BACH dan EMMI Resmi Melantai di Bursa Efek Indonesia
Jakarta, 8 Juli 2026 — Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bergema oleh debut dua emiten baru pada perdagangan Rabu ini. PT Bach Multi Global Tbk (BA
Jakarta, 8 Juli 2026 — Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bergema oleh debut dua emiten baru pada perdagangan Rabu ini. PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) secara resmi memulai pencatatan saham perdananya, menandai pulihnya selera investor terhadap sektor logistik dan kesehatan yang kian prospektif. Prosesi pencatatan dimulai pukul 09.00 WIB di Main Hall BEI, disaksikan jajaran direksi, penjamin emisi, serta tamu undangan dari Otoritas Jasa Keuangan dan asosiasi industri.
Kedua perusahaan memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi nasional yang diproyeksi tumbuh 5,2% pada kuartal II–2026. Pasar modal domestik sendiri mencatat total 28 pencatatan saham perdana hingga pertengahan tahun ini, mengindikasikan kepercayaan dunia usaha terhadap pendanaan berbasis ekuitas. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gusti Ngurah Aditya, menyebut kehadiran BACH dan EMMI sebagai “sinyal positif diversifikasi sektor” yang akan memperkuat indeks harga saham gabungan.
Profil PT Bach Multi Global Tbk (BACH)
BACH merupakan perusahaan logistik terintegrasi yang berdiri sejak 2010. Memulai bisnis dari pengiriman antarkota, kini BACH mengelola 72 titik distribusi di 34 provinsi, didukung armada 512 kendaraan serta sistem manajemen pergudangan berbasis kecerdasan buatan. Melalui penawaran umum perdana ini, perseroan melepas 700 juta lembar saham biasa atau 20% dari modal ditempatkan penuh dengan harga Rp310 per saham, sehingga total dana yang dihimpun mencapai Rp217 miliar. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi adalah PT Ciptadana Sekuritas Asia dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
“Pencatatan hari ini adalah lompatan strategis. Dana IPO akan kami alokasikan 65% untuk pembelian 200 truk listrik dan pembangunan tiga gudang pintar di Jakarta, Surabaya, dan Makassar, sisanya untuk modal kerja digitalisasi,” ungkap Direktur Utama PT Bach Multi Global Tbk, Yohanes Satria, dalam seremoni pencatatan.
Prospektus BACH menyebutkan, hingga Mei 2026 perseroan membukukan pendapatan Rp410 miliar dengan margin laba bersih 8,4%. Analis memperkirakan ekspansi ke segmen logistik rantai dingin akan menopang pertumbuhan dua digit pasca-IPO.
Profil PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI)
EMMI adalah manufaktur alat kesehatan yang fokus pada produksi alat pelindung diri medis, reagen laboratorium, dan peralatan diagnostik. Berdiri pada 2015, perusahaan ini telah memasok 157 rumah sakit dan lebih dari 400 klinik di seluruh Indonesia. Dalam IPO yang menggunakan harga Rp360 per lembar, EMMI menerbitkan 500 juta saham baru atau 15% dari modal disetor, sehingga meraup dana segar Rp180 miliar. Penjamin emisi adalah PT Mandiri Sekuritas dan PT Sucor Sekuritas.
“Kami ingin memperkuat kemandirian alat kesehatan nasional. Dari dana IPO, 55% untuk riset dan pengembangan produk in-vitro diagnostik, 30% untuk pabrik baru di Sentul, dan sisanya untuk ekspansi distribusi ke wilayah timur Indonesia,” jelas Direktur Utama PT Esa Medika Mandiri Tbk, dr. Melisa Anggraini, M.M., seusai pencatatan.
EMMI mencatatkan pendapatan Rp220 miliar di tahun buku 2025, tumbuh 28% dibanding tahun sebelumnya. Pesanan dari program Jaminan Kesehatan Nasional dan Rumah Sakit Darurat COVID-19 turut menyumbang stabilitas permintaan. Direktur Riset sebuah sekuritas lokal menilai valuasi IPO EMMI cukup konservatif dengan rasio harga terhadap pendapatan (PER) sekitar 14 kali, di bawah rata-rata sektor.
Respons Pasar dan Debut Perdagangan
Pantauan pada pukul 11.00 WIB memperlihatkan kedua saham kompak menguat. Harga BACH bertengger di Rp384, naik 23,87% dari harga penawaran, sementara EMMI menyentuh Rp425, apresiasi 18,06%. Volume transaksi BACH menembus 120 juta lembar saham, sedangkan EMMI mencapai 95 juta lembar. Berdasarkan data RTI, total frekuensi transaksi BACH tercatat 10.210 kali dan EMMI 8.450 kali hingga sesi pertama berakhir. Penguatan ini mendorong kapitalisasi pasar BACH ke angka Rp1,34 triliun dan EMMI ke Rp1,13 triliun.
Seorang analis dari tim riset PT BNI Sekuritas, dalam laporan yang dirilis pagi ini, menilai kedua emiten mendapatkan respons positif karena model bisnis yang jelas serta dukungan makroekonomi yang solid. Namun, ia mengingatkan investor untuk mencermati risiko volatilitas harga komoditas dan persaingan di sektor logistik. “BACH punya rekam jejak yang baik di logistik, tetapi harga bahan bakar dan investasi kendaraan listrik memerlukan perhitungan matang. Adapun EMMI masih bergantung pada belanja pemerintah di sektor kesehatan,” tulisnya.
Prospek dan Tantangan
Pencatatan BACH dan EMMI mempertegas tren IPO sektor riil yang tahun ini mengungguli sektor teknologi dalam hal jumlah emiten baru. Kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi alat kesehatan dan percepatan kendaraan listrik menjadi katalis yang dapat memperbesar pangsa pasar kedua emiten. Meski begitu, tekanan dari kenaikan suku bunga global dan fluktuasi rupiah perlu diwaspadai. Manajemen kedua perusahaan mengatakan telah melakukan lindung nilai (hedging) atas sebagian komponen impor dan sudah memasukkan asumsi kurs sebesar Rp15.800 per dolar AS dalam proyeksi keuangan satu tahun ke depan.
Bagi investor yang ingin mendalami lebih jauh, berikut tiga pertanyaan esensial seputar pencatatan perdana BACH dan EMMI.
Comments (0)