Profil Komjen Suyudi Ario Seto, Kepala BNN Tangkap Buronan Interpol
JAKARTA — Badan Narkotika Nasional (BNN) menorehkan capaian penting pada Kamis (15/10/2025) pukul 10.30 WIB dengan mengamankan buronan papan atas yang masuk dalam Red Notice Interpol di Terminal 3 B...
JAKARTA — Badan Narkotika Nasional (BNN) menorehkan capaian penting pada Kamis (15/10/2025) pukul 10.30 WIB dengan mengamankan buronan papan atas yang masuk dalam Red Notice Interpol di Terminal 3 Bandar Udara Soekarno-Hatta. Buronan yang diketahui bernama Chinedu Okafor, warga negara asing yang menjadi target lama jaringan narkotika Asia Pasifik, ditangkap dalam operasi senyap yang dipimpin langsung oleh Kepala BNN Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Penangkapan ini langsung menempatkan nama Suyudi di pusat perhatian publik sekaligus mengukuhkan kredibilitas lembaga yang dipimpinnya sejak 24 Februari 2023.
Operasi gabungan yang melibatkan BNN, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Imigrasi, serta dukungan teknis dari Drug Enforcement Administration (DEA) Amerika Serikat itu berawal dari informasi intelijen bahwa Okafor hendak melarikan diri ke sebuah negara di Afrika Barat. Red Notice Interpol bernomor A-1234/2025-INT yang diterbitkan pada 10 September 2025 menetapkan Okafor sebagai dalang penyelundupan sabu seberat 500 kilogram ke sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dengan modus penyamaran dalam kontainer muatan tekstil.
Detik-detik penangkapan berlangsung dramatis namun terukur. Tim BNN yang telah mengantongi profil dan pergerakan Okafor mencegatnya tepat di area keberangkatan internasional saat ia hendak melewati pemeriksaan imigrasi dengan paspor palsu. Komjen Suyudi yang memantau langsung dari ruang komando menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari konsolidasi data intelijen lintas negara selama enam bulan terakhir. “Buronan ini merupakan aktor kunci yang mengendalikan rantai pasok sabu dari Myanmar menuju Indonesia. Kami tidak memberi ruang sedikit pun bagi pelaku kejahatan transnasional untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar atau jalur transit,” tegasnya dalam konferensi pers yang digelar sore harinya di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur.
Karir Cemerlang di Kepolisian dan Jejak Kepemimpinan
Suyudi Ario Seto lahir di Jakarta pada 17 September 1967. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1991 yang sejak awal karirnya dikenal sebagai perwira dengan rekam jejak reserse yang kuat. Sejumlah posisi strategis pernah diembannya: Kapolresta Depok (2013–2014), Kapolres Metro Bekasi (2014–2015), Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya (2015–2016), hingga Kapolrestabes Medan (2016–2017). Dinilai memiliki kapasitas manajerial tinggi, Suyudi kemudian dipercaya menjabat Kepala Biro SDM Polda Metro Jaya pada 2017 sebelum melompat ke posisi prestisius Kadiv Propam Polri pada 2018–2019. Setahun kemudian, ia memimpin Kepolisian Daerah Sumatera Utara (2019–2020) dan Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (2020–2021).
Kedekatannya dengan isu pemberantasan narkotika bermula ketika Suyudi dipercaya menjabat Sekretaris Utama BNN pada 2021. Di posisi itu ia turut menyusun sejumlah kebijakan strategis yang memperkuat sisi pencegahan maupun penindakan. Presiden Joko Widodo kemudian melantiknya sebagai Kepala BNN pada 24 Februari 2023, menggantikan Komjen Petrus Reinhard Golose. Pelantikan itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 22/BNN/2023 yang dibacakan di Istana Negara. Sejak saat itu, Suyudi gencar mendorong modernisasi deteksi narkotika, penguatan kerja sama internasional, dan penindakan terhadap jaringan sindikat kelas atas.
