Investor Minati Pusat Data 1,3 GW di Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa sejumlah investor global menyatakan minat serius untuk mengembangkan pusat data dengan total kapasitas mencapai 1,3 gigawatt...

Jul 12, 2026 - 11:41
0 0
Investor Minati Pusat Data 1,3 GW di Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa sejumlah investor global menyatakan minat serius untuk mengembangkan pusat data dengan total kapasitas mencapai 1,3 gigawatt di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Transformasi Digital dan Investasi Strategis di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Kamis (2/4/2026). Minat tersebut dinilai sebagai sinyal kuat kepercayaan internasional terhadap stabilitas dan potensi ekonomi digital nasional.

Menurut Airlangga, pemerintah telah menerima sejumlah proposal konkret dari konsorsium investasi yang berasal dari Amerika Serikat, Singapura, dan Tiongkok. Total nilai investasi yang ditawarkan diperkirakan menembus USD 2,1 miliar dengan rencana pembangunan di tiga kawasan strategis, yaitu Batam, Bekasi, dan Surabaya. Kapasitas kumulatif 1,3 gigawatt itu akan diwujudkan secara bertahap, dengan fase pertama ditargetkan beroperasi pada kuartal ketiga 2027.

Struktur Investasi dan Rencana Pengembangan

Dalam rapat yang dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Kepala BKPM, serta perwakilan Kementerian Keuangan, diungkapkan bahwa konsorsium tersebut terdiri dari tiga entitas utama. Pertama, perusahaan teknologi asal Silicon Valley yang telah mengoperasikan sejumlah hyperscale data center di Asia Pasifik. Kedua, sovereign wealth fund asal Singapura yang mengalokasikan dana khusus untuk infrastruktur digital ASEAN. Ketiga, konglomerasi teknologi Tiongkok yang tengah memperluas jejak cloud computing-nya di pasar negara berkembang. Masing-masing pihak mengajukan rencana pembangunan fasilitas dengan kapasitas 300 hingga 500 megawatt per lokasi, yang akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu hub pusat data terbesar di kawasan.

Airlangga secara spesifik menyebut bahwa investasi ini akan memanfaatkan lahan seluas lebih dari 120 hektare yang telah ditetapkan sebagai kawasan ekonomi digital terpadu. Di Batam, misalnya, pemerintah daerah telah menyiapkan 50 hektare di kawasan Nongsa Digital Park untuk menampung dua fasilitas baru. Sementara itu, di Bekasi, lahan seluas 45 hektare di sekitar Deltamas akan dikembangkan menjadi kompleks pusat data berstandar tier IV. Proyek di Surabaya direncanakan menempati 25 hektare di kawasan industri Gresik, yang terhubung langsung dengan jaringan kabel bawah laut.

Dukungan Kebijakan dan Insentif Fiskal

Dalam keterangan tertulis yang dirilis usai rapat, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memberikan dukungan penuh melalui paket kebijakan yang telah disusun. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan peraturan turunannya, investasi di sektor pusat data mendapat fasilitas tax holiday hingga 100 persen selama 20 tahun, bergantung pada nilai investasi. Kemenko Perekonomian juga tengah mengkaji pemberian tax allowance tambahan untuk impor peralatan server dan sistem pendingin berteknologi tinggi yang belum dapat diproduksi di dalam negeri.

Menko Perekonomian juga menyoroti penyederhanaan perizinan yang menjadi kunci daya tarik investasi. Sejak berlakunya sistem Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS-RBA), proses perizinan pusat data yang sebelumnya memerlukan 90 hari kerja, kini dapat diselesaikan dalam 14 hari kerja. “Kami pastikan tidak ada hambatan birokrasi. Semua izin mulai dari AMDAL, PBG, hingga rekomendasi teknis dari Kemenkominfo akan diproses paralel melalui PTSP Pusat,” ujar Airlangga. Ia menambahkan, koordinasi dengan Kementerian ESDM juga dilakukan untuk memastikan pasokan listrik 1,3 GW dapat dipenuhi, termasuk opsi penggunaan energi terbarukan melalui skema power wheeling yang sedang difinalisasi.

Implikasi bagi Ekonomi Digital dan Pasar Kerja

Masuknya investasi pusat data skala besar diperkirakan akan memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional. Kajian Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan yang dikutip dalam rapat menunjukkan, setiap 100 MW kapasitas pusat data mampu menyumbang peningkatan Produk Domestik Bruto sebesar 0,12 hingga 0,15 persen. Dengan total 1,3 GW, kontribusinya terhadap PDB dapat melebihi 1,5 persen dalam jangka menengah, sekaligus mendorong peningkatan rasio pajak melalui aktivitas ekonomi digital yang lebih luas.

Airlangga menekankan bahwa pengembangan pusat data bukan hanya tentang infrastruktur fisik, melainkan juga fondasi bagi transformasi digital nasional. Kehadiran fasilitas ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi digital di Asia Tenggara, sekaligus mempercepat adopsi teknologi seperti kecerdasan buatan, komputasi awan, dan Internet of Things. Dengan kapasitas 1,3 GW, Indonesia dapat menampung lonjakan kebutuhan komputasi global yang diproyeksikan meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan, berdasarkan laporan International Data Corporation (IDC).

Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini diprediksi menyerap sekitar 18.000 tenaga kerja langsung selama fase konstruksi dan 7.500 pekerja tetap setelah beroperasi, termasuk insinyur, teknisi jaringan, dan spesialis keamanan siber. Pemerintah, melalui Kementerian Ketenagakerjaan dan Kemenkominfo, akan menyelenggarakan program pelatihan terpadu untuk memastikan ketersediaan talenta lokal. Airlangga menginstruksikan agar politeknik-politeknik di sekitar lokasi proyek segera menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri pusat data, termasuk sertifikasi di bidang cooling system, power distribution, dan manajemen jaringan serat optik.

Rapat koordinasi ditutup dengan keputusan untuk membentuk satuan tugas lintas kementerian yang akan memantau realisasi investasi setiap triwulan. Satuan tugas ini diketuai oleh Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan, dan UMKM Kemenko Perekonomian, dengan anggota dari BKPM, Kemenkominfo, Kementerian ESDM, dan pemerintah daerah terkait. “Kami menargetkan groundbreaking proyek perdana pada Agustus 2026, setelah seluruh dokumen legal dan pendanaan rampung. Tidak ada alasan bagi investor untuk menunda,” tegas Airlangga menutup pernyataannya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User