Marsinah, Buruh Tangguh, Resmi Menyandang Gelar Pahlawan Nasional

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto, dalam upacara peringatan Hari Pahlawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11), secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada almarhumah Marsinah....

Jul 12, 2026 - 19:06
0 0
Marsinah, Buruh Tangguh, Resmi Menyandang Gelar Pahlawan Nasional

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto, dalam upacara peringatan Hari Pahlawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11), secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada almarhumah Marsinah. Penganugerahan ini menegaskan pengakuan negara atas perjuangan buruh perempuan asal Sidoarjo yang menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan di era Orde Baru.

Berdasarkan Keputusan Presiden yang dibacakan Menteri Sosial, Marsinah kini tercatat sebagai pahlawan ke-201, menempati posisi khusus sebagai pahlawan dari kalangan buruh pabrik. Gelar tersebut disematkan langsung oleh Presiden kepada ahli waris, yang hadir mewakili keluarga besar Marsinah di ruang upacara yang dihadiri jajaran menteri, pimpinan lembaga negara, dan tamu kehormatan.

Dari Lantai Pabrik Menuju Lembaran Sejarah

Marsinah, lahir di Nganjuk pada 10 April 1969, bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya, sebuah pabrik arloji di Sidoarjo. Pada awal 1993, ia memimpin aksi mogok ratusan buruh yang menuntut kenaikan upah sesuai aturan pemerintah. Tepat pada 3 Mei 1993, Marsinah diculik dan tiga hari kemudian jasadnya ditemukan di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, dengan tanda-tanda kekerasan berat.

Pengusutan kasus ini menjadi salah satu sorotan utama gerakan pro-demokrasi. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) serta serikat buruh independen saat itu terus menekan pengungkapan dalang pembunuhan. Meski seorang mandor dan beberapa pihak pernah diadili, kalangan aktivis menilai keadilan substantif belum pernah terwujud. Nama Marsinah lantas menjadi ikon keberanian buruh perempuan Indonesia dan sering diangkat dalam drama, film, serta seminar ketenagakerjaan.

Proses Panjang Menuju Gelar Pahlawan

Usulan pemberian gelar pahlawan bagi Marsinah telah mengemuka sejak awal reformasi, namun baru pada tahun ini mendapat persetujuan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan. “Ini adalah keputusan yang lahir dari perenungan panjang dan kajian historis yang mendalam. Marsinah bukan sekadar korban; ia adalah pejuang yang berani menuntut hak pada masa yang penuh represi,” ujar Menko Polhukam dalam keterangan tertulis setelah rapat Dewan Gelar pada Agustus lalu.

Presiden Prabowo, dalam pidato Hari Pahlawan, menyatakan, “Marsinah adalah cermin keberanian perempuan Indonesia. Ia mengajarkan bahwa suara kebenaran tidak bisa dibungkam dengan kekerasan. Penganugerahan ini menjadi momentum bagi bangsa untuk terus menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat, termasuk para pekerja yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.” Kutipan tersebut langsung disambut tepuk tangan hadirin.

Respons Serikat Buruh dan Keluarga

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) menyambut baik keputusan tersebut. Presiden KSPI menegaskan, “Gelar pahlawan bagi Marsinah adalah kemenangan historis gerakan buruh. Ini menandai babak baru pengakuan negara bahwa buruh adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan kemerdekaan dan keadilan sosial.”

Pihak keluarga, melalui juru bicara yang mendampingi saat penyerahan, menyampaikan rasa haru dan syukur. “Keluarga besar berterima kasih kepada Presiden dan seluruh pihak yang telah mengupayakan gelar ini. Kami berharap semangat Marsinah terus hidup dan menginspirasi anak-anak muda untuk berani membela kebenaran,” ucap Winarsih, adik kandung Marsinah.

Sejarawan Universitas Indonesia, Dr. Andi Rahman, menilai penganugerahan ini memiliki arti penting bagi penulisan ulang sejarah perburuhan Indonesia. “Selama ini pahlawan nasional didominasi tokoh militer dan diplomat. Kehadiran Marsinah membuka jalan bagi pengakuan terhadap pejuang rakyat dari akar rumput yang kerap terpinggirkan dalam narasi resmi,” jelasnya.

Upacara penganugerahan diakhiri dengan penandatanganan piagam dan penyerahan secara simbolis. Pemerintah juga menginstruksikan agar nama Marsinah diabadikan sebagai nama salah satu gedung pusat pelatihan kerja di Sidoarjo dan masuk dalam kurikulum pendidikan sejarah tingkat menengah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User