Desak Made dan Kadek Adi Lolos Final Chamonix 2026
CHAMONIX — Dua pemanjat putri andalan Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Kadek Adi Asih, memastikan langkah ke babak 16 besar nomor speed putri Series Chamonix 2026 setelah mencatatkan waktu...
CHAMONIX — Dua pemanjat putri andalan Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Kadek Adi Asih, memastikan langkah ke babak 16 besar nomor speed putri Series Chamonix 2026 setelah mencatatkan waktu terbaik dalam sesi kualifikasi yang berlangsung di dinding panjat Chamonix Mont‑Blanc, Perancis, Rabu (23/10). Keduanya tampil dominan dan menjadi wakil Asia yang paling disorot sepanjang putaran penyisihan.
Babak kualifikasi diikuti oleh 48 pemanjat dari 22 negara. Desak Made Rita, peraih medali perunggu Olimpiade Paris 2024, menorehkan waktu 6,78 detik pada heat ketiga dan menempati posisi keempat klasemen kualifikasi. Sementara Kadek Adi Asih, juara bertahan Piala Dunia 2025, membukukan 7,04 detik dan mengamankan posisi ke‑11. Hanya 16 pemanjat tercepat yang berhak melaju ke fase gugur. Keduanya akan kembali bertanding pada sesi final yang dijadwalkan Jumat (25/10) pukul 19.00 waktu setempat.
Peta Persaingan 16 Besar
Formasi 16 besar mempertemukan pemanjat‑pemanjat elite dunia. Desak Made akan berhadapan dengan wakil Polandia, Martyna Brodka, pada babak pertama. Adapun Kadek Adi Asih ditantang pemanjat tuan rumah, Camille Moreau. Berdasarkan catatan rekor musim ini, kedua atlet Indonesia memiliki keunggulan waktu rata‑rata 0,3–0,5 detik atas lawan‑lawannya. Pelatih Kepala Tim Panjat Tebing Indonesia, Hendra Basuki, menyatakan timnya tidak boleh lengah. “Kami sudah melakukan simulasi start dan analisis video lawan sejak kemarin. Chamonix punya karakter dinding yang sedikit lebih keras, jadi adaptasi menjadi kunci,” ujarnya dalam konferensi pers virtual usai kualifikasi.
Jejak Konsistensi Dua Pemanjat
Lolosnya Desak Made dan Kadek Adi ke 16 besar sekaligus melanjutkan tren positif tahun 2026. Sepanjang musim ini, Desak Made telah mengoleksi dua medali emas dan satu perak dari tiga seri Piala Dunia sebelumnya. Catatan waktu terbaiknya, 6,65 detik, masih menjadi rekor Asia. Kadek Adi, yang naik ke jajaran elite sejak 2025, mencatat peningkatan signifikan pada aspek kekuatan eksplosif dan konsistensi pijakan. “Kadek sekarang lebih tenang dalam situasi tekanan. Waktu 7,04 detik tadi sebenarnya belum maksimal karena sedikit selip di pijakan kedelapan, tapi itu masih cukup untuk lolos,” tambah Hendra.
Manajer Tim, Andi Mappanyukki, menegaskan bahwa target realistis kedua atlet adalah menembus semifinal. “Kami tidak ingin membebani dengan target muluk. Fokusnya adalah eksekusi bersih setiap run. Kalau itu tercapai, podium akan mengikuti,” katanya saat dihubungi terpisah. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) telah menyiapkan program pemulihan intensif selama satu hari jeda, termasuk terapi dingin dan latihan visualisasi rute.
Tantangan Dinding Chamonix
Dinding panjat Chamonix dikenal memiliki tekstur permukaan yang lebih abrasif dibandingkan lokasi Piala Dunia lainnya. Beberapa pemanjat mengeluhkan meningkatnya risiko lecet pada ujung jari. Tim pelatih telah mengantisipasi dengan menyediakan tape khusus serta jadwal latihan yang mengurangi volume pemanjatan 48 jam sebelum final. Hendra menilai justru kondisi ini bisa menjadi keuntungan bagi atlet yang mengandalkan kecepatan reaksi dan kekuatan kaki, ciri khas Desak Made dan Kadek Adi.
Selain faktor teknis, cuaca di Chamonix yang cenderung dingin—berkisar 8–12 derajat Celsius—mengharuskan pemanjat menjaga suhu tubuh lebih ketat. Terlihat dari sesi pemanasan, kedua atlet Indonesia menggunakan jaket penghangat lebih lama sebelum memulai percobaan. “Pendinginan otot itu musuh utama sprinter seperti kami,” kata Desak Made singkat.
Perspektif Pelatih dan Dukungan dari Tanah Air
Ketua Umum FPTI, Ratna Dewi, menyampaikan apresiasi melalui sambungan telepon dari Jakarta. “Hasil kualifikasi ini membuktikan bahwa sistem pembinaan berkelanjutan mulai menunjukkan hasil yang konsisten. Kami bangga, tapi perjalanan masih panjang,” ujarnya. Ratna menambahkan bahwa Kementerian Pemuda dan Olahraga telah mencairkan insentif bagi atlet yang menembus putaran final di ajang internasional, sesuai dengan Peraturan Menteri Nomor 12 Tahun 2025 tentang Penghargaan Olahraga.
Dari segi peringkat dunia, posisi Desak Made (peringkat 3) dan Kadek Adi (peringkat 9) relatif aman untuk lolos ke Olimpiade 2028, namun setiap poin dari Series Chamonix tetap diperhitungkan dalam klasemen kualifikasi. Dengan demikian, penampilan di babak 16 besar bukan sekadar mengejar medali, melainkan juga membangun seeding yang lebih menguntungkan menuju Los Angeles 2028.
Final nomor speed putri akan disiarkan langsung oleh stasiun televisi nasional dan kanal digital resmi IFSC. Dukungan masyarakat Indonesia diharapkan mengalir melalui media sosial dengan tagar #WaktunyaMerahPutih yang telah disiapkan FPTI.
Baca juga:
Comments (0)