Investasi Lima Bendungan Diresmikan Prabowo Tembus Rp9,79 Triliun
Presiden Prabowo Subianto meresmikan secara serentak lima bendungan strategis nasional dalam sebuah seremoni kenegaraan yang digelar di Istana Negara, Jakarta, Kamis pagi. Total nilai investasi pemban...
Presiden Prabowo Subianto meresmikan secara serentak lima bendungan strategis nasional dalam sebuah seremoni kenegaraan yang digelar di Istana Negara, Jakarta, Kamis pagi. Total nilai investasi pembangunan kelima infrastruktur sumber daya air tersebut mencapai Rp9,79 triliun, menandai salah satu komitmen terbesar pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan pengelolaan air di Tanah Air. Peresmian dilakukan melalui sistem daring yang menghubungkan langsung lokasi bendungan di lima provinsi berbeda.
Berdasarkan dokumen resmi Kementerian Pekerjaan Umum yang dikutip dalam agenda tersebut, kelima bendungan yang diresmikan meliputi Bendungan Tiro di Aceh, Bendungan Ameroro di Sulawesi Tenggara, Bendungan Margatiga di Lampung, Bendungan Lolak di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, serta Bendungan Temef di Nusa Tenggara Timur. Seluruh proyek ini mulai digarap dalam kurun waktu 2018 hingga 2022 dan kini telah sepenuhnya beroperasi. Kepala Negara dalam sambutannya menegaskan bahwa air merupakan fondasi peradaban dan kunci kedaulatan bangsa.
Rincian Nilai Proyek dan Kapasitas Tampung
Staf Ahli Menteri PU Bidang Sumber Daya Air memaparkan bahwa dari total Rp9,79 triliun, alokasi terbesar diserap oleh Bendungan Ameroro yang menelan biaya Rp3,6 triliun. Bendungan ini memiliki kapasitas tampung mencapai 135 juta meter kubik dan digadang-gadang mampu mengairi lahan irigasi seluas 15.773 hektare di Kabupaten Konawe. Sementara Bendungan Tiro yang berlokasi di Kabupaten Pidie, Aceh, dibangun dengan investasi Rp1,84 triliun dan kapasitas tampung 120 juta meter kubik. Keberadaan bendungan ini diharapkan mereduksi risiko banjir yang dalam dua dekade terakhir kerap melanda wilayah hilir Krueng Baro.
Untuk Bendungan Margatiga di Lampung Timur, pemerintah menggelontorkan dana sebesar Rp1,49 triliun. Bendungan berkapasitas 42,47 juta meter kubik ini diproyeksikan menjadi tulang punggung irigasi bagi 16.588 hektare sawah di kawasan lumbung pangan Lampung. Selanjutnya, Bendungan Lolak di Sulawesi Utara menghabiskan anggaran Rp1,86 triliun dengan daya tampung 45,75 juta meter kubik. Infrastruktur ini juga berfungsi sebagai sumber air baku bagi masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow dan Kota Kotamobagu. Adapun Bendungan Temef di Timor Tengah Selatan, NTT, menjadi yang terkecil dengan biaya konstruksi Rp1,16 triliun dan kapasitas 45,78 juta meter kubik, namun nilai strategisnya sangat tinggi mengingat NTT merupakan wilayah dengan tingkat kekeringan paling parah di Indonesia.
Manfaat Multisektor dan Ketahanan Pangan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang turut mendampingi Presiden dalam peresmian tersebut menyatakan bahwa operasionalisasi lima bendungan ini memberikan dampak berganda yang signifikan.
"Total luas lahan irigasi baru yang akan terlayani mencapai lebih dari 42.000 hektare. Ini bukan sekadar angka, melainkan jaminan bagi peningkatan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun di beberapa lokasi,"ujarnya. Ia menekankan bahwa target swasembada pangan nasional memerlukan dukungan infrastruktur pengairan yang memadai dan berkelanjutan.
Selain fungsi irigasi, kelima bendungan ini juga menyediakan pasokan air baku dengan kapasitas total mencapai 5.200 liter per detik. Sumber air bersih tersebut akan didistribusikan ke sejumlah kota dan kawasan industri di sekitarnya. Bendungan Ameroro misalnya, diharapkan memasok 2.200 liter per detik ke Kota Kendari serta kawasan industri pertambangan di Kolaka. Presiden Prabowo secara khusus menyoroti pentingnya sinergi antara sektor pertanian dan industri dalam pemanfaatan sumber daya air.
"Saya tidak ingin ada konflik kepentingan. Petani harus tetap menjadi prioritas utama, baru kemudian kebutuhan industri menyusul setelah kebutuhan pangan rakyat tercukupi,"tegasnya di hadapan para menteri dan kepala daerah yang hadir.
Aspek Pengendalian Banjir dan Energi Terbarukan
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU menyampaikan bahwa kemampuan reduksi banjir dari kelima bendungan ini cukup substansial. Bendungan Tiro, misalnya, dirancang mampu mereduksi debit banjir hingga 60 persen atau setara 1.200 meter kubik per detik saat curah hujan ekstrem di wilayah Aceh. Sementara Bendungan Margatiga diproyeksikan memotong puncak banjir sebesar 40 persen pada Daerah Aliran Sungai Sekampung.
"Dengan beroperasinya bendungan-bendungan ini, kami memproyeksikan penghematan kerugian ekonomi akibat banjir bisa mencapai Rp500 miliar per tahun,"ungkapnya dalam rapat koordinasi teknis yang digelar sebelum seremoni peresmian.
Menariknya, dua dari lima bendungan yakni Ameroro dan Lolak juga dilengkapi fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Total kapasitas terpasang dari kedua PLTMH tersebut mencapai 3,2 megawatt. Energi listrik yang dihasilkan akan dialirkan ke jaringan PLN setempat untuk memenuhi kebutuhan listrik desa-desa sekitar bendungan yang selama ini masih mengandalkan genset diesel. Langkah ini selaras dengan kebijakan transisi energi pemerintah menuju bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025.
Peresmian serentak ini merupakan bagian dari rangkaian percepatan penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikebut dalam dua tahun terakhir. Pemerintah menargetkan total 61 bendungan baru dapat rampung dan beroperasi penuh sebelum tahun 2028. Hingga saat ini, sebanyak 47 bendungan telah diresmikan, sementara 14 bendungan lainnya masih dalam tahap konstruksi dan direncanakan selesai secara bertahap. Presiden Prabowo menutup seremoni dengan penekanan bahwa seluruh proyek infrastruktur harus memberikan manfaat nyata dan terukur bagi rakyat, bukan sekadar seremoni peresmian belaka.
Baca juga:
Comments (0)