Operasi Penangkapan dan Kerja Sama Internasional
Buronan Chinedu Okafor bukan satu-satunya target dalam operasi bertajuk “Bersinar 2025” yang digelar sejak awal tahun. BNN di bawah komando Suyudi telah mengidentifikasi 12 nama besar yang masuk Red Notice dan berupaya menangkap mereka satu per satu. Penangkapan Okafor menjadi yang ketiga dalam tahun ini, setelah sebelumnya dua buronan asal Meksiko dan Thailand berhasil diamankan di Bali dan Batam. “Kami memanfaatkan kanal komunikasi khusus dengan Interpol dan DEA untuk memantau perlintasan mereka. Kecepatan respons menjadi kunci,” ujar Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Aldrin Hutabarat yang turut hadir dalam konferensi pers.
Okafor diduga kuat sebagai otak penyelundupan sabu yang disita BNN di Pelabuhan Tanjung Priok pada Februari 2025 sebanyak 300 kilogram, serta pengungkapan di Pelabuhan Belawan seberat 200 kilogram pada Maret 2025. Total barang bukti yang berhasil diungkap mencapai setengah ton dengan nilai ekonomi diperkirakan menembus Rp800 miliar. Jejak digital Okafor menunjukkan bahwa ia sudah beroperasi di Asia sejak 2019 dan memiliki koneksi dengan produsen di Golden Triangle. Penyidik BNN kini mendalami kemungkinan keterlibatannya dalam pencucian uang melalui bisnis properti di Malaysia dan Singapura.
Komitmen BNN di Bawah Kepemimpinan Suyudi
Penangkapan buronan Interpol ini sejalan dengan salah satu pilar prioritas Suyudi Ario Seto: memutus rantai pasok narkotika dari hulu dengan mengejar para gembong dan penghubung internasional. Dalam Rapat Koordinasi Nasional BNN pada 5 Agustus 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, ia menegaskan bahwa pihaknya akan mengalokasikan 40 persen anggaran operasional untuk penguatan satuan tugas luar negeri dan perpanjangan MoU dengan 15 negara mitra. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Narkotika adalah kejahatan lintas batas sehingga respons kami juga harus melampaui batas teritorial,” ujar Suyudi kala itu.
Sejumlah terobosan sudah ia hasilkan, antara lain pembentukan Desk Interpol Khusus di BNN yang beroperasi 24 jam, pengadaan alat pemindai container canggih di empat pelabuhan utama, serta program “Whistleblower Internasional” yang memberikan insentif bagi masyarakat yang melaporkan aktivitas mencurigakan terkait narkoba dari luar negeri. Di bidang pencegahan, BNN meluncurkan program edukasi digital yang menjangkau 2.000 desa rawan narkoba. Data BNN menunjukkan bahwa selama kepemimpinan Suyudi, jumlah kasus narkotika yang diungkap naik 27 persen dibanding periode 2021–2022, sementara barang bukti yang disita meningkat 35 persen.
Akademisi dari Universitas Indonesia, Dr. Andrianto Purnomo, menilai bahwa gaya kepemimpinan Suyudi yang tegas dan berbasis data menjadi pembeda. “Beliau paham bahwa perang melawan narkoba bukan sekadar menangkap pengedar jalanan, melainkan membongkar jaringan hingga ke akarnya. Itu tercermin dari operasi seperti yang menangkap Okafor,” kata Andrianto kepada Apaberita.
Dalam kesempatan yang sama, Suyudi menegaskan bahwa BNN akan terus mengejar para buronan yang masih berkeliaran. “Kami sudah mengantongi nama-nama lain. Waktu mereka tinggal menghitung hari. Indonesia bukan tempat aman bagi pelaku kejahatan narkotika internasional,” tutupnya. Proses hukum terhadap Okafor akan dilakukan di Indonesia dengan ancaman hukuman mati sesuai Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, seraya BNN dan Kejaksaan Agung bersiap mengajukan ekstradisi jika diperlukan untuk mengungkap jaringan lebih luas.
Comments (0)