Pameran Arsip Mengungkap Jejak Kepemimpinan Ali Sadikin

Jakarta – Pameran arsip bertajuk “Ali Sadikin dan Wajah Baru Jakarta” resmi dibuka di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta Pusat, pada Selasa (15/4/2025). Pameran yang digela...

Jul 12, 2026 - 18:48
0 0
Pameran Arsip Mengungkap Jejak Kepemimpinan Ali Sadikin

Jakarta – Pameran arsip bertajuk “Ali Sadikin dan Wajah Baru Jakarta” resmi dibuka di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta Pusat, pada Selasa (15/4/2025). Pameran yang digelar hingga 30 Mei 2025 ini menyuguhkan lebih dari 150 dokumen asli, foto, dan benda peninggalan masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (1966–1977). Publik diajak menelusuri kembali era transformatif yang mengubah wajah Ibu Kota menjadi kota metropolitan modern.

Pameran ini merupakan hasil kerja sama ANRI, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, serta keluarga besar Ali Sadikin. Pengunjung dapat melihat langsung sejumlah arsip langka, seperti Surat Keputusan Gubernur tentang pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM), peta awal proyek Taman Impian Jaya Ancol, hingga korespondensi pribadi dengan Presiden Soeharto. “Kami ingin menghadirkan kembali semangat dan visi beliau yang kerap disebut sebagai bapak pembangunan Jakarta,” ujar Kepala ANRI, Dr. Imas Maesaroh, dalam sambutannya.

Dokumen Asli dan Rekaman Sejarah

Di ruang pamer utama, pengunjung disambut dengan deretan mesin tik tua dan telepon putar yang kerap digunakan Ali Sadikin dalam menandatangani keputusan-keputusan berani. Di antaranya, dokumen penetapan proyek perbaikan saluran air besar-besaran yang mengakhiri banjir rutin di sejumlah titik, serta dokumen penutupan lokalisasi Kramat Tunggak yang menuai kontroversi pada 1970-an. Tidak ketinggalan, foto-foto masa peresmian Taman Ismail Marzuki pada 1968 menampilkan sosok gubernur yang selalu tampil dengan kemeja putih dan celana panjang hitam khasnya.

Arsiparis senior ANRI, Budi Santoso, menjelaskan bahwa seluruh dokumen yang dipamerkan telah melalui proses restorasi digital untuk memastikan akses jangka panjang. “Kami juga menyediakan barcode di setiap etalase yang memungkinkan pengunjung mengunduh salinan resolusi tinggi. Ini adalah cara kami menjembatani generasi masa kini dengan sejarah strategis kotanya,” katanya.

Mengenang Kebijakan Kontroversial nan Visioner

Ali Sadikin tercatat sebagai gubernur dengan masa jabatan terpanjang dalam sejarah DKI Jakarta, yakni 11 tahun (1966–1977). Di bawah kepemimpinannya, Jakarta bertransformasi dari kota yang minim fasilitas menjadi kota dengan pusat kebudayaan, hiburan, dan infrastruktur yang lebih tertata. Namun, sejumlah kebijakannya juga menimbulkan gelombang penolakan. Penutupan lokalisasi, penggusuran permukiman liar untuk proyek modernisasi, dan penerapan pajak hiburan yang tinggi menjadi bagian dari catatan kontroversial itu.

“Beliau tidak pernah ragu mengambil keputusan yang tidak populer asal yakin itu untuk kemajuan kota jangka panjang. Pameran ini mengingatkan kita bahwa keberanian itu kunci kepemimpinan,” ujar sejarawan Universitas Indonesia, Dr. Muhammad Iskandar, saat menjadi pembicara diskusi pembuka pameran. Ia menambahkan, Taman Ismail Marzuki dan Taman Impian Jaya Ancol hingga kini menjadi monumen hidup dari kebijakan strategis Sadikin.

Selain itu, pameran juga menyoroti program “Jakarta Sehat” yang memperkenalkan sistem puskesmas pertama di Indonesia. Dokumen notulensi rapat gubernur menunjukkan bagaimana ia mendorong alokasi anggaran kesehatan tanpa kompromi, sekaligus membangun rumah sakit dan rumah bersalin di setiap wilayah.

Belajar dari Masa Lalu untuk Jakarta Masa Depan

Dr. Imas Maesaroh menegaskan bahwa pameran ini bukan sekadar nostalgia, melainkan juga ajakan untuk merefleksikan arah pembangunan Jakarta saat ini. “Ketika isu banjir, macet, dan ketimpangan ruang terbuka hijau masih menghantui, kita perlu belajar dari langkah-langkah yang pernah diambil. Arsip-arsip ini menunjukkan perencanaan terpadu dan implementasi yang cepat,” ujarnya.

Pengunjung tampak antusias. Arya Putra (28), mahasiswa pascasarjana perencanaan kota, mengatakan bahwa melihat langsung naskah asli mengubah persepsinya tentang mitos seputar figur kontroversial itu. “Saya kira beliau hanya pembangun pusat hiburan, ternyata banyak dokumen tentang sistem drainase dan perumahan rakyat. Ternyata visioner,” katanya.

Pameran juga dilengkapi dengan sudut multimedia yang menampilkan wawancara video bersama para mantan staf dan kolega Ali Sadikin. Rekaman-rekaman itu memberi warna personal: bagaimana ia bekerja hingga dini hari, kebiasaan blusukan, dan komitmennya yang tak kenal lelah.

Akses dan Program Edukasi

Pameran dibuka untuk umum setiap hari Senin hingga Sabtu pukul 09.00–16.00 WIB tanpa dipungut biaya. ANRI menyediakan tur berpemandu bagi rombongan sekolah dan komunitas, serta lokakarya penelusuran arsip setiap akhir pekan. “Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi konsumen sejarah, tetapi juga peneliti dan penjaga arsip,” kata Imas.

Dengan menghadirkan kembali jejak kepemimpinan Ali Sadikin, pameran ini diharapkan menjadi pemicu diskusi publik tentang model kepemimpinan yang dibutuhkan Jakarta di tengah tantangan metropolitan abad ke-21.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User