember 2019, IHSG tercatat hanya mampu mencatatkan kinerja year-to-date sekitar 1,5 persen, jauh di bawah ekspektasi awal tahun yang sempat memproyeksikan indeks bisa menyentuh level 6.800–7.000.

Data Perdagangan Akhir Tahun

Berdasarkan data RTI, IHSG dibuka di level 6.220,15 pada sesi pagi. Tekanan jual sudah terasa sejak menit awal perdagangan, mendorong indeks bergerak dalam zona merah sepanjang hari. IHSG sempat menyentuh level terendah harian di 6.190,17 dan level tertinggi di 6.223,41.

Total volume perdagangan mencapai 12,4 miliar saham dengan nilai transaksi harian sebesar Rp6,7 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 458.000 kali. Investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp382 miliar, melanjutkan tren capital outflow yang telah terjadi sepanjang kuartal keempat 2019.

Sektor Penekan dan Faktor Pemicu

Dari sisi sektoral, tekanan terdalam berasal dari sektor properti yang melemah 1,12 persen, disusul sektor infrastruktur sebesar 0,87 persen, dan sektor barang konsumsi yang turun 0,65 persen. Beberapa saham blue chip yang turut memberatkan indeks antara lain saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang merosot 1,8 persen dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang turun 1,2 persen.

“Pelemahan pada perdagangan terakhir tahun ini lebih didorong oleh aksi ambil untung (profit taking) investor, terutama di saham-saham perbankan dan telekomunikasi yang sepanjang tahun sudah mencatatkan penguatan cukup tinggi. Di sisi lain, minimnya sentimen positif baru membuat investor lebih memilih posisi aman menjelang libur tahun baru,”

kata M. Nafan Aji, analis pasar modal dari Binaartha Sekuritas.

Sepanjang 2019, IHSG dihadapkan pada berbagai tekanan eksternal dan internal. Ketegangan perang dagang Amerika Serikat–Tiongkok serta perlambatan ekonomi global sempat menyeret IHSG ke level terendah tahun 2019 di posisi 5.800-an pada pertengahan tahun. Sementara dari dalam negeri, ketidakpastian terkait Pemilu 2019, defisit transaksi berjalan, dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor pemberat tambahan.

Meski demikian, IHSG sempat mencatatkan level tertinggi tahun ini di kisaran 6.400 pada awal Desember, didorong ekspektasi pelonggaran likuiditas global dan perbaikan beberapa data ekonomi domestik. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama seiring munculnya kembali kekhawatiran resesi global dan aksi jual investor asing pada kuartal terakhir.

Outlook 2020

Para analis memperkirakan IHSG berpotensi mengalami recovery pada 2020 ditopang oleh kebijakan suku bunga rendah Bank Indonesia, prospek pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan di kisaran 5–5,2 persen, dan meredanya tensi perang dagang pasca penandatanganan kesepakatan fase satu antara AS dan Tiongkok. Beberapa sekuritas menetapkan target IHSG 2020 pada rentang 6.500–7.000.

Sentimen dari stabilitas politik pasca Pemilu dan potensi peningkatan investasi asing langsung juga diharapkan menjadi katalis positif. Namun, pelaku pasar diimbau tetap mewaspadai risiko dari ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta laju pertumbuhan ekonomi dunia yang masih rapuh sebagai faktor penghambat potensi penguatan indeks tahun depan.

Secara keseluruhan, meskipun IHSG menutup 2019 dengan koreksi, fundamental pasar modal Indonesia dinilai masih cukup solid dengan price-to-earnings ratio yang tetap kompetitif di kawasan Asia Tenggara, membuka peluang bagi investor untuk kembali masuk pada awal 2020.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User