Jakarta — IHSG Sesi Pertama Ditutup Anjlok ke 6.734
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada sesi pertama perdagangan Rabu (13/5/2026). Di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, IHSG terp
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada sesi pertama perdagangan Rabu (13/5/2026). Di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, IHSG terparkir di level 6.734, anjlok 158,24 poin atau setara 2,30% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di 6.892,24. Pelemahan ini merupakan yang terdalam dalam delapan pekan terakhir, menyeret kapitalisasi pasar turun sekitar Rp 78,5 triliun menjadi Rp 8.924 triliun.
Sepanjang sesi, tekanan jual mendominasi sejak pra-pembukaan. IHSG sempat menyentuh level terendah harian di 6.711,55 pada pukul 10:15 WIB. Volume perdagangan mencapai 12,8 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 9,4 triliun. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 1,78 triliun, terkonsentrasi di saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, ASII, dan TLKM. Tujuh dari sebelas indeks sektoral berakhir di zona merah, dipimpin oleh sektor teknologi yang rontok 3,72% serta sektor keuangan yang melemah 2,84%.
Sentimen Global dan Domestik Menekan IHSG
Analis menghubungkan kejatuhan ini dengan rambatan sentimen eksternal. Semalam, bursa Amerika Serikat ditutup melemah setelah data Consumer Price Index (CPI) Mei 2026 naik 3,6% secara tahunan, memupus harapan pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Pasar kini memproyeksikan probabilitas 78% bahwa suku bunga acuan akan bertahan di level 5,25-5,50% hingga akhir kuartal ketiga. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun melonjak ke 4,42%, memicu arus modal keluar dari aset berisiko. Di dalam negeri, rupiah terdepresiasi ke Rp 15.840 per dolar AS, level terlemah sejak Februari 2026, memperberat beban emiten dengan eksposur utang valas.
Tekanan tambahan datang dari koreksi harga komoditas. Harga minyak sawit mentah (CPO) terkoreksi 1,8% menjadi RM 3.720 per ton akibat kekhawatiran permintaan dari India. Sementara itu, harga batu bara acuan ICI-4 turun 0,9% ke USD 78,4 per ton. Emiten-emiten seperti ADRO, ITMG, dan PTBA menjadi pemberat tambahan bagi indeks sektor energi yang turun 1,42%.
Analisis Teknikal dan Data Sektoral
Dari sisi teknikal, IHSG kini bertengger di bawah moving average 50 hari (MA50) di level 6.825 dan mendekati MA200 di 6.712. Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di 32,4, mendekati wilayah oversold. Analis senior dari MNC Sekuritas, Pratama Widodo, mengatakan bahwa penjualan ini sudah terlalu agresif dan secara historis, wilayah 6.700-6.720 sering menjadi titik akumulasi bagi investor institusi. "Selama level psikologis 6.700 tidak ditembus dengan volume signifikan, potensi technical rebound pada sesi kedua masih terbuka," tambahnya.
| Sektor | Penutupan Kemarin | Sesi I (13/5) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Teknologi | 8.124,55 | 7.822,33 | -3,72% |
| Keuangan | 1.531,20 | 1.487,72 | -2,84% |
| Energi | 2.102,80 | 2.072,92 | -1,42% |
| Kesehatan | 1.845,33 | 1.852,14 | +0,37% |
| Properti | 765,44 | 758,21 | -0,94% |
| Konsumen Non-Primer | 842,67 | 832,40 | -1,22% |
| Konsumen Primer | 762,18 | 765,30 | +0,41% |
Di tengah kejatuhan, sektor kesehatan dan barang konsumen primer justru mencatat penguatan tipis. Saham KLBF naik 1,1% dan UNVR naik 0,8% karena dianggap defensif di tengah gejolak. Ekonom dari Bank Danamon, Helmi Arman, melihat pelemahan ini sebagai koreksi sehat yang sejalan dengan siklus kebijakan global. "Dengan valuasi IHSG yang sudah turun ke 13,5 kali estimasi laba bersih 12 bulan ke depan, sudah ada sinyal diskon menarik bagi investor jangka panjang," tuturnya.
Comments (0)