Prabowo Anugerahi Gelar Pahlawan Nasional kepada Sepuluh Tokoh

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh dalam sebuah upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, pada peringatan Hari P...

Jul 12, 2026 - 03:26
0 0
Prabowo Anugerahi Gelar Pahlawan Nasional kepada Sepuluh Tokoh

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh dalam sebuah upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, pada peringatan Hari Pahlawan, Minggu (10/11). Kesepuluh tokoh tersebut dinilai telah memberikan kontribusi luar biasa dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, serta mengisi pembangunan bangsa melalui jalur masing-masing. Di antara nama yang diangkat, Tuan Rondahaim Saragih menjadi sorotan sebagai tokoh pejuang asal Sumatra Utara yang kerap disandingkan dengan Napoleon karena kecakapan strategi militernya.

Penganugerahan ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 88/TK/Tahun 2024 yang ditetapkan setelah melalui proses verifikasi dan pengkajian oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa penganugerahan gelar bukan sekadar seremoni, melainkan pengakuan negara atas keteladanan dan pengorbanan para tokoh yang telah menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya.

"Negara hadir untuk mencatat dan mengabadikan setiap keping perjuangan yang dilakukan para pahlawan. Mereka adalah obor yang tidak boleh padam dalam ingatan kolektif anak bangsa," ujar Presiden Prabowo.

Hadir dalam upacara tersebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, para menteri Kabinet Indonesia Maju, pimpinan lembaga tinggi negara, serta keluarga para penerima gelar. Prosesi berlangsung khidmat dengan pengibaran bendera Merah Putih dan pembacaan riwayat singkat setiap pahlawan oleh Menteri Sosial.

Profil Singkat Para Pahlawan Baru

Selain Tuan Rondahaim Saragih, sembilan tokoh lain yang menerima gelar berasal dari beragam latar belakang dan daerah. Mereka adalah KH Ahmad Dahlan dari Yogyakarta, pendiri Muhammadiyah yang melakukan pembaruan pendidikan Islam; KH Hasyim Asy’ari dari Jawa Timur, pendiri Nahdlatul Ulama yang mengeluarkan Resolusi Jihad; dr. Johannes Leimena dari Maluku, dokter dan negarawan yang merintis sistem pelayanan kesehatan terpadu; serta Arnold Mononutu dari Sulawesi Utara, diplomat ulung yang berperan dalam diplomasi pengakuan kedaulatan Indonesia.

Dari Sumatra Barat, hadir nama H. Agus Salim, diplomat dan pemikir Islam yang dijuluki "The Grand Old Man". Sementara dari Kalimantan Selatan, Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar melawan kolonialisme Belanda. Dari Aceh, Cut Nyak Dhien yang melanjutkan perlawanan suaminya, Teuku Umar, terhadap penjajahan. Papua juga memberikan satu nama, yaitu Silas Papare, pejuang integrasi yang mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Terakhir, dari Sulawesi Selatan, Sultan Hasanuddin, Raja Gowa yang dikenal dengan perlawanan gigih terhadap VOC yang memberinya julukan "Ayam Jantan dari Timur".

Profil Tuan Rondahaim Saragih secara khusus dijelaskan dalam narasi pemerintah. Ia lahir di Pematang Siantar pada 1828 dan dikenal sebagai penguasa Kerajaan Raya yang gigih menentang penjajahan Belanda di Tanah Batak. Dengan kecakapan strategi perang gerilya dan penggunaan diplomasi adat, ia berhasil mempertahankan kedaulatan wilayahnya selama puluhan tahun. Julukan "Napoleon dari Batak" disematkan oleh peneliti Belanda karena kemiripan taktik dan posturnya dengan Kaisar Napoleon Bonaparte. Presiden Prabowo menyebut Rondahaim sebagai teladan ketangguhan lokal yang tidak mudah ditundukkan oleh kekuatan asing.

Makna Strategis Penganugerahan

Penganugerahan gelar ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat sejarah, tetapi juga memiliki dimensi politik kebangsaan yang mendalam. Sepuluh nama yang dipilih merepresentasikan keberagaman Indonesia, baik dari segi geografis maupun jalur perjuangan: militer, diplomasi, pendidikan, agama, dan kesehatan. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menekankan bahwa keberagaman ini merupakan pesan tegas mengenai persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Pemerintah sengaja memilih tokoh-tokoh yang mewakili seluruh penjuru Nusantara. Ini adalah cermin bahwa perjuangan tidak mengenal asal-usul, suku, atau agama. Semua bergerak untuk satu tujuan: Indonesia merdeka dan berdaulat," kata Pratikno dalam konferensi pers seusai upacara.

