Mengukur Kekayaan Laut Indonesia

Jakarta, Apaberita.com – Indonesia selalu bangga menyebut dirinya sebagai negara maritim. Lebih dari dua pertiga wilayahnya berupa lautan, dengan garis pantai sepanjang hampir 100 ribu kilometer,

Jul 07, 2026 - 23:15
0 0
Mengukur Kekayaan Laut Indonesia

Jakarta, Apaberita.com – Indonesia selalu bangga menyebut dirinya sebagai negara maritim. Lebih dari dua pertiga wilayahnya berupa lautan, dengan garis pantai sepanjang hampir 100 ribu kilometer, lebih dari 17 ribu pulau, dan kekayaan hayati laut yang termasuk terbesar di dunia. Laut bukan hanya ruang yang menghubungkan Nusantara, tetapi juga sumber pangan, energi, perdagangan, hingga identitas kebangsaan. Namun di balik berbagai keunggulan tersebut, tentu ada rasa penasaran, berapa sebenarnya nilai kekayaan laut Indonesia?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya jauh lebih kompleks daripada sekadar menghitung produksi ikan, nilai ekspor, atau investasi di sektor kelautan. Selama puluhan tahun, pembangunan kelautan lebih banyak mengukur apa yang dapat diambil dari laut daripada apa yang sesungguhnya diberikan laut kepada kehidupan. Padahal, jauh sebelum menghasilkan ikan yang ditangkap nelayan atau menjadi destinasi wisata bahari, laut telah menyediakan beragam jasa ekosistem yang menopang kehidupan manusia.

Jasa Ekosistem yang Sering Terabaikan

Terumbu karang menjadi habitat bagi ribuan spesies ikan dan biota laut yang mendukung produktivitas perikanan. Padang lamun menjadi tempat pembesaran berbagai biota sekaligus menyimpan karbon biru yang berperan dalam mitigasi perubahan iklim. Ekosistem pesisir melindungi garis pantai dari abrasi dan gelombang, menjaga kualitas perairan, serta menopang kehidupan jutaan masyarakat pesisir. Sayangnya, kontribusi vital ini jarang tercermin dalam neraca pembangunan nasional.

Menurut laporan Apaberita.com, para ahli kelautan mendorong agar perhitungan kekayaan laut tidak hanya berfokus pada nilai ekonomi langsung, tetapi juga mengintegrasikan valuasi jasa ekosistem. Dengan pendekatan ini, nilai hutan mangrove misalnya, tidak hanya dihitung dari kayunya, melainkan dari kemampuannya menahan abrasi, menyaring polutan, dan menjadi tempat pemijahan biota laut.

"Kita selama ini menghitung ikan yang ditangkap, tapi tidak menghitung terumbu karang yang menghasilkannya. Ini membuat kita bisa kehilangan aset tanpa sadar," ujar seorang peneliti kelautan yang diwawancarai Apaberita.com.

Mengubah paradigma pengukuran ini menjadi kunci agar pengelolaan laut Indonesia lebih berkelanjutan. Ketika nilai penuh dari jasa ekosistem dimasukkan dalam kebijakan, maka investasi dalam konservasi akan terlihat sebagai langkah ekonomi yang menguntungkan, bukan sekadar biaya. Apaberita.com akan terus memantau perkembangan isu strategis ini demi masa depan bahari Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Editor Olahraga. Editor sepak bola, MotoGP, dan timnas.

Comments (0)

User