Menbud Fadli Zon Angkat Bicara soal Viral Gunung Kawi: Cermin Keragaman Budaya
Jakarta – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait fenomena di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur, yang tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Menbu
Jakarta – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait fenomena di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur, yang tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Menbud menilai bahwa peristiwa yang viral tersebut merupakan bagian dari keragaman budaya dan kepercayaan yang hidup di Indonesia.
Kawasan Gunung Kawi mendadak menjadi sorotan publik setelah didatangi oleh figur publik Marcel Radhival, yang lebih dikenal dengan nama Pesulap Merah. Dalam lawatannya tersebut, Pesulap Merah mengunggah konten yang menunjukkan rasa penasarannya terhadap praktik-praktik spiritual yang beredar di lokasi itu, termasuk dugaan adanya ritual pesugihan dan penggunaan tumbal yang selama ini menjadi mitos urban.
Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, Pesulap Merah tidak sekadar berkunjung, melainkan juga melakukan pendalaman informasi secara langsung dengan mewawancarai juru kunci (kuncen) setempat. Dialog tersebut mengungkap berbagai sisi lain dari Gunung Kawi yang sebelumnya hanya diketahui oleh kalangan terbatas, sehingga memicu gelombang rasa ingin tahu publik secara masif dan memunculkan perdebatan di media sosial.
"Fenomena di Gunung Kawi ini menunjukkan betapa kayanya khazanah budaya dan kepercayaan lokal kita. Ini adalah bagian dari keragaman Indonesia yang harus kita sikapi dengan bijak," ujar Fadli Zon menanggapi viralnya peristiwa tersebut.
Menbud menekankan pentingnya melihat fenomena semacam ini dari kacamata budaya dan antropologi, bukan semata-mata dari sisi sensasional. Menurutnya, kepercayaan dan tradisi yang tumbuh di masyarakat merupakan warisan leluhur yang perlu dipahami dalam konteks sejarah dan sosial yang lebih luas, tanpa harus terjebak pada penghakiman sepihak.
Pernyataan Menbud ini menjadi penyeimbang di tengah ramainya spekulasi publik yang terbelah. Sebagian pihak menganggap kunjungan Pesulap Merah berhasil membongkar tabir praktik-praktik transaksional berbau mistis, sementara sebagian lainnya menilai pendekatan tersebut terlalu menyederhanakan kompleksitas kepercayaan lokal yang telah berurat-berakar selama ratusan tahun di lereng Gunung Kawi. Hingga kini, diskursus mengenai batas antara tradisi, kepercayaan, dan eksploitasi terus bergulir di tengah masyarakat.
Comments (0)