Sementara itu, Menteri Sosial Tri Rismaharini menambahkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menggelar serangkaian kegiatan napak tilas dan diskusi publik guna menyosialisasikan nilai-nilai perjuangan para pahlawan baru, khususnya kepada generasi muda. "Pahlawan bukan hanya nama di buku sejarah, melainkan inspirasi yang harus ditransformasi ke dalam aksi nyata masa kini," ujarnya.

Di sisi lain, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Restu Gunawan, menilai bahwa masuknya nama Rondahaim Saragih melengkapi narasi perlawanan rakyat di luar Jawa yang selama ini sering kali kurang mendapatkan tempat dalam historiografi resmi. "Pengakuan ini penting untuk mengoreksi narasi besar yang terlalu Jawa-sentris. Perjuangan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua memiliki kompleksitas dan keunikan tersendiri yang patut dicatat," terangnya.

Respons Keluarga dan Masyarakat

Keluarga besar para penerima gelar menyambut anugerah ini dengan haru. Cucu Tuan Rondahaim Saragih, Maraden Saragih (78), mengaku tidak menyangka perjuangan kakeknya akan diakui secara nasional. "Kami hanya menyimpan cerita lisan dan sedikit peninggalan. Kini, negara mengembalikan marwah leluhur kami ke panggung kebangsaan," katanya dengan mata berkaca-kaca. Ia berharap gelar ini mendorong pemerintah daerah untuk melestarikan benteng-benteng peninggalan Rondahaim yang masih ada di wilayah Pematangsiantar.

Di Yogyakarta, keluarga besar Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari menggelar doa bersama dan mengundang masyarakat untuk mengikuti pengajian akbar sebagai bentuk syukur. Sementara di Aceh, keturunan Cut Nyak Dhien, Cut Nurul Asikin, menyatakan bahwa gelar tersebut adalah momentum untuk memperkuat narasi perempuan dalam sejarah bangsa. "Nenek kami adalah bukti bahwa perempuan tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi pemimpin di medan perang dan pembangun peradaban," tegasnya.

Pemerintah daerah juga merespons cepat. Gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution, mengumumkan bahwa kawasan benteng Rondahaim akan direvitalisasi menjadi kawasan cagar budaya nasional dengan dukungan dana dari pusat. "Ini sejalan dengan visi pembangunan berbasis warisan budaya. Tuan Rondahaim bukan hanya milik Siantar, tetapi milik Indonesia," ujarnya.

Dampak pada Dunia Pendidikan dan Riset

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyatakan akan segera memasukkan narasi para pahlawan baru ke dalam kurikulum sejarah tingkat dasar dan menengah. Menteri Nadiem Makarim menyebutkan bahwa penulisan ulang buku teks akan memprioritaskan pendekatan multidimensional yang tidak hanya berkutat pada tokoh nasional di Jawa, tetapi juga menyajikan kiprah lokal yang berdampak nasional. "Generasi Z dan Alpha harus tahu bahwa pahlawan datang dari semua penjuru, dengan segala profesi," katanya.

Selain itu, perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Sumatera Utara akan menggelar seminar dan riset multidisiplin tentang sepuluh pahlawan tersebut. Rektor USU, Dr. Muryanto Amin, menyampaikan pihaknya telah menyiapkan pusat studi khusus untuk mengkaji strategi perang Rondahaim Saragih dan relevansinya bagi studi pertahanan modern. "Kita bisa belajar banyak dari taktik asimetris yang diterapkan melawan kekuatan superior Belanda," ungkapnya.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional 2024 ini menegaskan kembali bahwa bangsa Indonesia terus berbenah untuk menyusun sejarah yang lebih inklusif dan berkeadilan. Sepuluh nama yang diresmikan tidak hanya menambah daftar panjang pahlawan, tetapi juga membawa pesan bahwa setiap jengkal tanah dan setiap episode perjuangan memiliki arti penting bagi keutuhan bangsa. Dengan keteladanan mereka, negara berharap semangat patriotisme terus menyala di dada setiap warga, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User