Penutupan Selat Hormuz oleh Iran Tanpa Batas Waktu Ditetapkan
TEHERAN — Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara resmi menutup seluruh akses pelayaran di Selat Hormuz pada Senin (14/7) pukul 09.30 waktu setempat. Keputusan itu diambi...
TEHERAN — Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara resmi menutup seluruh akses pelayaran di Selat Hormuz pada Senin (14/7) pukul 09.30 waktu setempat. Keputusan itu diambil tanpa penetapan durasi dan bersifat segera, langsung menghentikan lalu lintas kapal niaga serta tanker minyak yang melintasi jalur strategis tersebut. Penutupan diumumkan melalui frekuensi darurat maritim setelah tiga kapal perang IRGC mengambil posisi di titik sempit selat, berhadapan langsung dengan gugus tugas Angkatan Laut Amerika Serikat yang beroperasi di Teluk Oman.
Juru bicara IRGC, Laksamana Muda Ali Reza Tangsiri, menegaskan bahwa langkah itu merupakan respons terhadap serangan beruntun terhadap dua kapal niaga berbendera Iran di perairan internasional serta manuver ofensif Unit Ekspedisi Marinir Amerika Serikat di pangkalan Al‑Dhafra. “Kami tidak dapat lagi mentoleransi provokasi yang terus berulang. Selat Hormuz akan tetap tertutup hingga jaminan keamanan penuh bagi kedaulatan Iran dipenuhi oleh pihak‑pihak yang bertanggung jawab atas eskalasi ini,” ujar Tangsiri dalam keterangan pers di pangkalan utama Bandar Abbas.
Eskalasi Dua Pekan
Ketegangan memuncak sejak 2 Juli ketika kapal tanker Arya dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di lepas pantal Fujairah, disusul insiden serupa terhadap kapal Khashayar pada 9 Juli. Iran melalui Kementerian Luar Negeri langsung menuding keterlibatan intelijen maritim asing, meski Gedung Putih membantah keras tuduhan tersebut. Sementara itu, pada 12 Juli, USS Bataan dan kapal serbu amfibi USS Carter Hall melakukan latihan tembak langsung di perairan Oman, yang oleh Tehran dianggap sebagai unjuk kekuatan ofensif.
Rapat Koordinasi Keamanan Nasional Iran yang dipimpin Presiden pada 13 Juli malam memutuskan peningkatan status siaga menjadi “Kondisi Perang Ekonomi”. Berdasarkan Undang‑Undang Pertahanan Wilayah Perairan, komandan IRGC memperoleh kewenangan penuh untuk menutup selat tanpa memerlukan persetujuan tambahan parlemen. Keputusan itu juga menindaklanjuti rekomendasi Dewan Keamanan Tertinggi yang menyebut “ancaman langsung terhadap kelangsungan pasokan energi nasional”.
Dampak Langsung terhadap Lalu Lintas Energi
Penutupan seketika menghentikan pergerakan sedikitnya 17 kapal tanker yang sedang mengantre di kedua sisi selat. Data pelacakan satelit MarineTraffic menampilkan 11 kapal tanker minyak mentah dan enam kapal pengangkut LNG terhenti total di koordinat 26°30'LU‑56°10'BT. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur transit sekitar 21 juta barel minyak per hari, setara dengan 21 persen konsumsi minyak global. Harga minyak mentah Brent langsung melonjak 8,7 persen ke level US$96,40 per barel dalam perdagangan elektronik pasca‑pengumuman.
Di dalam negeri, Kementerian Perminyakan Iran menginstruksikan seluruh terminal ekspor di Pulau Kharg, Bandar Mahshahr, dan Assaluyeh untuk mengalihkan stok ke penyimpanan darurat. Juru bicara kementerian, Mohammad Rajabi, menyatakan bahwa kapasitas tangki strategis nasional masih mencukupi untuk 62 hari operasi, namun memperingatkan bahwa tanpa pembukaan selat, kontrak ekspor jangka panjang dengan mitra Asia akan terganggu dalam dua pekan ke depan. “Kami sudah mengaktifkan protokol darurat, tetapi tekanan terhadap fiskal negara tidak bisa dihindari,” katanya.
Reaksi Internasional dan Posisi Washington
Komando Pusat Angkatan Laut Amerika Serikat (NAVCENT) langsung mengeluarkan pernyataan resmi bahwa pihaknya akan “mengambil segala langkah yang diperlukan untuk menjamin kebebasan navigasi”. Kapal perusak USS McFaul dan USS Thomas Hudner telah bergerak mendekati batas 12 mil laut perairan Iran, sementara kapal induk USS Gerald R. Ford yang sedang berlayar di Laut Arab dialihkan menuju Teluk Oman. Menteri Pertahanan AS dalam konferensi pers di Pentagon menekankan bahwa sikap Iran “tidak dapat diterima” tanpa merinci opsi militer lebih lanjut.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa‑Bangsa dijadwalkan menggelar sidang darurat pada Selasa (15/7) atas permintaan Perancis dan Uni Emirat Arab. Sekretaris Jenderal PBB mendesak kedua pihak untuk “menahan diri sepenuhnya dan membuka kembali jalur maritim vital tersebut”. Sementara itu, Liga Arab melalui pernyataan Sekretaris Jenderalnya menyebut penutupan itu sebagai “pelanggaran serius terhadap hukum internasional”, namun beberapa anggota seperti Qatar dan Oman memilih jalur diplomasi bilateral dan telah mengirim utusan khusus ke Teheran.
Fraksi Parlemen Iran Bersuara
Di dalam negeri, Fraksi Garis Keras Parlemen Iran menyambut keputusan IRGC sebagai “tindakan patriotik yang sudah lama dinantikan”. Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri, Mojtaba Zonnour, dalam sesi pleno terbuka menyatakan, “Penutupan Selat Hormuz adalah pesan bahwa kami tidak akan bernegosiasi di bawah todongan senjata. Perekonomian Barat harus merasakan dampak dari petualangan militer mereka.” Sebaliknya, sejumlah anggota Fraksi Moderat memperingatkan risiko isolasi ekonomi yang lebih dalam, terutama setelah putaran sanksi terakhir Uni Eropa pada Mei lalu.
Teheran juga menginstruksikan seluruh misi diplomatiknya untuk menyampaikan nota resmi kepada negara‑negara importir minyak bahwa kontrak akan ditangguhkan tanpa kompensasi selama penutupan berlangsung. Kepala Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran, Mohammad Rastad, menegaskan bahwa penutupan tidak akan mempengaruhi kapal berbendera negara yang secara resmi tidak mendukung sanksi terhadap Iran, meski hingga pukul 18.00 waktu setempat belum ada kapal yang diberi izin melintas.
Baca juga:
Comments (0)