Pameran Arsip Kenang Kiprah Ali Sadikin

Jakarta — Sebuah pameran arsip khusus yang menghadirkan perjalanan kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977, Ali Sadikin, resmi digelar di Galeri Arsip Nasional, Jakarta Pusat, pada Rab...

Jul 12, 2026 - 09:25
0 1
Pameran Arsip Kenang Kiprah Ali Sadikin

Jakarta — Sebuah pameran arsip khusus yang menghadirkan perjalanan kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977, Ali Sadikin, resmi digelar di Galeri Arsip Nasional, Jakarta Pusat, pada Rabu (15/10/2025). Pameran bertajuk “Jejak Bang Ali: Dari Arsip Menuju Ingatan Kolektif” ini merupakan hasil kerja sama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Pembukaan dilakukan langsung oleh Penjabat (Pj.) Gubernur DKI Jakarta, Teguh Setyabudi, didampingi Kepala ANRI, Imam Gunarto, serta keluarga besar almarhum Ali Sadikin.

Pameran yang berlangsung hingga 31 Oktober 2025 ini memajang lebih dari 120 dokumen asli, meliputi surat keputusan, nota dinas, foto-foto historis, peta tata kota, serta surat-surat pribadi sang gubernur. Semua materi dihimpun dari deposit arsip ANRI dan koleksi keluarga. Menurut Imam Gunarto, pameran ini merupakan upaya strategis mendekatkan arsip kepada publik. “Arsip bukan sekadar kertas usang, melainkan fondasi belajar bagi generasi penerus,” tegasnya.

Koleksi Unggulan yang Menceritakan Jakarta

Salah satu daya tarik utama pameran adalah naskah asli Rencana Induk Jakarta 1965–1985 yang menjadi dasar pembangunan fisik ibu kota di era Ali Sadikin. Dokumen setebal 300 halaman itu dipajang lengkap dengan catatan tangan sang gubernur di bagian margin. Selain itu, terdapat arsip instruksi pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM), Surat Keputusan Penertiban Becak, serta proposal alih fungsi kawasan Ancol menjadi pusat rekreasi terpadu. Pengunjung juga bisa menyaksikan foto dokumentasi rapat kabinet terbatas bersama Presiden Soeharto yang membahas normalisasi Kali Ciliwung.

Kepala Dispusip DKI Jakarta, Aditya Pratama, menyatakan bahwa pameran ini dirancang secara interaktif agar publik, khususnya generasi muda, memahami konteks historis setiap kebijakan. “Kami tidak hanya menampilkan artefak, tetapi juga menyediakan layar sentuh yang memuat kronologi digital 100 bulan pertama kepemimpinan beliau,” ujarnya. Bahkan, pengunjung dapat mengakses rekaman suara pidato terkenal Ali Sadikin di depan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI pada 1970 melalui bilik audio yang disediakan.

Rekam Jejak Kebijakan Visioner

Pameran ini secara khusus menyoroti tiga pilar kebijakan utama yang diwariskan Ali Sadikin: pembangunan infrastruktur, pengembangan seni-budaya, dan penataan sosial masyarakat. Dalam sektor infrastruktur, ditampilkan arsip pembebasan lahan untuk proyek Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman yang hingga kini menjadi arteri utama Jakarta. Sementara di bidang budaya, tersaji desain awal gedung Pusat Kesenian Jakarta dan nota kesepakatan dengan para seniman yang menandai lahirnya TIM sebagai ruang kreativitas.

Tak kalah pentingnya, pameran menghadirkan rekam kebijakan penertiban yang kerap kontroversial, seperti penggusuran kawasan kumuh di sepanjang bantaran kali. Di salah satu sudut, terdapat surat pernyataan sikap dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang merespons program alih profesi bagi para tukang becak. “Dokumen ini menunjukkan betapa kompleksnya mengelola perubahan sosial tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan,” jelas sejarawan Universitas Indonesia, Prof. Dr. Taufik Abdullah, yang turut hadir dalam diskusi pembuka.

Menghidupkan Ingatan Kolektif

Keluarga Ali Sadikin menyambut positif pameran yang diharapkan mampu menjaga ingatan kolektif warga Jakarta. Putri sulung almarhum, Ratna Sadikin, menyampaikan apresiasi atas inisiatif pemerintah daerah. “Ayah selalu berpesan bahwa bertugas di Jakarta bukan untuk mendapat pengakuan sesaat, melainkan untuk memastikan ibu kota bisa menjadi rumah layak bagi semua. Arsip-arsip ini adalah saksi bisu perjuangan itu,” ucapnya di sela pembukaan.

Pameran juga dilengkapi dengan sesi diskusi harian bertajuk “Jakarta dalam Lintasan Sejarah” yang menghadirkan para akademisi, mantan birokrat, dan jurnalis senior. Pada sesi pertama, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Dr. H. Prijono, memaparkan bagaimana gaya kepemimpinan Ali Sadikin yang kerap dijuluki “Bapak Jakarta Moderen” tetap relevan di tengah tantangan urban masa kini. “Beliau mengajarkan keberanian mengambil keputusan sulit, itulah yang hilang dari para pemimpin sekarang,” katanya.

Refleksi Bagi Jakarta Masa Kini

Pj. Gubernur Teguh Setyabudi menekankan bahwa pameran ini bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan upaya refleksi bagi kebijakan kota ke depan. Dalam pidatonya, ia menyitir spirit Ali Sadikin yang mampu mentransformasi Jakarta dari kota kolonial menjadi metropolitan modern dalam satu dekade. “Kita harus belajar dari keberanian dan visi besar beliau, terutama dalam mengonsolidasikan aset daerah dan merawat ruang publik,” ujarnya.

Selain agenda utama, pameran ini turut meluncurkan katalog arsip digital yang bisa diakses melalui situs resmi ANRI. Katalog tersebut memuat 337 berkas terdokumentasi yang mencakup kurun 1966 hingga 1977. “Digitalisasi ini penting supaya warga Jakarta dan peneliti tidak perlu lagi menempuh birokrasi panjang untuk mengakses memori kota,” kata Aditya Pratama.

Dengan target pengunjung sekolah dan komunitas sejarah, Dispusip DKI juga membuka layanan tur pandu untuk pelajar. Sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) yang hadir pada hari pertama mengaku antusias. “Kami bisa melihat langsung surat yang mengubah wajah kota,” kata Rizal, mahasiswa Ilmu Sejarah semester akhir.

Pameran “Jejak Bang Ali” dijadwalkan berlangsung setiap hari pukul 09.00–16.00 WIB, terbuka untuk umum tanpa biaya masuk. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap, kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia yang tahun ini mengambil tema besar “Merajut Masa Silam, Menenun Masa Depan”.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User