Napak Tilas Gubernur Ali Sadikin dalam Pameran Arsip

Jakarta, Apaberita – Rekam jejak kepemimpinan Ali Sadikin, gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977, kembali dihidupkan melalui sebuah pameran arsip yang digelar di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (1...

Jul 12, 2026 - 18:50
0 0
Napak Tilas Gubernur Ali Sadikin dalam Pameran Arsip

Jakarta, Apaberita – Rekam jejak kepemimpinan Ali Sadikin, gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977, kembali dihidupkan melalui sebuah pameran arsip yang digelar di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (12/6). Pameran bertajuk ‘Bang Ali: Jejak Seorang Visioner’ ini menampilkan lebih dari 200 dokumen asli, foto, dan benda bersejarah milik pribadi almarhum yang disimpan keluarga.

Menggali Arsip Pribadi Sang Gubernur

Pameran yang digagas oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta bersama Yayasan Ali Sadikin ini menyuguhkan lembaran-lembaran sejarah yang jarang terlihat publik. Mulai dari naskah pidato tahun 1970-an, surat-surat pribadi dengan tokoh nasional, hingga rancangan Perda yang ia tandatangani. Kurator pameran, Dr. Irwansyah, menyatakan bahwa koleksi ini merupakan hasil penyelamatan arsip keluarga selama lebih dari dua dekade.

“Kami ingin masyarakat, terutama generasi muda, bisa melihat langsung pemikiran Bang Ali yang melampaui zamannya. Banyak kebijakan kontroversial saat itu ternyata kini menjadi fondasi penting Jakarta,” ujar Irwansyah.

Pengunjung dapat melihat surat keputusan pembebasan becak tahun 1972, peta awal proyek Taman Ismail Marzuki, hingga dokumen perencanaan rumah susun pertama di Jakarta. Semua disajikan dalam bentuk replikasi digital dan dokumen fisik di dalam etalase khusus berlapis kaca anti-UV.

Warisan Nyata di Tengah Ibu Kota

Ali Sadikin, yang akrab disapa Bang Ali, dikenal sebagai gubernur yang berani melakukan terobosan. Ia menggagas program Jakarta Bersih Manusiawi dan Tertib, membangun prasarana transportasi massal seperti Bus Kota PPD, serta merevitalisasi kawasan kumuh. Pameran ini menyoroti sejumlah pencapaian tersebut melalui foto-foto lawas yang menunjukkan wajah Jakarta sebelum dan sesudah masa kepemimpinannya.

Salah satu sudut pameran menampilkan dokumen peresmian Taman Impian Jaya Ancol pada 1966. Menurut Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI, Wahyu Haryadi, proyek Ancol adalah bukti keberanian Bang Ali mengubah kawasan maksiat menjadi ruang publik modern. “Saat itu banyak yang menentang, tapi beliau teguh. Hari ini Ancol menjadi ikon wisata yang berkontribusi besar pada PAD DKI,” jelasnya.

Tidak hanya itu, surat-surat menyurat dengan Presiden Soeharto mengenai pendanaan proyek Monas turut dipamerkan. Arsip ini mengungkap perjuangan Bang Ali mencari dana tanpa membebani APBN. “Beliau menunjukkan bahwa pemimpin daerah harus punya inisiatif, tidak sekadar menunggu pusat,” tambah Wahyu.

Respons Pengunjung dan Pemerhati Sejarah

Sejak dibuka pada pukul 09.00 WIB, antrean pengunjung sudah mengular. Mulai dari mahasiswa jurusan sejarah hingga warga yang mengaku masih merasakan dampak kebijakan Bang Ali. Rina (68), warga Menteng, mengaku terharu saat melihat foto rumah susun pertama di Tanah Abang yang ditempatinya sejak 1980.

“Saya ingat waktu itu Bang Ali datang langsung meninjau. Beliau tidak mau pembangunan hanya di atas kertas. Rumah susun itu sangat layak dan membuat hidup kami lebih baik,” kenangnya dengan suara bergetar.

Pakar sejarah dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. R. Soemantri, mengapresiasi pameran ini sebagai langkah penting membangun kesadaran sejarah publik. Menurutnya, Ali Sadikin merupakan contoh langka pemimpin transformasional yang mampu menerjemahkan gagasan besar menjadi kenyataan dalam waktu singkat. “Dua periode beliau menghasilkan perubahan yang fondasinya masih kita nikmati. Ini relevan di tengah krisis kepemimpinan saat ini,” ujar Soemantri saat diwawancarai di lokasi.

Pameran juga menyediakan sesi bedah arsip setiap sore hari dengan menghadirkan sejarawan dan mantan staf Pemprov DKI era 1970-an. Sesi ini menjadi magnet tersendiri bagi para akademisi dan peneliti.

Inovasi Digital dan Rencana Keliling

Untuk pertama kalinya, Dinas Kearsipan meluncurkan platform daring ‘Jejak Bang Ali’ yang bisa diakses publik secara gratis melalui situs resmi. Platform ini berisi ribuan arsip digital yang dapat diunduh untuk kepentingan penelitian. Kepala Seksi Akuisisi Arsip, Dian Permata, menyebutkan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Arsip Nasional RI untuk mendigitalisasi dokumen yang sudah berusia lebih dari 50 tahun.

“Kami ingin mematahkan anggapan bahwa arsip itu membosankan. Dengan digitalisasi, anak muda bisa mengakses lewat ponsel mereka dan justru menemukan inspirasi dari pemikiran Bang Ali,” ujar Dian.

Pameran ini akan berlangsung selama empat pekan, hingga 10 Juli 2025. Setelah itu, rencananya akan diadakan roadshow ke lima wilayah kota administrasi dan kota-kota lain seperti Bandung dan Surabaya. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menegaskan bahwa pihaknya akan terus menggandeng keluarga besar Ali Sadikin untuk mengumpulkan arsip-arsip lain yang masih tersimpan di rumah pribadi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User