Menlu Sugiono dan Araghchi Bahas Eskalasi Konflik Regional
Jakarta – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menerima kunjungan resmi Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, pada Kamis...
Jakarta – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menerima kunjungan resmi Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, pada Kamis (12/06/2025). Dalam pertemuan bilateral yang berlangsung tertutup selama hampir dua jam itu, kedua kepala diplomasi menggelar dialog intensif mengenai dinamika keamanan di Timur Tengah serta berbagai tantangan global yang memerlukan respons kolektif.
Pertemuan ini menegaskan kedekatan hubungan Jakarta–Teheran yang telah terjalin selama 75 tahun, sejak pembukaan hubungan diplomatik pada 1950. Di tengah situasi geopolitik yang kian kompleks, kedua pihak menilai forum konsultasi bilateral semacam ini menjadi krusial untuk menyelaraskan sikap di berbagai platform multilateral, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kerja Sama Islam.
Fokus pada Krisis Kemanusiaan di Gaza
Salah satu isu sentral yang mengemuka adalah eskalasi kekerasan di Jalur Gaza. Sugiono menyampaikan keprihatinan mendalam Indonesia atas jatuhnya korban sipil, khususnya perempuan dan anak-anak, serta menekankan pentingnya akses tanpa hambatan bagi bantuan kemanusiaan. “Indonesia tidak akan tinggal diam melihat penderitaan rakyat Palestina. Kami mengecam segala bentuk agresi yang melanggar hukum humaniter internasional dan mendesak gencatan senjata permanen,” tegas Sugiono dalam keterangan pers bersama seusai pertemuan.
Menanggapi hal itu, Araghchi mengapresiasi konsistensi sikap Indonesia dalam mendukung perjuangan bangsa Palestina. Ia menilai tekanan diplomatik dari negara-negara Asia, termasuk Indonesia, dapat memperkuat upaya menghentikan operasi militer yang terus berlangsung. “Iran percaya bahwa solidaritas negara-negara Muslim dan negara-negara Selatan adalah kunci untuk memaksa komunitas internasional bertindak lebih tegas,” ujar Araghchi.
Stabilitas Kawasan dan Peran Indonesia
Selain Gaza, kedua menlu turut membahas dinamika keamanan di Yaman, Suriah, dan Afghanistan. Sugiono mendorong agar seluruh pihak mengutamakan jalur diplomasi dan menghindari tindakan yang memperuncing ketegangan. Ia juga menawarkan peran Indonesia sebagai penjembatan dialog, mengingat rekam jejak Jakarta dalam memediasi konflik di kawasan, seperti proses perdamaian di Afghanistan dan Kamboja.
Araghchi menyambut baik tawaran tersebut. Menurutnya, posisi Indonesia yang non-blok dan memiliki hubungan baik dengan berbagai kutub kekuatan dunia menjadikannya mitra strategis untuk mendorong stabilitas. “Kami melihat Indonesia sebagai kekuatan moral yang dapat membangun konsensus di tengah rivalitas kekuatan besar,” katanya.
Dalam konteks isu nuklir, Sugiono mendorong agar perundingan mengenai program nuklir Iran kembali pada kerangka Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) dengan melibatkan semua pihak secara konstruktif. Indonesia, kata Sugiono, selalu mendukung penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai sesuai mandat Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Peningkatan Kerja Sama Bilateral
Di luar agenda politik-keamanan, kedua menlu menyepakati penguatan hubungan ekonomi dan perdagangan. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Iran pada 2024 mencapai 1,2 miliar dolar AS. Kedua pihak menargetkan peningkatan menjadi 2 miliar dolar AS dalam tiga tahun ke depan melalui diversifikasi produk dan pengurangan hambatan non-tarif.
Kerja sama di sektor energi juga menjadi sorotan. Araghchi menyatakan kesiapan Iran untuk memasok gas alam cair (LNG) dan produk petrokimia bagi industri dalam negeri Indonesia. Sementara itu, kedua negara sepakat memperluas kolaborasi di bidang pendidikan tinggi, riset bersama, dan pertukaran budaya, termasuk beasiswa bagi mahasiswa Iran di universitas-universitas Indonesia.
Komitmen Bersama Hadapi Tantangan Global
Pertemuan juga menyentuh isu perubahan iklim dan terorisme. Sugiono menekankan pentingnya solidaritas negara berkembang dalam menghadapi dampak pemanasan global yang tidak proporsional. Indonesia dan Iran akan memperkuat koordinasi di forum Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim untuk mendorong komitmen negara maju dalam pendanaan iklim.
Di akhir pertemuan, kedua menlu menandatangani nota kesepahaman mengenai mekanisme konsultasi politik bilateral secara rutin dua kali setahun. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat respons terhadap krisis yang muncul serta memperdalam rasa saling percaya antara Jakarta dan Teheran. “Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, sahabat sejati adalah mereka yang tetap berkomitmen pada dialog dan kerja sama,” pungkas Araghchi.
Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia terus memainkan diplomasi aktif dan berprinsip, tidak hanya di tataran regional Asia Tenggara, tetapi juga dalam percaturan politik Timur Tengah dan global.
Comments (0)