Kendaraan sport utility vehicle (SUV) BMW X5 dari generasi awal hingga saat ini masih menjadi salah satu mobil yang banyak digunakan di Indonesia. Dua generasi pertama, yakni E53 yang diproduksi pada periode 1999 hingga 2004 dan E70 yang dirilis antara tahun 2008 sampai 2012, menjadi model yang paling sering dicari sekaligus paling rutin masuk ke bengkel spesialis.
Pemilik BMW Persada Motor, Hamid, menyatakan bahwa kedua generasi tersebut memiliki keluhan yang berulang dan cenderung sama dari waktu ke waktu. Kebocoran oli serta kerusakan pada kaki-kaki bagian depan menjadi dua persoalan yang paling banyak ditemui di bengkelnya.
"Kalau X-series itu paling sering kebocoran oli, sama kaki-kaki depan karena dia 4x4. Jadi, kaki-kaki yang depan tuh lumayan. Kalau velg dan bannya sudah tidak standar, umurnya jadi cepat habis," kata Hamid kepada awak media saat ditemui di Pasar Segar Cinere, Depok.
Kebocoran Oli Didominasi Transmisi Matik
Hamid menuturkan, kebocoran oli paling sering terjadi pada bagian transmisi matik. Suhu kerja mesin yang tinggi membuat komponen karet di sekitarnya cepat mengeras sehingga kemampuan komponen tersebut dalam menahan oli ikut menurun. Kondisi ini pada akhirnya memicu rembesan oli yang apabila dibiarkan dapat berdampak lebih luas pada sistem penggerak.
Untuk perbaikan kebocoran oli transmisi matik, bengkelnya mematok biaya mulai Rp 2,5 juta sampai Rp 2,7 juta. Proses pengerjaannya membutuhkan waktu tiga sampai empat hari, dengan durasi paling lama mencapai sepekan karena kapasitas area bengkel yang tidak terlalu besar.
Kaki-Kaki Depan Jadi Titik Rawan
Selain kebocoran oli, Hamid menyebut kerusakan kaki-kaki depan menjadi keluhan berikutnya yang kerap muncul. Perbaikan pada bagian ini mengandalkan penggantian bushing arm serta bantalan shock breaker. Harga satu bushing berukuran besar berada di kisaran Rp 600 ribu, sedangkan yang berukuran kecil sekitar Rp 400 ribu per buah.
Menurut Hamid, karakter penggerak empat roda membuat beban kerja kaki-kaki depan lebih besar dibandingkan kendaraan berpenggerak dua roda. Oleh sebab itu, pemilik X5 diminta lebih teliti dalam memantau kondisi komponen tersebut, terutama bila kendaraan dipakai harian di jalan perkotaan yang permukaannya tidak selalu mulus.
Ukuran Ban Wajib Sesuai Bawaan Pabrikan
Hamid juga mengingatkan pemilik X5 untuk tidak sembarangan mengganti ban. Sistem penggerak empat roda pada mobil tersebut sudah memakai motor dan modul sehingga ukuran ban depan dan belakang wajib sama persis seperti bawaan pabrikan.
"Mobil sekarang yang 4x4 rata-rata ukuran bannya sama rata depan belakang. Kalau umpamanya ban depan dan belakang itu beda, ngaco. Kadang orang tidak tahu dan tidak dikasih tahu juga sama tokonya," terangnya.
Ia menjelaskan, perbedaan ukuran ban antara depan dan belakang dapat mengganggu kinerja sistem penggerak empat roda. Dampaknya tidak hanya pada kenyamanan berkendara, tetapi juga berpotensi memperpendek umur komponen terkait.
Berdasarkan pengamatan di bengkel tersebut, sebagian pemilik X5 baru menyadari adanya masalah setelah keluhan muncul dalam bentuk suara tidak wajar atau getaran saat kendaraan melaju. Padahal, pemeriksaan berkala pada area kaki-kaki dan sistem transmisi dapat membantu mendeteksi gejala lebih awal sehingga biaya perbaikan bisa ditekan.
Hamid menambahkan, pemilik X5 sebaiknya menggunakan suku cadang yang sesuai spesifikasi dan melakukan servis di bengkel yang memahami karakter kendaraan tersebut. Langkah ini dinilai lebih efektif untuk menjaga performa sekaligus mempertahankan nilai jual kembali mobil.
Comments (0)