Jakarta — IHSG Anjlok 7,9 Persen dengan Transaksi Rp20 Triliun
Pasar modal Indonesia kembali dihantam gelombang tekanan jual yang dahsyat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (8/4/2025) dibuka la
Pasar modal Indonesia kembali dihantam gelombang tekanan jual yang dahsyat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (8/4/2025) dibuka langsung terperosok dan tidak mampu bangkit hingga akhir sesi, mencatat penurunan tajam sebesar 7,9 persen. Aksi jual massif yang terjadi sepanjang hari ini mengakibatkan nilai transaksi membengkak hingga menembus Rp20 triliun, menandakan kepanikan luar biasa di kalangan investor.
Kronologi Keterpurukan IHSG
Begitu bel pembukaan berbunyi pukul 09.00 WIB, layar monitor para pelaku pasar langsung didominasi warna merah pekat. Tidak ada fase konsolidasi atau upaya bertahan yang berarti. Indeks langsung terperosok, menghapus akumulasi kenaikan yang sempat diraih beberapa hari sebelumnya. Sepanjang sesi I, tekanan jual terus menggila tanpa ada tanda-tanda akan mereda. Berdasarkan pantauan Apaberita, hingga istirahat siang, IHSG sudah kehilangan lebih dari 5 persen poinnya.
Memasuki sesi II pukul 13.30 WIB, sempat muncul secercah harapan. Beberapa saham unggulan bangkit dari level bawah, mendorong indeks untuk melakukan technical rebound. Namun, momentum tersebut sangat rapuh. Tidak sampai satu jam, gelombang jual lanjutan kembali menyapu bursa. Pelaku pasar asing dan domestik sama-sama terlihat melepas portofolionya, sehingga IHSG kembali terjerembap dan memperdalam kerugian.
- Pembukaan: IHSG dibuka langsung anjlok, memotong level psikologis. Tak ada amunisi beli yang mampu membendung arus keluar modal.
- Pukul 10.00 WIB: Penurunan menembus 4 persen. Saham-saham perbankan dan teknologi menjadi pemberat utama indeks.
- Pukul 12.00 WIB: Sesi I berakhir dengan IHSG terpangkas lebih dari 5 persen. Investor ritel mulai melakukan aksi jual panik.
- Pukul 14.00 WIB: Indeks sempat memangkas kerugian menjadi minus 3,8 persen, tetapi kekuatan beli sangat tipis.
- Pukul 15.30 WIB: Tekanan kembali menghantam dan indeks terjun melewati level terendah hariannya, memicu penutupan otomatis di beberapa saham.
- Pukul 16.00 WIB: Penutupan akhir: IHSG sempurna ambles 7,9 persen, menjadikannya salah satu hari perdagangan paling kelam dalam setahun terakhir.
Volume dan Nilai Transaksi Tembus Rekor
Kepanikan yang melanda lantai bursa tercermin jelas dari data transaksi. Sepanjang hari, tercatat nilai transaksi sebesar Rp20,41 triliun, angka yang jauh di atas rata-rata harian normal sekitar Rp10—12 triliun. Volume perdagangan juga membengkak menjadi 22,65 miliar saham, berpindah tangan dalam 1,43 juta kali transaksi. Frekuensi transaksi yang sangat tinggi ini menunjukkan betapa cepatnya para investor melepas kepemilikan, memicu likuiditas ekstrem yang sangat tidak sehat bagi stabilitas pasar.
Sumber di lantai bursa menyebutkan bahwa seluruh sektor mengalami koreksi telak. Tidak ada satupun saham unggulan yang selamat dari gelombang merah. Indeks sektor properti, infrastruktur, dan konsumer menjadi yang paling parah terpukul, dengan penurunan di atas 10 persen. Bahkan, beberapa emiten papan atas menyentuh batas auto-rejection bawah, sehingga perdagangan mereka dihentikan sementara.
Respons Pelaku Pasar dan Dampak Kepercayaan
Sejumlah analis yang dihubungi menjelaskan bahwa penurunan drastis ini terutama dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi Tiongkok menjadi pemicu utama arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi domestik, minimnya katalis positif dari rilis data ekonomi terbaru membuat investor kehilangan pegangan.
Seorang manajer investasi senior yang enggan disebutkan namanya mengatakan, “Hari ini bukan hanya soal angka, tapi juga soal psikologi. Ketika IHSG breakdown di level support kunci, semua orang menjual. Tidak ada yang berani menangkap pisau yang jatuh.”
Meskipun nilai transaksi tampak fantastis, struktur perdagangan hari ini justru mencerminkan distribution besar-besaran, bukan akumulasi. Hal ini berpotensi memperpanjang masa pemulihan, karena kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia diperkirakan akan memerlukan waktu untuk pulih. Otoritas bursa belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait intervensi apa pun, namun pelaku pasar sudah mulai memperhitungkan kemungkinan pembatasan short selling atau kebijakan stabilisasi lainnya dalam waktu dekat.
Secara teknikal, dengan penutupan yang begitu dalam, IHSG kini menguji level support multi-tahun. Jika tekanan berlanjut di sesi-sesi mendatang, tidak menutup kemungkinan indeks akan memasuki fase bearish lanjutan. Namun, bagi investor jangka panjang, koreksi semacam ini kerap dianggap sebagai peluang akumulasi di harga miring—meski tetap memerlukan kewaspadaan tinggi mengingat volatilitas yang belum reda.
Comments (0)